Minggu, 18 April 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



KKN Kebangsaan 2017, Hari Ini 420 Mahasiswa Disebar di Bonbol

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo Headline , pada Sabtu, 22 Juli 2017 | 10:13 WITA Tag: , , , , ,
  


BONE BOLANGO Hargo.co.id – Sebanyak 420 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kebangsaan tahun 2017 dipastikan hari ini (22/7) diterima Pemerintah Kabupaten Bone Bolango. Ratusan mahasiswa dari 53 Perguruan Tinggi di Indonesia ditambah 2 Perguruan Tinggi luar negeri, yakni Malaysia dan Jepang itu nantinya itu akan disebar di 60 Desa yang ada di Bone Bolango.

Bupati Bone Bolango Hamim Pou mengatakan, Pemkab Bone Bolango pada prinsipnya sudah siap menerima kedatangan mahasiswa KKN Kebangsaan 2017. “Kami selaku pemerintah daerah Bone Bolango tentu sangat bersyukur karena Bone Bolango dipercaya oleh Menristekdikti RI sebagai tuan rumah pelaksanaan KKN Kebangsaan 2017,”kata Bupati Hamim Pou kepada Gorontalo Post (grup hargo.co.id).

Dijelaskannya, pelaksanaan KKN Kebangsaan 2017, akan dilaksanakan di 11 Kecamatan dan 60 desa di wilayah Kabupaten Bone Bolango. Satu desa ditempati oleh tujuh mahasiswa beda perguruan tinggi dan jurusan. Waktu pelaksanaan KKN Kebangsaan tahun 2017 itu akan dilaksanakan selama kurang lebih 1 bulan, dari tanggal 22 Juli hingga 23 Agustus 2017. Bahkan, pihaknya telah mempersiapkan beragam kebutuhan para mahasiswa tersebut selama berada di lokasi KKN Kebangsaan.

BACA  Pohon Tumbang Menimpa Satu Unit Mobil, Kondisinya Rusak Parah

Menurutnya, kegiatan KKN Kebangsaan ini memiliki misi khusus untuk merajut persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 420 mahasiswa terbaik dengan latar belakang keilmuan, suku bangsa dan budaya berbeda yang berasal dari 53 Perguruan Tinggi dari berbagai provinsi di Indonesia itu berbaur menjadi satu untuk mengikuti KKN Kebangsaan 2017. KKN Kebangsaan 2017 ini, mengangkat tema “Merajut Tali Kebangsaan Melalui Penerapan Program Konservasi Lingkungan Dalam Mendukung Kedaulatan Pangan Berbasis Pemberdayaan”.

Karena itu, Bupati Hamim Pou berharap peserta KKN Kebangsaan ini dapat memberikan solusi terhadap permasalahan yang ada di masyarakat. Kegiatannya lebih ditekankan pada penanaman kemampuan berpikir kreatif, dan kritis serta kemampuan ‘problem solving’ para peserta. Selain itu, banyak teknologi dan inovasi karya perguruan tinggi dapat diterapkan oleh mahasiswa peserta KKN Kebangsaan bagi masyarakat.

BACA  Pertahankan Batas Wilayah, DPRD Temui Lembaga Tinggi Negara

Menurutnya, KKN Kebangsaan ini akan sangat bermanfaat di masa depan dengan terbangunnya jejaring kemitraan antar mahasiswa se-Indonesia, sehingga kelak dapat menjadi pemimpin yang baik, profesional di bidangnya, dan terus merajut rasa kebangsaan, cinta tanah air, dan memahami serta menghayati Bhinneka Tunggal Ika dalam wadah NKRI yang utuh dan kokoh. Kepala Staf Umum Tentara Nasional Indonesis (TNI), Laksamana Madya TNI DR Didit Herdiyawan, MPA, MBA menegaskan saat ini penyebaran radikalisme telah menyasar kaum pelajar dan mahasiswa.

Paham tersebut disebarkan melalui media sosial ataupun ewat organisasi kepemudaan berkeinginan mengganti Pancasila dengan ideologi transnasional.

Hal ini ditegaskan oleh jenderal bintang tiga itu saat memberikan materi di kegiatan pembekalan kepada ribuan mahasiswa peserta KKN Kebangsaan tingkat nasional, di gedung auditorium, Universitas Negeri Gorontalo, Jumat (21/7) kemarin.

Didit menegaskan, para generasi muda khususnya mahasiswa memang menjadi salah satu sasaran utama para penggiat paham radikalisme untuk menyebarkan virus radikal di Indonesia. Hal inilah kemudian yang saat ini terus mendapat perhatian besar dari Pemerintah saat ini.

BACA  Saatnya Traffic Light di Gorontalo Dilengkapi Ruang Henti Khusus

“Pergerakan mereka tidak statis. Penyebaran pengaruh juga dilakukan dengan serangkaian perekrutan anggota baru, pelatihan dan pendidikan kader yang dilakukan secara masif. Saya harap kita semua harus meningkatkan kewaspadaan. Minimal jangan sampai merasuk kepada keluarga kita,” ujarnya.

Lebih lanjut Didit mengatakan, penyebaran paham radikalisme juga diduga kuat akibat derasnya arus informasi yang beredar di media sosial dan internet. Lantaran tidak ada filter, informasi yang beredar pun menjadii tidak terkendali.

Olehnya menurut Didit, Pemberantasan paham radikalisme harus dilakukan sedini mungkin. Yakni dengan cara membentengi para generasi muda indonesia dengan idiologi kebangsaan yang benar.

“Negara kita ini diperjuangkan dengan darah dan keringat para pejuang dari segala suku dan berbagai agama, olehnya hari ini kita jangan mudah dipecah belah apalagi hanya dengan isu menyesatkan yang belum tentu benar informasinya,” tandasnya mengakhiri materi. (roy/Tr-45/hg)


Komentar