Rabu, 26 Januari 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Kembali Aborsi

Oleh Admin Hargo , dalam DI'SWAY , pada Jumat, 3 Desember 2021 | 10:35 AM Tag: , , ,
  Kembali Aborsi - DI'SWay

Oleh : Dahlan Iskan

EMPAT tahun setelah menjanda, Jane Roe hamil lagi. Kali ketiga. Dia ingin menggugurkan kandungannyi itu. Dua anak terdahulu sudah cukup.

Tapi, UU setempat melarang aborsi. Kecuali untuk kehamilan akibat pemerkosaan atau inses. Selebihnya akan dianggap pembunuhan.

Nama Jane Roe hari-hari ini ngetop lagi di Amerika Serikat (AS). Padahal, dia sudah meninggal dunia tiga tahun lalu –atau, agar tidak dibilang hoaks: 3,9 tahun lalu.

Nama Jane Roe dibicarakan lagi karena Mahkamah Agung bersidang lagi: 1 Desember kemarin. Yakni, untuk membicarakan kasus yang terkait dengan gugatannyi di tahun 1970.

Jane menang waktu itu: aborsi diperbolehkan di seluruh AS. Tapi, tetap saja yang menentang aborsi terus bergerak.

Di Mississippi lahir perda baru: 2018. Aborsi dilarang di negara bagian itu. Maka, Mississippi dianggap melanggar UU Tahun 1973: aborsi diperbolehkan di seluruh AS.

Perda baru itu memang lahir di zaman Presiden Donald Trump: aborsi dilarang kalau umur janin sudah lebih dari 15 minggu –3,5 bulan. Tanpa kecuali. Pun kalau kehamilan itu akibat pemerkosaan atau inses.

Perda itulah yang diadukan ke Mahkamah Agung: dianggap melanggar putusan Mahkamah Agung Tahun 1973 –yang membolehkan aborsi, sepanjang janin belum melebihi 24 minggu.

Gerakan antiaborsi memang tidak pernah padam di AS. Tapi, gerakan itu mendapatkan bensin ketika Donald Trump menjadi presiden. Trump sendiri yang mendukung gerakan pro-life.

Negara Bagian Texas pun mengikuti jejak Mississippi: 1 September lalu. Namun, bagi Texas, itu hanya balik kucing. Dulunya, sebelum 1973, Texas juga keras: antiaborsi.

Jane Roe-lah yang melawan perda Texas kala itu. Yakni, ketika dia hamil yang ketiga itu –entah dengan siapa itu. Waktu itu umur Jane baru 22 tahun. Dia sudah kawin saat berumur 16 tahun: dengan Elwood McCorvey.

Di zaman itu, pun di AS, biasa sekali umur 16 tahun sudah kawin. Dan umur 19 tahun Jane sudah menjanda.

Jane memutuskan untuk menggugurkan bayinyi yang ketiga itu. Tekadnyi begitu bulat. Sampai sempat mengaku akibat diperkosa. Tapi, dia tidak memiliki argumen yang kuat.

Akhirnya Jane menempuh jalan hukum. Dia dibantu dua pengacara. Dia ajukan gugatan ke pengadilan distrik. Lalu, kasasi ke Mahkamah Agung.

Proses peradilan itu tidak bisa cepat. Kehamilannyi tidak bisa diperlambat: Jane melahirkan. Anak ketiga tersebut dia serahkan ke orang lain: diadopsi.

Gugatan hukum Jane Roe itu menjadi pembicaraan nasional. Waktu itu. Berbulan-bulan. Bertahun-tahun. Perkara tersebut, dalam literatur, disebut Roe vs Wade. Yang terakhir itu adalah nama hakim di Texas yang mengadili gugatan tingkat pertama dulu.

Jane Roe sendiri bukan nama asli wanita itu: Norma Leah Nelson. Setelah kawin, nama lengkapnyi: Norma Leah Nelson McCorvey.

Ketika Mahkamah Agung menyidangkan perkara tersebut, tinjauan ilmiahnya sangat dalam. Terutama menyangkut kapan janin itu dianggap mulai bernyawa.

Akhirnya diputuskan: boleh aborsi sebelum janin berumur 24 minggu. Itu didasarkan pada tinjauan ilmiah tersebut.

Tentu, bagi yang pro-life, dasarnya adalah moral dan agama. Maka, upaya menganulir UU itu terus dilakukan. Di mana-mana. Yang membela juga tidak kalah gigihnya.

Maka, sejak 1973 itu masyarakat AS terbelah dua: pro dan antiaborsi.

Mississippi sendiri –yang selalu dikuasai Republikan– sebenarnya mencoba mengakomodasi kompromi.

