Kamis, 7 Juli 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Kemenag Dalami Kasus Petugas Haji Bodong

Oleh Berita Hargo , dalam Kabar Nusantara , pada Kamis, 13 Oktober 2016 | 13:13 Tag:
  

Hargo.co.id JAKARTA – Kementerian Agama (Kemenag) kecolongan dalam pengelolaan petugas haji. Muncul laporan tentang petugas haji bodong yang bebas keluar-masuk hotel di Makkah.

Dia menawarkan jasa titip pembayaran dam (denda) dan haji badal.

Irjen Kemenag Mochammad Jasin menceritakan kejadian yang berpotensi merugikan jamaah itu. Dia menjelaskan, kasus tersebut bermula ketika ada kunjungan pengawasan haji dari unsur DPR.

Umumnya, seluruh rombongan mendapat ID card atau tanda pengenal resmi dari Kemenag. Ternyata, tanda pengenal itu berpindah tangan kepada orang lain.

”Berpindah tangan karena dicuri atau kesengajaan, itu sedang kami dalami,” jelasnya.

Muncul dugaan bahwa petugas haji abal-abal tersebut adalah tenaga musiman (temus). Umumnya, temus adalah orang Indonesia yang sudah bermukim di Arab Saudi.

Penindakan terhadap temus yang menyaru sebagai petugas haji itu bukan kewenangan Itjen Kemenag. Apalagi, secara kepegawaian, temus bukan PNS Kemenag.

Berbekal ID card itu, petugas haji abal-abal tersebut bebas melenggang di hotel-hotel tempat jamaah menginap. Kemudian, dia menawarkan jasa titip pembayaran dam.

Besarannya bervariasi, sesuai banyaknya pelanggaran ritual haji yang dilakukan. Selain itu, petugas bodong tersebut menawarkan jasa haji badal.

”Di Indonesia saja, tarif haji badal Rp 7 juta per orang,” kata mantan komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu.

Jasin meluruskan, untuk haji badal, satu orang hanya boleh dititipi satu orang. Tidak boleh satu orang membadalkan dua orang atau lebih.

Yang dilakukan petugas haji palsu itu jelas tidak sesuai aturan karena menerima titipan haji badal dari banyak nama. Ke depan, aturan pemberian tanda pengenal petugas haji diperketat.

Anggota Komisi VIII DPR Sodik Mudjahid menuturkan, Kemenag seharusnya disiplin soal petugas haji. Dengan ditemukannya petugas haji abal-abal yang berhasil masuk kamar hotel jamaah, artinya pengawasan Kemenag lemah.

”Seharusnya tanda pengenalnya dibuat sebaik-baiknya supaya tidak bisa dipakai orang lain,” ucap dia. Sodik menuturkan, urusan petugas haji harus dikawal.

Mulai perekrutan sampai pengawasan saat bekerja di lapangan. Menurut dia, Kemenag telah kecolongan atas kejadian itu.(jpg/hargo)

(Visited 2 times, 1 visits today)

Komentar