Selasa, 24 Mei 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Kepiting Kenari Disita dari Kapal Baronang

Oleh Berita Hargo , dalam Metropolis , pada Jumat, 14 Oktober 2016 | 22:18 Tag: ,
  

Hargo.co.id GORONTALO – Petugas Stasiun Karantina Ikan Gorontalo menyita 11 ekor kepiting kenari dari Kapal Baronang yang bersandar di Pelabuhan Gorontalo, Rabu, (12/10). Penyelundupan salah satu jenis satwa laut yang dilindungi itu terungkap menyusul laporan staf PT ASDP yang mengelola sarana pelabuhan.

Meski begitu, petugas gagal mengungkap siapa pemilik ketam tersebut. Kuat dugaan satwa itu sengaja diselundupkan ke Gorontalo dengan tujuan bisnis.

Informasi yang dirangkum Gorontalo Post (group hargo), terbongkarnya pengiriman 11 ekor ketam kenari ini saat kapal Baronang yang berangkat dari Pelabuhan Pagimana itu berada di kawasan pertengahan Teluk Tomini. Tiba-tiba saja, kepiting tersebut keluar dari kardus yang berada di antara deretan barang-barang milik penumpang kapal.

Kepiting dengan cepitan raksasa itu kemudian merayap di atas dek penumpang. Akibatnya, para penumpang kapal pun dibuat ketakutan. Salah satu anak diantaranya menjadi korban jepitan ketam itu.

Anak itu dijepit ketam dibagian tangan hingga membuat kondisi tangannya berwarna kebiru-biruan akibat terkena jepitan ganas dari kepiting tersebut.

“Akibat dijepit kepiting, anak tersebut berteriak dan menangis keras hingga mengagetkan petugas kapal dan penumpang yang lain. Setelah di cek ternyata ada kepiting kenari betebaran di dek kapal. Totalnya ada 11 ekor,” ungkap Kepala Stasiun Karantina Ikan Gorontalo Abdul Kadir.

Ketam itu pun terus dibiarkan hingga Kapal Barona bersandar di Pelabuhan Gorontalo. Kejadian itu kemudian dilaporkan staf PT ASDP yang mengelola sarana Pelabuhan Penyebarangan kepada petugas Karantina Ikan yang kantornya juga berada di kawasan pelabuhan.

Menurut Abdul Kadir, hingga kini, pihaknya belum mengetahui pemilik kepiting tersebut. Sebab seluruh penumpang yang diperiksa dan diintrogasi terkait kepemilikan ketam tersebut tak ada satu pun yang mengaku.

“Karena itu ketam tersebut langsung saja kita sita. Tapi dalam perjalan ke kantor, dua diantar kepiting sudah mati,” ujarnya.

Menurut Abdul Kadir satwa tersebut termasuk dilindungi dan dilarang keras untuk diambil masyarakat. Kondisi fisologis dan jepitannya cukup kuat. Sehingga jenis hewan nokturnal ini mampu melepaskan diri meski telah diikat.

“Kita akan segera menyerahkan ketam ini kepada pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Gorontalo untuk di lepas kembali di perairan Gorontalo,” pungkasnya. (tr-49/GP/hargo).

(Visited 1 times, 1 visits today)

Komentar