Rabu, 18 Mei 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Kisah-kisah Para Imigran Legal yang Didepak Donald Trump

Oleh Berita Hargo , dalam Kabar Dunia , pada Selasa, 7 Maret 2017 | 13:00 Tag: ,
  

Hargo.co.id – Donald Trump pernah menyatakan bahwa dirinya tak akan menyentuh kaum Dreamers. Yakni, mereka yang datang ke AS sebagai bayi atau balita karena dibawa orang tua yang imigran. Entah itu imigran gelap atau tidak. Sebagai seorang Dreamers, Daniela Vargas sempat merasa lega. Tapi, ternyata hal tersebut tidak berlangsung lama.

Rabu waktu setempat (1/3), perempuan 22 tahun yang tinggal di Kota Jackson, Hinds County, Negara Bagian Mississippi, itu ditangkap personel ICE. Dalam waktu dekat, dia dideportasi. Padahal, sebagai bagian dari sekitar 750.000 Dreamers, seharusnya Vargas kebal deportasi. ’’Bahkan, tidak ada hearing untuk klien saya,’’ kata Abigail Peterson, pengacara Vargas, dalam jumpa pers Jumat waktu setempat (3/3).

Saat berkuasa, Obama memberlakukan program Deferred Action for Childhood Arrivals (DACA) pada Juni 2012. Berdasar kebijakan tersebut, Dreamers berhak atas pendidikan dan kesempatan kerja yang sama dengan warga AS lainnya. Hanya, mereka harus memperpanjang dokumen terkait dengan DACA sekali dalam dua tahun. Tanpa itu, mereka kehilangan kesempatan menjadi penduduk AS.

November lalu, masa berlaku izin kerja Vargas habis. Gadis berdarah Argentina yang berprofesi sebagai guru matematika tersebut lantas sibuk bekerja demi mengumpulkan uang agar bisa memperpanjang izin kerjanya. Karena sibuk bekerja dan menabung, dia tidak sempat mengurus perpanjangan. Sampai masa berlakunya habis, dia masih belum memperpanjang dokumen penting itu.

Sebenarnya, tanpa surat izin kerja pun Vargas aman. Sambil tetap bekerja, dia bisa mengurus perpanjangan dokumen tersebut meski terlambat. Namun, semuanya berubah saat para petugas ICE mendatangi rumahnya pada pertengahan Februari lalu. Menarget ayah dan kakak Vargas, petugas merazia kediaman mereka. Selama beberapa jam, wanita berambut pendek itu bersembunyi di lemari.

Karena petugas tak kunjung meninggalkan rumahnya meski telah melakukan penggeledahan selama berjam-jam, Vargas pun akhirnya ketahuan. Untung, dia tidak langsung dikeler ke kantor ICE waktu itu. Petugas hanya menginterogasinya dan memeriksa bukti pengurusan perpanjangan izin kerja. Tapi, ayah dan kakak Vargas dibawa pergi dari rumah. Para petugas ICE mengancam mendeportasi keduanya.

Bayangan bakal terpisah dari ayah dan kakaknya membuat Vargas marah. Dia pun lantas berunjung rasa. Rabu lalu, dia memprotes razia ICE dan perlakuan pemerintah terhadap imigran gelap. Dia menuntut pemerintah memberikan kesempatan kepada para imigran gelap untuk mengurus kelengkapan dokumen mereka.

Aksi protes Vargas dan sekelompok imigran lainnya di Balai Kota Jackson itu menarik perhatian ICE. Mereka pun langsung mendatangi aksi tersebut. Begitu melihat Vargas di dalam sebuah mobil, mereka langsung mencegat kendaraan itu dan mencokok Vargas. ’’Klien saya dianggap melanggar peraturan tentang izin tinggal dan bisa segera dideportasi. Nasibnya bergantung keputusan hakim federal,’’ kata Peterson.

Pengacara perempuan tersebut menuturkan, penahanan Vargas yang status izin kerjanya dalam perpanjangan itu tidak pernah terjadi di era Obama. ’’Semua ini membuat saya tercengang,’’ ujarnya. Yang lebih mencegangkan, Vargas bukan satu-satunya Dreamers yang terancam dideportasi. Ada puluhan Dreamers lain yang kini bernasib sama dengan Vargas.

’’ICE benar-benar tak tahu malu,’’ kata Yatziri Tovar, Dreamers yang bekerja di organisasi pro-imigran Make the Road di Kota New York. Dia juga mengeluhkan Trump yang abu-abu. Ketidakjelasan sikap sang presiden terhadap Dreamers membuat petugas imigrasi menerjemahkan panduan keimigrasian dengan bebas. Akibatnya, Dreamers pun menjadi sasaran razia dan deportasi. (AFP/BBC/hep/c22/any/tia)

(Visited 1 times, 1 visits today)

Komentar