Senin, 18 Oktober 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Kisah Perjuangan Aspik Nalole Guna Menghidupi Keluarganya Â

Oleh Berita Hargo , dalam Features Headline , pada Rabu, 21 April 2021 | 04:05 AM
  Aspik Nalole saat tengah menjual pisang dan kacang yang dilakoni demi menghidupi istri dan anak-anaknya. (Foto: Istimewa/Elmawati Jaya untuk Hargo)

APAPUN yang terjadi, seorang kepala keluarga harus tetap bekerja guna menghidupi istri dan anak-anaknya. Tak peduli pekerjaannya. Selama itu halal dan tak harus mengemis. Intinya mempertahankan hidup, seperti yang dilakoni Aspik Nalole. 

Elmawati Jaya/Bone Bolango

TAK peduli terik matahari yang begitu menyengat. Ditambah lagi uap aspal jalan membuat ‘sempurnanya’ perjuangan Aspik Nalole untuk menghidupi istri dan anak-anaknya. 

Aspik Nalole adalah seorang pedagang pisang dan kacang.Warga Poowo, Kabupaten Bone Bolango ini, setiap hari meninggalkan rumah pada pukul 14.00 wita. Tekadnya hanya satu, mendapat rezeki dari hasil penjualan pisang dan kacang agar semua biaya hidup dapat tertutupi. 

Aspik Nalole memiliki seorang istri dan ketiga anaknya. Menjual pisang dan kacang dilakoni sejak 2016 lalu dengan dengan bermodalkan Rp 150 ribu. Ia berjualan sepanjang jalan dari Kabila hingga masuk perkotaan. 

Keuntungan yang didapatkan setiap harinya tidak dapat dipastikan. Kadang pembeli banyak, namun lebih sering tak ada pembeli. Harga pisang yang ditawarkan mulai dari harga Rp 10 ribu hingga dengan Rp 15 ribu setiap sisir pisang. 

Ia mengaku selama berjualan pisang dan kacang, masih bisa menghidupi keluarganya. Apalagi ada beberapa orang yang kerap membantunya dengan memberi makanan. 

“Saya harus hidupi keluarga. Apalagi istri saya sekarang tengah sakit stroke. Saya harus bekerja keras demi mengobati istri saya dan biaya sekolah anak-anak,” katanya.

Lalu apakah Aspik Nalole sering mengeluh? Jawabannya tidak. Aspik Nalole tidak pernah mengeluh dengan kondisi ekonomi keluarganya yang seperti itu. Dirinya percaya jika semua sudah menjadi takdir dari Allah. 

“Saya percaya bahwa hidup saya seperti ini adalah takdir yang sudah diberikan Tuhan. Saya tidak bisa mengeluh, tapi harus terus berusaha dan berjuang. Saya juga yakin semua ada hikmahnya,” tutur Aspik Nalole dengan meneteskan air mata. 

Menuju tatanan kehidupan baru (new normal) sangat dirasakan perubahannya bagi Aspik Nalole. Ia harus lebih bekerja keras bahkan sempat dilarang oleh petugas untuk berjualan. Selama Ramadan, Aspik Nalole mengaku, tidak dapat berbuka puasa di rumah.

Artinya, ketika petang, saat semburat senja mulai memudar berganti pekat malam, Aspik Nalole masih berada di jalan. Tak seperti layaknya keluarga lain yang harus berkumpul di rumah menyambut datangnya malam. Dikarenakan harus menghabiskan jualannya hingga malam hari, dan kembali ke rumah saat anak-anaknya sudah tertidur, yakni pukul 03.00 Wita. 

Selain berjualan pisang dan kacang, ia juga menerima apabila dimintakan berjualan makanan sapi. Keuntungan dari berjualan makanan sapi, biasanya ia dapatkan Rp 10 ribu. Meski begitu, ‘pejuang’ keluarga ini sangat bersyukur. 

“Saya berharap kepada pemerintah, agar dapat memperhatikan masyarakat yang kondisi ekonominya sangat sulit. Pemerintah juga perlu menyelidiki kembali bantuan-bantuan yang diberikan kepada masyarakat, dan ia pun berharap agar Covid-19 segera berakhir. (elma/ung/hargo).

(Visited 2 times, 1 visits today)

Komentar