Jumat, 14 Mei 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Kontes LGBT di Bali Dibatalkan, Ini Upaya Panitia

Oleh Zulkifli Tampolo , dalam Headline Kabar Nusantara , pada Minggu, 14 Oktober 2018 | 22:27 WITA Tag:
  


Hargo.co.id – Tak semua kelompok masyarakat menunjukkan rasa prihatin terhadap bencana alam dahsyat yang baru saja menerjang Lombok, dan Sulawesi Tengah dan daerah-daerah lain di Indonesia. Di tengah rasa duka dan keprihatinan mendalam masyarakat Indonesia atas ribuan warga yang meninggal akibat bencana tersebut, ada sekelompok masyarakat yang seakan tak peduli. Menggelar kegiatan hura-hura dengan tujuan yang tak jelas.

Mereka adalah kelompok masyarakat yang pro dengan keberadaan Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT). Salah satu yayasan di Bali yaitu yayasan Gaya Dewata, sempat punya rencana menyelenggarakan kontes LGBT. Ditengah hiruk-pikuk kesibukan Bali menjadi tuan rumah agenda pertemuan tahunan lembaga moneter internasional dan bank dunia (IMF-WB).

Yayasan Gaya Dewata membalut kontes LGBT dengan kegiatan bertajuk Grand Final Mister dan Miss Gaya Dewata 2018. Kegiatan itu rencananya akan dilaksanakan di Bhumiku Balai Pertemuan, Denpasar, Rabu (10/10). Namun sebelum kegiatan digelar, kepolisian setempat langsung membatalkannya. Karena mendapat kecaman dari masyarakat dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

BACA  MUI Geram! Program TV Menayangkan Goyangan Erotis Dewi Perssik

“MUI berharap pelarangan itu akan diberlakukan di semua daerah di wilayah NKRI,” ujar Wakil Ketua Umum MUI, Zainut Tauhid Sa’adi seperti dilansir Viva.co.id.

 Zainut prihatin dengan semakin maraknya aktivitas kelompok LGBT yang sudah berani secara terbuka dan terang-terangan menunjukkan eksistensi.  Hal ini merupakan indikator bahwa jumlah dan aktivitas kalangan nonheteroseksual alias penganut homoseks di Indonesia dinilainya sudah mengkhawatirkan.

“Praktik lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) serta seks bebas harus dilarang karena bertentangan dengan nilai-nilai agama dan Pancasila,” ujarnya.

Menurut dia, orientasi nonheteroseksual bukanlah sesuatu yang dibenarkan dalam ajaran Islam. Bahkan, MUI sudah mengeluarkan fatwa pada 2014 tentang LBGT hukumnya haram atau dilarang oleh agama.

Kontes unjuk keterampilan bagi kaum Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT), itu akan diikuti oleh 80 kandidat dari 40 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Dilansir dari Sulselekspres.com, beberapa daerah di Pulau Sulawesi mengirim wakilnya pada kontes LGBT itu. Daerah-daerah dari Sulawesi yang mengirim utusannya antara lain, Manado, Palu, Poso, Toraja, Parepare dan Makasar. Beruntung dari 80 peserta itu, tak ada wakil dari Gorontalo.

BACA  Gembong Narkoba Daniel Edi Johannes Divonis Hukuman Mati

Meski telah dibatalkan kepolisian. Dikecam dan ditentang masyarakat.Yayasan Gaya Dewata selaku penyelenggara kontes LGBT itu, tak bergeming.
Yayasan Gaya Dewata berupaya untuk mencari lokasi lain. Untuk menyelenggarakan kontes LGBT itu.

“Kami sedang berusaha dan membutuhkan waktu untuk mengatasi hal tersebut, maka kami pun terpaksa menunda acara untuk sementara,” begitu keterangan Yayasan Gaya Dewata dalam situsnya.

Upaya Gorontalo Post untuk menggali informasi lebih mendetail soal lokasi baru yang akan dipilih, bagaimana bentuk kegiatan dalam kontes LGBT, sayangnya tak berhasil. Karena situs yayasan dewata yaitu www.gayadewata.com sudah tak bisa diakses.

BACA  Rp 24 Miliar untuk THR Pemprov, Gubernur: Termasuk Teman-teman di DPRD

Namun dari hasil pengumpulan informasi media ini dari berbagai sumber terungkap bahwa yayasan gaya dewata merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berada di Denpasar Bali. Alamatnya di Jalan Sakura IV, nomor 8, Dangin Puri Kangin, Denpasar Utara, Kota Denpasar, Bali 0234.

Terkait rencana yayasan gaya dewata menggelar kontes LGBT tersebut, masyarakat memberikan sorotan tajam. Berbagai tanggapan miring disampaikan. Dalam laman google yang menyajikan informasi soal yayasan gaya dewata, ada tiga sorotan dari masyarakat yang ditampilkan.

Misalnya seperti ini. “Tidakkah ada diantara kalian yg sadar dan kembali ke jalan yg normal? Jangan buat dewata marah”.Ada juga sorotan yang lebih tajam. “Semoga kalian yang ikut kontes ini di tenggelamkan oleh allah seperti kaum nabi luth as”. Tapi ada juga yang memberikan sorotan lain. “Awalnya bergerak atas nama HIV, lalu lama2 HAM dan kesetaraan gender. Trus semakin kesini…ckcckckcck…”. (bs/gp/hg) 


Komentar