Senin, 23 Maret 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Kisah Evan Derick Abdullah, Anak Buruh Bangunan yang Lulus Akpol dengan Keyakinan

Oleh Berita Hargo , dalam Features Headline Metropolis , pada Kamis, 22 Juni 2017 Tag: ,
  

Evan Derick Abdullah memeluk menyembah sang ayah begitu mendengar informasi dirinya lulus seleksi casis Akademi Kepolisian (Akpol) Republik Indonesia. Evan tak henti-hentinya mengucapkan syukur atas keberhasilan itu. Ia mendapatkan jalan untuk mewujudkan mimpinya menjadi perwira kepolisian, meski lahir dari keluarga kurang berada 

Dewi Pomalingo, Yudhistirah Saleh – LIMBOTO

MENJADI Taruna Akpol sudah menjadi cita-cita Evan sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Hal itu pun sering diceritakannya kepada sang ayah Andi Abdullah.

Karena sering mendengar mimpi anaknya itu, Andi Abdullah pun terus memberikan support, meski ketika sendirian, ia tak begitu yakin mampu membantu cita-cita anaknya itu dengan kondisi ekonomi yang serba kekurangan.

Abdullah sadar, dirinya hanya seorang buruh bangunan. Sementara sang Yun Mapaliey hanyalah seorang ibu rumah tangga. Mereka tinggal di rumah sederhana di Kelurahan Hutuo, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo.

Meski hidup kekurangan, namun anak mereka Evan ditunjang kecerdasan yang baik, serta tubuhnya cukup proporsional. Selama menjalani sekolah, Evan selalu mendapatkan rangking di kelas.

Evan mengikuti seleksi demi seleksi dimana awalnya peserta casis untuk Akpol berjumlah l6 orang dan dilakukan seleksi menyisahkan l0 orang yang terdiri atas 8 putra dan 2 putri setelah itu seleksi selanjutnya tinggal menyisahkan enam orang dan terakhir tinggal menyisahkan 4 orang yang siap diutus mewakili Polda Gorontalo ke pusat.

“Dipusat pun kami masih akan diseleksi, dari 360 casis Akpol se Indonesia yang bakal diterima hanyalah 275 orang, sehingga saya harus masih berjuang dengan peserta lainnya,” kata Evan yang lahir 8 Oktober l999 itu.

Sebelum ini, banyak yang beranggapan untuk masusk Akpol membutuhkan uang banyak. Namun Evan Derick Abdullah membantah semua anggapan itu. Ia bisa lolos tanpa uang.

Sementara itu Andi Abdullah sang ayak mengisahkan pekerjaannya yang memang tak menetap, mulai dari sopir angkutan, buruh bangunan dan lainnya.

“Pendapatan saya tak menetap, paling tinggi bisa mencapai Rp 500 ribu tetapi kalau memang tak ada kerjaan ya memang tak ada, sehingga ketika anak saya mendaftar di Akpol saya kaget, karena saya tahu anak saya hanya mendaftar STPDN tetapi tak disangka dirinya mendaftar Akpol dan bahkan lulus seleksi ke pusat,” ujar Andi dengan suara terharu.

Andi mengaku dengan pendapatan yang serba pas-pasan tak mungkin dirinya bisa membayar koneksi agar anaknya lolos.

“Kami sekeluarga hanya mengandalkan doa, karena kalau uang kami tak punya, ungkap pemilik rumah yang berukuran l0 x 24 meter ini. Andi juga berpesan pada anaknya setiap kali akan mengikuti tes, hanyalah belajar dan berdoa terus dan jika ada yang memintakan uang untuk kelulusan dengan terpaksa sang anak diminta mundur.

“Saya memang sudah bilang kalau pada akhirnya dimintakan uang mundur saja karena memang tak punya uang sama sekali, tetapi Alhamdulillah sampai dengan keputusan lolos ke tingkat pusat ini tak sepeser pun uang kami berikan pada jajaran kepolisian, sedangkan uang beli minum saja tidak,” kata Andi.

Andi juga tak lupa mengucapkan terima kasih pada seluruh pihak terutama pihak kepolisian yang sudah mempercayakan anaknya lulus seleksi dan membawa nama Gorontalo untuk melaksanakan seleksi di Mabes Polri.

“Saya berterima kasih, karena anak saya memang lulus murni tanpa mengeluarkan uang sepeser pun, namun saya bersama keluarga memintakan doa pada semuanya agar anak saya bisa lolos seleksi dan masuk dalam 275 casis Akpol, karena tanpa kekuatan doa semuanya akan sia-sia,” tandasnya.

Terpisah, Karo SDM Polda Gorontalo, Kombes Pol Nanang Chadarusman, SIK saat dimintai tanggapannya atas lulusnya Evan mengaku tidak terlalu terkejut. Karena menurutnya, Sedari awal para peserta yang mengikuti seleksi Akpol di Polda Gorontalo itu memang memiliki kualitas yang cukup baik.

“Ibaratnya mereka berempat ini adalah orang terbaik diantaran yang terbaik,” ujar Perwira murah senyum itu.

Kombes Pol Nanang sendiri mengaku, Ada dua orang yang dinyatakan lulus ke seleksi tingkat nasional yang terbilang dari keluarga tidak mampu.

“Satunya anak buruh bangunan dan satunya lagi anak petani,” terangnya.

Untuk proses seleksi sendiri menurut Kombes Pol Nanang, Sejauh ini pihaknya memang mengedepankan transparansi, Sehingga tidak ada menurutnya yang terkesan ditutup-tutupi. “Untuk seleksi berikutnya di tingkat pusat, Keempatnya akan kita latih khusus, Dan saya yakin keempatnya akan lolos tingkat pusat nanti,” tandasnya. (*/hargo)