Selasa, 24 Mei 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Komentar Tuhan

Oleh Tirta Gufrianto , dalam DI'SWAY , pada Selasa, 25 Januari 2022 | 12:05 Tag: , , , , , ,
  David Bennett diaput putranya (kiri) dan Prof Muhammad Mohiuddin. (Foto: Maryland Medical Center).

Oleh : Dahlan Iskan

BERAPA lama David Bennett akan bisa hidup dengan jantung babinya?

Lima hari lalu, 18 Januari, ia memasuki babak baru penyembuhan: alat bantu jantungnya sudah dilepas. Pria 57 tahun itu sudah sepenuhnya menggunakan jantung babi untuk hidupnya.

David juga sudah bisa bercakap-cakap –bukan sekadar grrkhh-grrkhh-grrkhh– dengan siapa pun yang ada di sekitar tempat tidurnya di Maryland Medical Center, Baltimore.

Memang belum ada laporan kapan diizinkan keluar dari rumah sakit. Teoretis, dua minggu lagi sudah boleh pulang. Satu bulan setelah transplant, mestinya, semua alat bantu sudah bisa dilepas. Sudah bisa berjalan. Sudah bisa ke toilet sendiri.

Saya dulu memutuskan tiga bulan, baru pulang. Terlalu banyak sumber infeksi di rumah –termasuk banyaknya kunjungan keluarga dan tamu. Sebenarnya bukan saya yang memutuskan itu, tapi Robert Lai, teman Singapura saya. Ia tahu kondisi rumah saya. Juga tahu kebiasaan saya yang kurang menjaga kebersihan.

Tentu David masih harus terus diobservasi. Lebih lama. Terutama kontrol kedisiplinannya minum obat. Ia pernah ketahuan tidak disiplin minum obat. Itu sekaligus jadi objek penelitian: apa saja yang akan menjadi penyebab kematiannya kelak. Termasuk penyebab yang tidak ada hubungannya dengan transplant organ babi itu.

Misalnya, kejatuhan pohon. Atau ditabrak truk. Atau tiba-tiba ada orang yang menikamnya saat minum bir di bar.

Ilmu pengetahuan berkepentingan agar David berumur panjang.

Harusnya David bisa hidup paling tidak tiga tahun lagi. Itu berdasar pengalaman Prof Muhammad Mohiuddin yang menjadi partner Prof Bartley Griffith mentransplantasi jantung David 7 Januari lalu.

Prof Mohiuddin adalah seorang ilmuwan, peneliti sekaligus ahli bedah jantung. Asal Pakistan. Lulus dokter di Dow Medical School Karachi. Ia direktur di program transplant organ binatang ke manusia di Maryland Medical Center. Ia yang mendirikan program itu 4 tahun lalu. Griffith yang menjadi direktur kliniknya.

Dua ilmuwan itu sudah lebih dulu mencoba melakukan transplant serupa ke tubuh kera baboon.

Sama: jantung babi yang dipasang ke baboon itu juga sudah diedit. Unsur gen yang membuat jantung babi itu ditolak oleh tubuh baboon sudah dibuang. Menurut The Lancet, jurnal ilmiah terkemuka, salah satu unsur gen yang dibuang dari jantung babi itu adalah: anti-CD40 di antibodi. Ternyata antibodi itu sendiri begitu banyak unsurnya. Salah satunya adalah yang bertugas khusus untuk menolak benda asing yang masuk atau dimasukkan ke dalam tubuh.

Unsur gen lain yang juga dibuang Anda sudah tahu: yang membuat jantung babi terus tumbuh membesar. Yang bisa membuat dada manusia akan terlalu penuh.

Soal ukuran rongga dada itu ternyata juga penting –meski tidak sepenting unsur kecocokan medis antara tubuh manusia dan organ babi.

