Minggu, 13 September 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Kios Akses Pangan, Atasi Daerah Rawan Pangan

Oleh Berita Hargo , dalam Advertorial , pada Rabu, 23 Oktober 2019 | 12:05 WITA
  


Hargo.co.id, GORONTALO – Kuping Gubernur Gorontalo Rusli Habibie memerah ketika mendapati laporan adanya masyarakat yang kesulitan pangan, itu terjadi saat awal-awal ia memimpin Provinsi Gorontalo. Kebijakan strategis seketika dikucurkan, seperti pasar murah yang rutin digelar, hingga kios akses pangan, kini daerah rawan pangan di Gorontalo terus menyusut.

Sejumlah daerah di Gorontalo termasuk wilayah yang rentan pangan, tahun 2016 bahkan terdapat 22 desa yang masuk kategori daerah sangat rentan pangan dan 55 desa kategori rentan pangan.

Seperti dilansir Gorontalo Post, Suatu wilayah yang masuk dalam kriteria rawan pangan berdasar food security and vulnerability atlas (FSVA) atau peta ketahanan dan kerawanan pangan adalah sulitnya akses pangan di wilayah tersebut. Di Provinsi Gorontalo melalui analisis yang dilakukan Dinas Pangan, diperoleh terdapat 27 daerah rawan pangan yang tersebar di enam kabupaten/kota.

Makanya, upaya yang dilakukan Gubernur Rusli Habibie, salah satunya melalui kios akses pangan. Program ini merupakan bantuan kepada masyarakat, terutama para pemilik kios yang ada di wilayah rawan pangan.

Bantuan yang diberikan berupa bahan pangan pokok, seperti beras, gula, minyak goreng, dan telur. Salah satu pemilik kios yang mendapat bantuan kios akses pangan adalah Musnia Ika, warga Desa Torosiaje Laut.

Di desanya sumber pangan seperti beras, minyak goreng, gula dan telur, memang tidak ada, termasuk sumber pangan dari tanaman pertanian, sebab Desa Torosiaje Laut merupakan desa terapung yang ada di-atas laut. Sumber pangan harus dipasok dari daerah lain.

BACA  Hamim Pou Minta Hentikan Aktivitas Tambang Liar di Bone Bolango

“Alhamdulillah saya dapat bantuan kios pangan. Penduduk sini juga sudah gampang untuk beli beras. Biasanya mereka ke pasar atau beli di desa lain atau ke toko,” kata Musnia Ika.

Ia bersyukur, selain menambah modal dagangan pangan, masyarakat juga terbantu dengan  adanya bantuan kios akses pangan yang diprogramkan Gubernur Gorontalo Rusli Habibie dan Wakil Gubernur Idris Rahim.  Musnia berharap bantuan itu terus berlanjut, tak hanya di Torosiaje Laut, namun juga di daerah lain yang memang kesulitan akses pangan.

Aksesibilitas atau keterjangkauan pangan oleh masyarakat dipengaruhi oleh berbagai hal, antara lain, harga pangan, tingkat pendapatan atau daya beli,  kestabilan keamanan sosial, bencana alam, jarak lokasi dan topografi wilayah, keberadaan sarana dan prasarana transportasi, kondisi jalan perhubungan, dan lainnya.

Kepala Dinas Pangan Provinsi Gorontalo, Sutrisno, mengatakan, permasalahan akses pangan secara fisik masih disebabkan oleh kurang memadainya kondisi sarana dan prasaran (infrastruktur). Fasilitas prasarana jalan, pelabuhan, dan sarana angkutan yang kurang memadai menyebabkan biaya distribusi dari sentra produksi ke sentra konsumsi menjadi mahal, terutama untuk daerah-daerah terpencil lainnya.

“Kurang memadainya sarana dan prasarana tersebut telah mengakibatkan daerah-daerah tertentu menjadi sangat terisolir dan masyarakat menjadi sangat kesulitan dalam mengakses pangan,” katanya.

BACA  Pemanfaatan Pekarangan Merupakan Program Utama Skala Nasional

Tinjauan aspek ekonomi mengenai akses penduduk terhadap pangan diukur dari pendapatan yang digunakan untuk pembelian pangan khususnya beras, dan presentase pengeluaran penduduk untuk pangan pada setiap tingkat pendapatan.

Berdasarkan hal itu, Pemerintah Provinsi melalui Dinas Pangan memprogramkan bantuan ke masyarakat antara lain adalah program bantuan kios akses pangan masyarakat. Kios Akses Pangan Masyarakat adalah Kios yang menjual kebutuhan pangan yang agak sulit diakses oleh masyarakat terutama masyarakat miskin pada daerah rawan pangan sehingga lebih mudah diperoleh dan dengan harga yang lebih terjangkau.

“Tujuan program bantuan kios akses pangan agar terjaminnya bahan pangan pada kios – kios  untuk meningkatkan potensi pengembangan dan keterjangkauan bahan pangan pokok di daerah- daerah rawan pangan,” ujar Sutrisno.

Pada peta ketahanan dan kerentanan pangan tahun 2019, memberikan gambaran faktual tentang ketahanan dan kerentanan pangan di provinsi gorontalo.

Peta ini disusun berdasarkan tiga pilar ketahanan pangan yaitu ketersedian pangan, akses pangan dan pemanfaatan pangan serta kerentanan pangan. Pembuatan peta ini berdasarkan pada pedoman penyusunan FSVA badan ketahanan pangan.

Sebanyak 9 indikator digunakan untuk menentukan apakah suatu kecamatan dan desa memiliki ketahanan pangan dan kerentanan pangan. Data yang digunakan berasal dari sumber-sumber resmi seperti dinas terkait di provinsi gorontalo, BPS serta berbagai instansi pemerintah baik di pusat maupun di daerah.

BACA  Agar Komprehensif, Penanganan Banjir di Gorontalo Diusulkan Jadi Perpres

Sembilan indikator masing-masing, rasio konsumsi normatif per kapita terhadap ketersediaan bersih (beras, jagung, ubi jalar dan ubi kayu), persentase penduduk hidup di bawah garis kemiskinan, persentase rumah tangga dengan proporsi pengeluaran untuk pangan lebih dari 65 persen terhadap total pengeluaran, persentase rumah tangga tanpa akses listrik, rata-rata lama sekolah perempuan diatas 15 tahun, persentase rumah tangga tanpa akses air bersih, rasio jumlah penduduk per tenaga kesehatan terhadap kepadatan, persentase balita stunting dan angka harapan hidup saat lahir.

Menurut perbandingan data penurunan dan peningkatan jumlah desa prioritas komposit sejak  tahun 2016 — 2019 di Provinsi Gorontalo, terjadi penurunan jumlah desa dengan prioritas 1 (tingkat kerawanan sangat tinggi) tahun 2016 jumlah 22 desa sedangkan tahun 2019 terjadi penurunan 16 desa berarti ada selisih 6 desa yang sudah tidak masuk pada tingkat kerawanan sangat tinggi jika di persentase terjadi penurunan sebesar 0,82 persen untuk desa yang sudah tidak masuk dalam prioritas 1 (tingkat kerawanan sangat tinggi).

“Pada intinya program yang dikucurkan untuk menjamin ketersediaan pangan di masyarakat. Pak Gubernur selalu mewanti-wanti, agar jangan ada wilayah yang rawan pangan,”tandas Sutrisno. (adv/hg)


Komentar