Senin, 17 Januari 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Kenali 3 Gangguan Kecemasan pada Milenial dan Gen Z

Oleh Tirta Gufrianto , dalam LifeStyle , pada Sabtu, 4 Desember 2021 | 04:05 AM Tag: , , ,
  Ilustrasi kaum milenial mengalami kecemasan (ILUSTRASI DIPERAGAKAN NADINE ANNABEL - ALFIAN RIZAL/JAWA POS)

Hargo.co.id – Untuk terus bisa kreatif, anak muda tak hanya sehat fisik, tetapi juga harus sehat mental. Generasi muda dalam mengembangkan potensi diri menuju stabilitas mental dalam menghadapi segala perubahan dan tantangan hidup pasca pandemi. Di era pandemi, stres dan masalah kesehatan mental tak bisa dihindari. Gangguan kecemasan bisa dialami siapa saja.

Dalam diskusi bersama TALKINC bertema ‘Unlocking Limitless Imagination’ dijelaskan bahwa kesehatan mental merupakan salah satu isu yang belum terselesaikan di tengah masyarakat tingkat global maupun nasional. Dampak pandemi Covid-19 berkepanjangan menjadi tantangan permasalahan kesehatan mental akan semakin berat untuk diselesaikan.

Menurut UNICEF secara global dalam laporan The State of the World’s Children 2021, terdapat 1 dari 5 anak muda responden usia 15-24 tahun menyatakan sering merasa depresi yang berdampak pada rendahnya minat untuk berkegiatan. Sementara itu 29 persen anak muda di Indonesia sering merasa tertekan atau memiliki sedikit minat untuk melakukan kegiatan. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) menyatakan sebanyak 68 persen dari 1.522 responden mengaku mengalami gangguan kecemasan.

“Mereka adalah generasi yang penuh kreatifitas dan ide-ide besar. Karena keunikan karakteristiknya, mereka punya tantangan tersendiri yakni adanya krisis dari dalam diri sehingga menimbulkan rasa kecemasan. Situasi ini diperberat dengan adanya pandemi Covid-19 berkepanjangan, sehingga berdampak pada kehidupan mereka sehari-hari,” kata Founder dan CEO dari TALKINC Erwin Parengkuan, secara daring baru-baru ini.

Psikolog Klinis Tara de Thouars mengatakan untuk dapat mengatasi gangguan kecemasan diperlukan faktor eksternal dan internal. Secara eksternal generasi muda dapat dimulai dari membentuk lingkungan sosial yang sehat dan saling mendukung. Secara internal dimulai dari mengenali diri, harga dan merubah cara berfikir yang lebih positif.

1. Kebingungan dan Keraguan
Gangguan kecemasan dapat diukur dari beberapa faktor seperti rasa kebingungan, banyak pertanyaan, keraguan, merasa di posisi yang tidak aman dan membandingkan kehidupan.

2. Percaya Diri Berkurang
Penderita gangguan kecemasan juga berdampak pada berkurangnya rasa percaya diri dan menjadi penyendiri. Tak dipungkiri bahwa pandemi ini menjadi hantaman psikologi yang cukup berat bagi kita semua khususnya generasi milenial dan Z.

“Di saat mereka sedang tumbuh dan berkembang mengejar target-target mereka, lalu dihadapkan dengan situasi yang tidak menentu dalam waktu yang panjang. tersebut membentuk rasa kecemasan terlebih bagaimana mereka mampu menghadapi situasi kedepannya, apakah masih ada kesempatan untuk mengejar target dan sebagainya,” kata Tara.

3. Stres dan Mudah Marah
Mudah marah, stres, sulit berkonsentrasi. Cara sederhana dalam meminimalisir kecemasan yaitu kita perlu memahami bahwa kecemasan hanya pikiran dan tidak merepresentasikan kenyataan.

“Coba untuk fokus pada kehidupan saat ini, dan mencoba berdamai pada sesuatu hal yang tidak pasti. Hal terpenting adalah belajar menerima kenyataan, dan berhenti untuk membandingkan diri kita dengan orang lain,” kata Tara.(JawaPos.com)

 

 

 

 

*) Artikel ini telah tayang di JawaPos.com, dengan judul: “Kenali 3 Gangguan Kecemasan pada Milenial dan Gen Z, Ini Kata Psikolog“. Pada edisi Jumat, 03 Desember 2021.
(Visited 25 times, 1 visits today)

Komentar