Karena itu, di Mississippi, aborsi hanya dilarang setelah janin berusia 15 minggu. ”Apakah 15 minggu kurang cukup waktu untuk memikirkan aborsi atau tidak?”  ujar pembela perda baru itu.

Sebenarnya sudah sering UU Aborsi tersebut diminta ditinjau ulang. Tapi selalu kalah: konstitusi menjamin hak individu di AS. Mereka juga menampilkan hasil penelitian: wanita di Mississippi lebih baik setelah ada UU Aborsi 1973. Saya mencari hasil penelitian itu. Tidak ketemu.

Bahwa kini UU 1973 tersebut dibicarakan lagi, itu karena MA kini dikuasai hakim konservatif. Skornya 7-2. Atau 6-3. Trump sempat memasukkan tiga hakim agung baru. Semua konservatif. Kebetulan di zaman Trump memang lagi ada 3 kursi yang  lowong.

Sembilan hakim agung di AS tidak bisa pensiun atau dipensiunkan. Itu jabatan seumur hidup. Kursi tersebut baru kosong kalau ada yang meninggal atau mengundurkan diri.

Maka, hari-hari ini nama Jane Roe kembali dibicarakan. Bisa ada tiga pilihan keputusan baru nanti: mempertahankan UU Jane Roe itu, merevisinya, atau menyerahkannya ke  negara bagian masing-masing.

Seandainya diserahkan ke daerah masing-masing, berarti itu kembali ke zaman sebelum 1973. Ada negara bagian yang melarang aborsi. Ada pula yang membolehkan. Yang terakhir itu jumlahnya jauh lebih banyak.

Pun dahulu. Ketika California membolehkan dan Texas melarang. Para wanita Texas berbondong ke Los Angeles. Untuk menggugurkan kandungan di sana. Sampai-sampai ada istilah populer waktu itu: penerbangan khusus bagi yang ingin aborsi.

Jane sendiri, setelah melahirkan anak yang ketiga, tidak kawin lagi. Dia memilih hidup bersama dengan orang yang tidak mungkin membuatnyi hamil: Coonie Gonzales. Pasangan itu awet: 13 tahun. Jane banyak berubah: termasuk pindah dari Katolik ke Protestan.

Perubahannyi yang paling besar adalah: dia menjadi aktivis gerakan antiaborsi. Sampai meninggalnyi. (Dahlan Iskan)

Komentar Dahlan Iskan di Artikel Berjudul Roda Dunia

Amat
Ad4 emp4t temb4k4n 4ngk4 4 p4gi ini. N4mun h4ny4 And4 y4ng P4ing tep4t. Emp4t mem4ng sus4h did4p4t. Sel4m4t!

Jo Neka
Kalau terus di marahi istri coba duduk bersama dan bicara dari hati ke hati..kalau tidak mempan cobalah dengan tidur bersama

Fadil Wira Dwi B
Seandainya semua yg bersalah masuk penjara, tentu tidak ada laki-laki yg di luar penjara, dan tidak ada perempuan di dalam penjara. Di mata perempuan, laki-laki selalu salah..

Admin Palsu
Dan kasus ini harus jd pelajaran pnting buat semua hakim,Karena hakim memang berat..  Sangat pantas dg hadist HR. Abu Dawud, 2 dari 3 hakim masuk neraka.  1. Tahu kebenaran/ilmu tapi tdk memutus perkara denganya=Neraka2. Tidak tahu kbenaran/ilmu tp memutus perkara dgnya= Neraka3. Tahu kebenaran/ilmu dan memutus perkara denganya=syurga. Belum lagi doa atau semacam laknatan dari orang yg diputus dg tidak adil krn dia menjadi org yg terdholimi..dan doa org terdholimi sangat2 mustajab.

Udin Salemo
Saya dukung 100%. Orang yang berburu pertamax terlibat persaingan keras. Juga mereka harus bangun sebelum pukul 04.00 wib. Pukul 04.00 wib bagi kami di Sumatera lagi enak enaknya tidur.

Rendra Ulul Balady
Pertamax baiknya otomatis jadi komentar pilihan. Melalui jalur prestasi selain jalur suka suka