Ukuran jantung babi –juga ginjalnya– ternyata pas untuk rongga yang tersedia di tubuh manusia. Tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil. Asal, itu jantung babi berumur 1 tahun, yang sudah disiapkan di peternakan khusus. Ukuran jantung muda itu masih akan membesar seiring pertambahan umur dan ukuran babi. Itulah sebabnya unsur gen pertumbuhannya harus dibuang. Jangan lebih besar lagi.

Ruang di dada manusia ternyata juga bisa berubah. Sebelum melakukan transplant hati, ruang dada saya ternyata sudah sempat mengecil. Itu karena hati saya sudah mengecil akibat sirosis. Tulang rusuk saya berubah mengikuti ukuran organ tersebut.

Itulah sebabnya ketika hati baru yang ukurannya normal dimasukkan ke dada saya, ada sedikit masalah: terlalu sesak. Tapi masih dalam batas yang aman. Itulah penjelasan dokter yang saya terima setelah transplant 17 tahun lalu.

Penemuan dan pengalaman editing unsur gen jantung babi yang dilakukan Prof Mohiuddin tentu akan menjadi dasar untuk langkah berikutnya di masa depan. Apalagi kalau terbukti David tidak mati akibat penolakan jantung babi itu.

Sewaktu Prof Mohiuddin mencoba transplant jantung baboon, tidak terjadi penolakan itu. Aman. Setidaknya selama tiga tahun. Baboon terus hidup normal.

Akhirnya baboon itu memang mati. Tapi itu karena Prof Mohiuddin sengaja mencoba mengembalikan unsur gen penolakan itu. Masa tiga tahun uji coba dianggap sudah sangat cukup. Akhirnya baboon itu mati akibat sesak napas –jantung babinya tidak berfungsi lagi, ditolak oleh badan baboon.

Kalau David nanti bisa hidup lebih 3 tahun belum tentu akan ada transplant seperti itu untuk umum. Prosedur untuk bisa dipraktikkan masih panjang. Bahkan untuk bisa dapat izin uji coba pun masih lama. Yang dilakukan pada David itu berdasar ”izin welas asih”. Belum izin uji coba. Waktu itu jantung David sudah di terminal akhir. Begitu alat batu dilepas ia mati. Berbagai pusat transplant juga menolak memasukkan David ke daftar prioritas: ia tidak disiplin berobat. Juga pernah masuk penjara akibat menikam pemuda yang memangku pacarnya dulu di bar biliar.

Tahap uji coba masih begitu lama. Perlu beberapa kali kisah sukses seperti David –meski tidak perlu menunggu ada orang lain yang ditikam di bar.

Yang jelas editing gen manusia akan menjadi trend komersial di masa depan. Sayang kita tidak bisa mendapat kabar lebih lanjut: bagaimana nasib bayi kembar yang di Shenzhen, Tiongkok. Yang lahir lebih dua tahun lalu itu: Lulu dan Nana. Bayi kembar itu produk editing gen yang dilakukan Prof He Jiankui di sana. (Baca Disway edisi: Lulu dan Nana)

Editing dilakukan justru ketika bayi masih dalam bentuk embrio. Unsur-unsur yang akan menjadi penyakit tertentu dibuang. Unsur-unsur yang membuat pintar didorong.

Prof He Jiankui sendiri dijatuhi hukuman penjara 3 tahun: dianggap melanggar hukum kedokteran di sana. Juga dikenakan denda sekitar Rp 5 miliar. (Baca Disway edisi: Hukuman Ilmuwan)

Tapi bayi kembar itu sendiri tentunya dibiarkan hidup. Dipelihara, entah oleh ibu mereka atau oleh negara. Sekarang, mestinya, bayi kembar itu sedang lucu-lucunya.

