Selasa, 17 Mei 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Kisah Khaled Khatib, Syria, dan Piala Oscar

Oleh Berita Hargo , dalam Kabar Dunia , pada Sabtu, 25 Februari 2017 | 09:36 Tag: , ,
  

Hargo.co.id – Khaled Khatib berusia 17 tahun saat melihat para jurnalis mengabadikan perang di negaranya, Syria. Dia pun ingin seperti mereka. Tidak untuk mengabarkan perang, tetapi ingin menjadi orang-orang yang rela membahayakan nyawanya untuk menolong korban peperangan.

Empat tahun lalu Khatib mendaftar di Syrian White Helmets alias Syrian Civil Defense, kelompok relawan yang bekerja tanpa mengenal lelah untuk menolong warga sipil yang menjadi korban peperangan. Tidak peduli mereka dari pihak mana, pendukung pemerintah maupun pasukan oposisi bersenjata.

’’Saya ingin orang-orang di seluruh dunia tahu apa yang dilakukan White Helmets dan apa yang terjadi di Syria,’’ ujar pria 21 tahun tersebut. Khatib bertugas mengabadikan berbagai momen penyelamatan White Helmets dan memberikan informasi kepada media. Untuk itu, dia tetap harus ikut ke lokasi bahwa bom susulan bisa saja dijatuhkan setiap saat.

Pada 2015, Khatib bertemu dengan sutradara film asal Inggris Orlando von Einsiedel. Dia direkrut untuk mendokumentasikan berbagai misi yang dilakukan White Helmets. Khatib mengiyakan. Berbulan-bulan dia mengikuti tiga relawan petugas penyelamatan. Mulai saat mendapat pelatihan di Turki hingga berada di garda terdepan saat terjadi serangan.

’’Penting bahwa semua orang mengerti bahwa ada warga Syria yang menginginkan hal yang sama dengan mereka, yaitu kedamaian, pekerjaan, keluarga, dan hidup tanpa ketakutan akan bom. Itu yang saya harapkan bisa disampaikan dalam film ini,’’ ujar Khatib.

Film The White Helmets dirilis pada 16 September 2016. Sebagian besar isinya adalah kontribusi Khatib. Dia mengabadikan momen White Helmets menyelamatkan bayi dari reruntuhan, menangkap ketakutan setiap korban atas kemungkinan bom barel yang bakal dijatuhkan lagi dari burung-burung besi di langit dan berbagai detail lainnya. Film dokumenter berdurasi 40 menit tersebut masuk nominasi film dokumenter pendek terbaik di Academy Awards Ke-89.

Khalid dan pemimpin White Helmets Raed Saleh diundang untuk menghadiri acara bagi-bagi Piala Oscar yang diselenggarakan besok (26/2). Kemarin (24/2) keduanya dipastikan terbang dari Syria ke Los Angeles, Amerika Serikat (AS).

Sempat ada ketakutan bahwa mereka tidak bisa hadir. Sebab, sebelumnya ada kebijakan imigrasi yang diterapkan pemerintah AS. Yaitu, warga Syria dan enam negara mayoritas muslim yang lain tidak boleh masuk AS. ’’Jika kami memenangkan penghargaan, itu akan menunjukkan kepada orang-orang di seluruh Syria bahwa penduduk dunia mendukung mereka. Itu akan memberikan keberanian kepada setiap relawan yang setiap pagi bangun untuk berlari menuju ledakan bom,’’ tegasnya. (CNN/sha/c4/any/tia)

(Visited 1 times, 1 visits today)

Komentar