Selasa, 24 Mei 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Kemenpar Serius Perbanyak Guide Berbahasa Mandarin

Oleh Berita Hargo , dalam Kabar Nusantara , pada Jumat, 2 September 2016 | 11:51 Tag: ,
  

Wonderful Indonesia

Hargo.co.id JAKARTA – Ditengah kesibukan mengutak-atik deregulasi kepariwisataan, tiap bulan hampir dua tiga kali Menpar Arief Yahya mengunjungi Pulau Dewata Bali. Entah membuka festival, pesta kesenian, MICE atau sekedar berdiskusi hangat dengan pelaku bisnis Pariwisata di sana. Terakhir, di Sanur Village Festival ke-11, tanggal 24-28 Agustus 2016, pekan lalu.

“Karena Bali adalah gapura pariwisata Indonesia, 40% wisman masuk melalui Ngurah Rai Airport,” sebut Arief Yahya, Menteri Pariwisata ke-7 Republik Indonesia itu.

Tanpa harus diucapkan dengan kata-kata, itulah bentuk komitmen dan perhatian Kemenpar terhadap pundi-pundi wisata di tanah air. Karena itu, hal-hal yang berpotensi menjadi bottlenecking dalam memajukan destinasi Bali pasti ditangani dengan cepat.

Terutama yang menyangkut 3A, atraksi, akses dan amenitas. Termasuk ekses atas “banjir turis Tiongkok” yang belakangan sangat terasa di seluruh penjuru dunia, pun juga di Bali.

“Saya belum lama berkunjung dalam rangkaian promosi Wonderful Indonesia di Osaka Jepang, Seoul Korea, Singapore, Sydney dan Melbourne Australia.

Hampir semua destinasi, dipenuhi turis Tiongkok. Dimana-mana. Masuk akal, karena ada 120 juta outbound China tahun 2015, dan tahun 2016 ini naik lagi. Di Bali pun begitu, yang dulu Bali didominasi wisman Australia, tahun 2016 ini sepertinya bakal tergeser oleh wisman Tiongkok,” kata Arief Yahya.

Memang, eksesnya tetap ada. Misalnya, jumlah guide yang berbahasa Mandarin, masih kurang. Dan itu adalah tantangan yang harus dengan cepat dikejar, agar masa-masa “jet lag” soal komunikasi itu segera teratasi dengan baik. “Di Shanghai pekan lalu, problem itu juga dirasakan oleh tour operator dan tour agency di Tiongkok, problem bahasa.

Bedanya dengan Thailand, mereka juga belajar dan sudah mulai banyak yang bisa berkomunikasi Mandarin. Lagi-lagi, ini tantangan kita untuk mengejar ketinggalan dalam hal guide yang bisa berbahasa Mandarin,” kata Mantan Dirut PT Telkom ini.

Lalu, apakah persoalan guide yang bahasa Mandarin itu tidak pernah terjadi di Thailand? Tidak. Mereka juga menghadapi problem yang sekarang ini sedang dialami oleh Bali. Banyak wisman Tiongkok, kekurangan guide berbahasa Mandarin.

Apakah Kemenpar mengetahui kalau ada problem itu? Ketua Pokja Percepatan 10 Top Destinasi, Hiramsyah Sambudhy Thaib dalam sebuah acara di Bali, 31 Agustus lalu menjelaskan dengan gamblang, bahwa Kemenpar sangat menyadari hal itu.

(Visited 5 times, 1 visits today)

Laman: 1 2


Komentar