Dengan majunya ilmu editing gen itu, Tuhan, sebagai pencipta manusia, harus berkomentar apa? (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Tulisan Berjudul Bensin Sawit

Suryanto Bagelen
Saya orang yg mengais rezeki dr tanaman sawit. Demikian dg puluhan juta penduduk lndonesia lainnya baik sbg pekerja maupun sbg petani serta multiplier efek ekonomi lainnya.  Dampak monokultur boleh jadi ada terhadap ekosistem.  Tahukah brp juta hektar hutan di USA, Eropa, Amerika Selatan yg berubah menjadi lahan pertanian kedelai, jagung dan lahan peternakan? Jsgan terkecoh dg black campaign bule-bule rakus yg menempatkan sawit sbg musuh nomor 1 krn kalah bersaing. Sawit sepanjang bulan sepanjang tahun tetus berbuah. Kedelai, Jagung tanaman semusim dan hanya pd bulan tertentu berproduksi. Salam.

Kalila Kalista
Kebun lokal , pabrik lokal , buruh lokal , pemilik lokal , jual harga internasional , nikmat manalagi yg ingin kau dustakan

Jo Neka
Cita cita anak keluarga miskin adalah Guru..dulu.Sekarang cita citata sudah penyanyi dangdut top,banyak uang dan cita cita anak sekarang jadi Yutuber..dua cita cita yg berbeda 180°..Yg pertama di bayar murah untuk mendidik anak bangsa ke akhlak yang baik yg kedua Anda sdh tahu..

Er Gham
Saat ini minyak goreng mahal. Coba ITB buat katalis minyak goreng dengan air minum. Jadi misalnya beli 1 liter minyak goreng, lalu dicampur katalis dan 4 liter air minum, maka diperoleh 5 liter minyak goreng. Ini bantu rakyat banget saat ini.

Nazim
Saya jadi inget sebuah penemuan fenomenal tentang penemuan Green energy terbaik yaitu kelapa muda, Yaitu membuat kelapa muda menjadi green energy alternatif penghemat. Caranya mudah, saat naik motor kehabisan BBM, kelapa muda dibuka terus diminum. Lalu motor didorong sampai nemu pom bensin. Penghematnya dimana? Mari kita analysis… Pertama, dari tempat habis BBM ke pombensin tentunya ngurangi penggunaan BBM, hemat uang, hemat polusi. Kedua, saat mendorong motor tentunya smpai “ngeden” mengeluarkan keringat..nah proses bakar lemak, bakar kalori, ini akan meningkatkan kesehatan sekian drajat, akumulasinya bs menghemat pengeluaran biaya kesehatan. Bahkn tak perlu lagi ikutan senam DIsway. Hemat! . Ketiga, saat berkeringat. Itu keringat bukan hnya mengandung air tp juga minyak..seandainya sambil dorong motor sambil ngelap dg handuk, saat sampai pom bensin tu handuk diperas diwadahi, air asin dan minyak dipisah..terus dikumpulkan dg botol, misal diolah etanolnya, bimenthil,RON 96/69 dll..  Bayangkn, jika setiap orang diwajibkan dorong2 begitu kali sekian milyar orang, kali sekian cc minyak wajah. Maka akan menghemat dan menjadi solusi green energy masa depan.. Coba bayangkan!! Ayo kita bayangkan sekali lagi…

Udin Salemo
Sebagai sebuah terobosan temuan Ibu Melia saya apresiasi. Bukankah Indonesia penghasil sawit terbesar di dunia. Jadi kalau nanti harga sawit turun, ada solusi dijadiin bensa. Bisakah bersaing dengan baterai? Pangsa pasarnya beda. Gak semua penduduk bisa beli mobil listrik. Dan saya yakin mobil bbm masih akan bertahan minimal 80 tahun kedepan.  Mau cerita sedikit. Dulu setiap luas 5000 hektar kebun perusahaan sawit menyediakan ENCLAVE untuk penduduk asli seluas lebih kurang 2,5 hektar. Tujuan enclave adalah  untuk mempertahankan keberadaan flora dan fauna hutan tempatan. Juga untuk penduduk asli mencari sumber daya alam guna kehidupan mereka. Kerena tidak semua penduduk asli bisa diakomodir jadi karyawan kebun sawit, otomatis hutan enclave itulah salah satu gantungan hidup mereka. Biasanya di enclave itu terdapat hutan dengan beragam pohon dan tumbuhan liarnya, dan situ/pond atau kolam besar bentukan alam yang dihuni berbagai ikan. Itu dulu tahun 2010 yang saya temui di kebun sawit milik Sinarmas di Marau, Ketapang,  Kalimantan Barat.  Tahun 2012 semua enclave  itu sudah dibabat habis dijadiin kebun sawit. Sedih melihatnya.  Lalu mau membuat bensa dari hasil sawit, dan masuk green energy? wkwkwkwk… Ikut ketawa aja.

