Senin, 21 Juni 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Kisah Mengharukan, Bocah 9 Tahun Putus Sekolah

Oleh Fajriansyach , dalam Gorontalo Headline , pada Kamis, 1 Februari 2018 | 13:26 WITA Tag: ,
  


Hargo.co.id, Gorontalo – Ketika anak-anak lain duduk menerima pelajaran di sekolah, Suleman Safar (9) sudah ikut bekerja di sawah bersama kakeknya demi upah Rp 100 Ribu. Bocah ini rela meninggalkan bangku sekolah kelas 5 SD. Kondisi ekonomi menjadi salah satu alasannya.

Hari sudah menjelang siang. Kulit mulai disengat matahari. Dahaga pun mulai memuncak. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 11.10 Wita. Namun tak ada kata menyerah bagi Suleman Safar.

Meski fisik tak sekuat pria dewasa, dia bertekad untuk menyelesaikan tugasnya. Suleman pun tambah semangat ketika sang kakek, Hasim Paramau (64), yang juga ikut menjadi buruh, masih tetap tersenyum lebar menebarkan semangat kepadanya.

Jalan Manado, Kelurahan Pulubala, Kecamatan Kota Tengah, Kota Gorontalo pun tak seramai biasanya. Sesekali Suleman melihat anak-anak sebayanya, menggunakan seragam sekolah, sudah dijemput oleh orang tuanya.

BACA  Ini Alasan Gaji 13 Empat Daerah di Gorontalo Ditunda

Diakuinya memang, ada rasa iri dalam hatinya. Karena sekarang, selain sudah putus sekolah, dia sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya.

Ibunya, Liyan Paramau, sudah meninggal dunia sekitar 2 tahun yang lalu. Sedangkan ayahnya, Neni Safar, hanya sesekali datang menengok. Ada yang bilang, jika ayahnya sedang bekerja di wilayah Kota Gorontalo.

“Ti papa sudah tidak tinggal lagi dengan kami. Saya iri dengan teman-teman saya diantar mamanya pulang ke sekolah. Sedangkan saya, ti mama sudah meninggal dunia,” jelas Suleman saat diwawancarai Gorontalo Post.

Dari lubuk hati yang paling dalam, Suleman kecil sejatinya masih ingin mengenyam bangku sekolah. Bahkan, ternyata dia sering diminta sang kakek, Hasim Paramau, untuk ke sekolah.

BACA  Bahas Optimalisasi Jamsostek, Deputi BPJS Ketenagakerjaan Temui Wagub Gorontalo

Namun anak ke tiga dari empat bersaudara ini mengaku mereka tidak memiliki biaya. Apalagi jika harus ditanggung oleh sang kakek yang belum berkecukupan, “Sedang di rumah tidak yang mo makan,” kata Suleman polos.

Di tempat yang sama, Hasim Paramau, mengungkapkan, dia dengan senang hati menjadi buruh tani di Kota Gorontalo karena ada ada tawaran. Mereka diberi upah Rp 100 Ribu per petak berukuran 40×30 meter atau setiap satu petak sawah. Sehari, dia bersama cucunya bisa menyelesaikan hingga dua petak sawah.

Bicara soal cucunya, Hasim pun mengaku tetap memberikan upah seluruhnya kepada Suleman, sebesar Rp 100 Ribu, sama persih dengan upah yang diterimanya. “Saya suruh tabung,” timpal warga Desa Mahudu, Kecamatan Tabongo, Kabupaten Gorontalo ini.

BACA  Pantau Gerhana Bulan Total dari IAIN Gorontalo 

Hasim pun sering menganjurkan cucunya ini agar bisa melanjutkan sekolah. Namun cucunya tidak mau. Alasan yang sering diutarakannya, karena Suleman sangat sedih mengingat mendiang ibunya. “Jika di rumah, dia hanya duduk diam dan tidak melakukan apa-apa. Karena dia sering lihat saya kerja di sawah, maka dia bilang mau ikut baku bantu,” terang Hasim.

Hasim pun dengan tegas menuturkan bahwa dirinya tidak pernah memaksa cucunya tersebut untuk bekerja keras seperti sekarang ini. “Karena ini kemauannya yang besar, saya tidak bisa menghalangi dia untuk bekerja, meski dari hati saya sendiri tidak menerima. Kasihan dia,” tandas Hasim. (Rinto Nupuri)


Komentar