Thursday, 23 September 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Kisah Perjuangan Atika Zakaria, Penulis Buku ‘Karawo’

Oleh Admin Hargo , dalam Podcast , pada Tuesday, 14 September 2021 | 00:05 AM Tags:
  Atika Zakaria penulis buku Karawo ketika menceritakan perjuangannya agar bisa menerbitkan buku tersebut (Foto: Istimewa/Tangkapan layar)

Hargo.co.id, GORONTALO – Atika Zakaria merupakan mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) yang menulis buku berjudul ‘Karawo’. Buku setebal 30 halaman itu menyajikan informasi tentang sejarah Karawo, termasuk cara pembuatannya yang dilengkapi dengan contoh-contoh motif Karawo.

Walaupun hanya setebal 30 halaman, Atika Zakaria mengaku begitu banyak perjuangan yang ia lalui untuk menyelesaikan buku itu. Ia menceritakan pengalamannya tersebut ketika diundang menjadi tamu dalam Femmy Udoki Podcast yang tayang di channel YouTube Femmy Kristina Selasa, (27/07/2021)

“Awalnya menulis buku secara manual (tulis tangan sekitar dua bulan). Setelah selesai tertulis kemudian saya pinjam laptop teman, sepupu dan kerabat,” ungkapnya wanita kelahiran 15 September 2021 itu.

Meskipun terkendala laptop untuk mengetik naskah, Atika tidak putus asa untuk menyelesaikan tulisannya tersebut. Ia tertarik membuat buku Karawo karena beberapa alasan antara lain karena belum ada buku karawo di Gorontalo dan ingin pemuda pemudi lebih mengetahui wawasan budaya khas Gorontalo ini.

Atika Zakaria mengaku dalam pembuatan bukunya itu, ia harus melakukan riset dengan mengunjungi toko-toko yang menjual Karawo serta mengunjungi langsung orang-orang yang ahli membuat kerajinan Karawo. 

Mahasiswi semester 3 tersebut bahkan menerbitkan buku tulisannya itu menggunakan uang Bidikmisi yang ia dapat dari kampus. 

“Saya menggunakan biaya sendiri, pakai uang Bidikmisi yang saya kumpulkan 3 bulan untuk menerbitkan buku ini,” ungkap Atika Zakaria.

Disela-sela kesibukannya dalam menuntut ilmu, dan menulis buku ia juga mengajar di Yayasan Safaz Ain yang berada di Kelurahan Dulomo Selatan, Kota Utara, Kota Gorontalo. Bahkan ia sendiri yang menawarkan diri untuk menjadi guru ngaji disana karena melihat di yayasan tersebut kekurangan guru untuk mengajar ngaji Iqra dan Alquran.

Dengan jadwal mengajar ngaji setiap hari dari waktu ashar sampai isya ia mengungkapkan masih sempat menulis buku Karawo tersebut dan mengerjakan tugas kampus setelahnya. Disaat muda mudi lain sibuk dengan game dan nongkrong  sana sini namun, Atika Zakaria berusaha menjadi seorang generasi muda yang produktif dengan melestarikan wawasan  budaya Karawo khas Gorontalo tersebut. (***)

 

Penulis: Rita Setiawati

(Visited 203 times, 1 visits today)

Komentar