gito abipraya
saya kok jadi bingung, disaat separoh umat manusia sibuk menyiapkan diri hidup bersama mobil listrik, dilain sisi ilmuwan kita masih getol dengan bahan bakar mesin meski berbahan dasar nabati. pohon sawit. sekalian usul bah, hutan gundul ditanah jawa sekalian di sawitkan sekalian. siapa tahu cocok. biar banyak mulut di jawa konsumsi sawit dari tanahnya sendiri

Mohamad Selim
Crude oil sekitara Rp5.500 per liter. Bila diolah menjadi Pertamax masih bs bibawah Rp10.000 per lt. Sdgkan bensa hasil pengolahan minyak sawit menjadi Rp20.000 per lt. Kenapa kok sampai semahal itu ??? Bisakah peneliti membuka beaya masing masing masing proses bisnis nya shg pemerintah tahu ttik mahalnya. Bila pemerintah serius utk memasuki green energy , pasti dinginya perlu ada tindakan yg konkrit agar bensin dari sawit feasible.

sigus 1000
Jika pabrik IVO yg dibangun berkapasitas 50.000 ton/ tahun akan butuh setidaknya lahan tanaman sawit seluas 8.000 Ha. Dengan asumsi setiap 4 ton sawit dapat diolah menjadi 1 ton bensa pun dengan produktivitas lahan 25 ton/tahun.

Tantangan IVO selain mulut manusia adalah ketersediaan bahan baku sawit. Hampir seluruh PKS yg ada  memiliki lahan sawit sendiri yg dibangun sedekat mungkin. Sementara kapasitas IVO yg besar tanpa ketersediaan lahan yg memadai akan memunculkan aksi ninja (nilep janjangan) sawit, malah berpotensi tingginya masalah sosial. Petani sawit biasanya sudah punya tempat penyaluran tersendiri, dgn sistem kontrak. Mudah2an ada jalan, namun harga bensa akan mahal karena harga minyak goreng new normal Rp14.000/liter.

Aat
Mulut menjadi pesaing green energy, pantat menjadi salah satu penyumbang gas rumah kaca. Hhhhh

Alexs sujoko sp
Pernah kami buat di sebuah Tambang besar adr* kerjasama dengan Komatsu Indonesia dan Sumitomo Jepang. Biodiesel bisa disebut FAME ( Fatty Achid Methyl Ester ), sedang penyebutan dari bahan dasarnya : 1. RME – Rapeseed Methyl Ester – di Uero, France, Austria, germany   2. SME – Soybean Methyl Ester – USA, South America   3. POME – Palm Oil Methyl Ester – Malaysia, Indonesia, Thailand    4. CME – Coconut Methyl Ester – Philipines    5. TMW – Tallow Methyl Ester – UK, Oceania   6. SunME – Sunflower Methyl Ester. Jadi kalau lihat productnya Indonesia ya sebutannya POME ( Palm Oil Methyl Ester ). Untuk membuat Biodiesel dari bahan baku Vegetable Oil dengan cara menambahkan Catalys berupa Methanol, dan menghasilkan Glycerol + Biodiesel. Ada proses di situ yaitu menghilangkan Glycerol ( Transesterification prosess ) agar bisa dihasilkan BIODIESEL ( biasa disebut B100 – karena murni Biodiesel )