Leong Putu
Hahahaha…. Bung @Johan bisa aja… Yang jelas selama aktifitas itu gak boleh guyonan….hahaha..bisa buyar acaranya… apalagi waktunya terbatas karena khawatir anak terbagun dan ketok2 pintu minta diantar pipis. Tapi.. Dalam keluarga atau pernikahan tentu seks itu penting. Walau bukan yang utama. Dalam pernikahan, saya mengenal istilah segitiga air mata (doloe pernah saya tolis). Yang terdiri dari : -Cinta -Seks -Uang Kalau salah satunya saja tak terpenuhi, lambat laun akan ada air mata dalam pernikahan. Contoh : 1. hanya ada cinta + seks saja. Saya yakin setelah bulan madu selesai. Akan ada yang jadi bulan bulanan. Karena tak selamanya tai kucing rasa coklat. wkwkwk 2. kalau hanya ada seks + uang saja. Tanpa cinta. Apalagi Cintanya sudah diberikan kepada yg bukan pasangannya. Pasti ada yang tersakiti. Ada air mata. 3. Dan kalau hanya ada Cinta + Uang saja ? Tanpa seks…? wkwkwk… coba tanya bapak2 yang normal, bisa bertahan berapa lama tanpa aktifitas seksual ? Tentu ada faktor eksternal dan internal lain yang mempengaruhi. Sekian edisi komentar keminter hari ini. Dari pada saya nulis ngalor ngidul tak bermakna. Lebih baik saya nulis komentar ngetan ngulon yang tak bisa dipahami. wkwkwkwk.. Salam, Sehat selalu…..

Johan
Pak pry, dalam memandang kehidupan, pedoman saya seperti memandang lambang Taoisme. Ada 2 bagian yg berbeda warna, hitam dan putih, terus di warna yg dominan hitam ada setitik putih, dan yg dominan putih ada setitik hitam. Itulah lambang alam semesta, lambang kehidupan, bahwa di dalam kehidupan yg sangat buruk dan menyedihkan itu tetap ada setitik hal yg menyenangkan, begitu juga sebaliknya. Seperti kehidupan pak Marto yg sangat menyedihkan, dan pak Pry berperan sebagai titik putih yg mengisi hitamnya hidup pak Marto, sehingga menciptakan keseimbangan. Maka penting, menempatkan diri, memandang hidup ini tidak hanya satu sisi, niscaya perasaan kita akan lebih ringan, sedih tapi tidak terbawa perasaan, senang tapi tidak melampaui batas. Selamat siang. Salam

Pryadi Satriana
“Pak…, Pak…”. ” … ” (hening) “PAK… , PAK …” (LEBIH keras lagi) ” … ” (hening) “PAK…, BAPAK…” (SEMAKIN keras, dg agak ‘gak enak’ takut “terlalu keras”) ” Manggil saya?” (laki2 tua berpakaian lusuh ITU menoleh, memandang penuh keraguan …). INI kejadian sktr 40 th yll., masih segar di ingatan, spt baru kemarin. Bapak sepuh itu panggilannya ‘Pak Marto’, sebatang kara hidup di ‘rumah kardus’, menggantungkan pada belas kasih orang, tanpa menengadahkan tangan, hanya meletakkan baskom dialasi kain di gang sempit itu. “Suwun,” ujarnya lirih, setiap kali ada tangan terulur. “Bapak hidup dg siapa?” “Sendiri, anggota klg sdh meninggal semua.” “Nggak tinggal dg sanak famili?” “Ndhak, ngrepoti.” “Dulu Bapak kerja apa?” “Buruh macul, sampai 70 th, ndhak kuat lagi.” “Apa yg Bapak inginkan saat ini?” “NDHAK ADA.” Ya, Tuhan. Jawaban Pak Marto ini mengingatkanku pada ungkapan dalam puisi “Derai-derai Cemara”-nya Chairil Anwar: ” Hidup hanya menunda-nunda kekalahan.” Ah…, betapa pilunya… “Apa yg membuat Bapak menderita?” “Sakit, ndhak bisa makan & minum, minum air putih aja susah…”. Aduh…, saya jd tercenung sejenak, lalu melanjutkan,” Yang membuat senang?” “Ada yg memberi obat, bisa makan & minum lagi…”. ” Sehari makan berapa kali?” “Sekali, kadang ya dua kali …” “Makan tiap hari?”, tanya saya hati2. ” Bisa ndhak makan 2-3 hari.” Ada yg “terkoyak” mendengar ITU. Para sedulur, saya terus menuliskan ini sambil terisak, pikiran & perasaan ” kembali” ke “ngobrol dg Pak Marto” waktu itu … . Obrolan di warung sambil makan siang itu berlangsung tak lebih 30 menit, tp dampaknya seumur hidup! Saya belajar banyak dari Pak Marto, yg waktu itu menolak dibungkuskan makanan atau pun kue utk nanti sore/malam. “INI sdh cukup,” kata beliau, “Sudah bertahun-tahun ndhak ada yg mengajak saya ngobrol,” Pak Marto menambahkan. Ada yg “tersayat” lagi dalam diri INI … Rest in peace, Pak Marto. Mugi2 Gusti Allah amberkahi panjenengan di “alam sana.” INI mengingatkan saya: “Saat mengalami derita, engkau tidak sendirian.” Sehat selalu semuanya. Salam.

(Visited 23 times, 1 visits today)

Komentar