Yuwono Kelik
sebenere kalau dengan harga yang seperti abah bilang dapat ron 112 itu masih ok. disini banyak kok kendaraan2 high performance yang butuh bahan bakar dengan ron diatas 110 dan selama ini sangat mahal harganya

Hardiyanto Prasetiyo
Jika menganut Peak Oil Theory karya Hubbert, inovasi energi terbarukan seperti ini untuk diversifikasi energi tepat sekali. Karena pada abad 21, ditengarai produksi crude oil sudah pada puncak maksimum porduksinya diseluruh dunia. Salah satunya yg sudah mulai hijrah adalah Oil King Arab Saudi, melalui Saudi vision 2030 mereka telah mendiversifikasi pendapatan mereka dari yang awal mula didominasi dari sektor energi akan mulai beralih ke sektor pariwisata. Ini menandakan bahwa sektor energi sudah habis masanya. Saudi vision 2030 adalah jawaban dari alternatif solusi atas krisisnya energi di Arab Saudi. Bagaimana contermeasure dari konsumen seperti Indonesia ? Inovasi energi macam inilah yg dibutuhkan segera jika tidak mau mengalami energy shortage layaknya Lebanon kapan hari. Cuman masalahnya  inovasi macam ini sering kali terhambat karena birokrasi yg berbelit2, karena sekali lagi menyangkut hajat hidup mafia minyak kedepannya yang akan tereduksi jika inovasi energi ini terjadi. Akankah BRIN dapat memfasilitasi inovasi macam ini? ataukah BRIN masih disibukkan dengan urusan lebur melebur lembaga riset? atau malah BRIN hanya menjadi Badan Reset Inovasi Nasional yang hanya mereset standarisasinya saja tanpa mendukung aktualisasinya? Kita tunggu saja dan semoga sesuai dengan gajinya.

Alexs sujoko sp
Dari hasil uji coba laboratorium Biji Nyamplung kurang lebih sama dengan Biji Jarak : 20% dihasilkan FAMEs dan 80% nya adalah Sampah sisa produksi. Sementara kalau Biji Kelapa Sawit dihasilkan 40% FAMEs dan 60%nya adalah Sampah sisa produksi. Biji Nyamplung atau Biji Jarak sangat sedikit hasil panennya. Setahun hanya dua kali produksi. Saat musim kemarau hasil minyaknya bagus dengan kandungan air yang sedikit, namun saat musim hujan hasil minyaknya sedikit dengan kandungan air yang banyak. Sementara Kelapa Sawit akan  berbuah sepanjang tahun, dan hasilnya jelas lebih besar. Berarti lebih efisien dan lebih produktif. Suwun…….

Rissa
cantik nian si alis tebal di kaki tambora nan menjulang aku tau inisialku gombal numpang lewat menghibur disway tersayang si cantik itu menghilang tak kembali di temaram tambora senja nan abadi izinkan aku minta maaf kedua kali esok pagi namaku berganti asli

Liam
Temanya green energy. PLN jika mau, mungkin bisa cuan banyak di bidang solar energy. Dengan cara menyediakan layanan instalasi terintegrasi kepada masyarakat. Tenaga ahli banyak, tahu mana produk panel surya yang terbaik dan tahan lama. Untungnya dobel buat masyarakat juga pemerintah. Masyarakat menjadi kenal dengan aplikasi panel surya, dapat layanan nya terpercaya, Budaya penggunaan energi tenaga surya bisa meluas ke seluruh Indonesia. Pemerintah beban anggaran untuk PLN menjadi lebih ringan karena ada swadaya masyarakat di urusan listrik. PLN bisa mencetak laba yang lumayan, dan karena di kerjakan sendiri lebih gampang manajemen input tenaga listrik panel surya surplus yang misalnya di jual kembali ke PLN. Jangan sampai swasta yang cuan impor dan instalasi panel nya, PLN yang jena getah nya ,karena diharuskan undang-undang membeli listrik hasil produksi panel surya dari masyarakat.

(Visited 35 times, 1 visits today)

Komentar