Jumat, 23 Oktober 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Korban Gempa, Sarpin Nusi (33) Empat Hari Terkubur Reruntuhan Gedung

Oleh Fajriansyach , dalam Features Gorontalo Headline , pada Rabu, 3 Oktober 2018 | 16:43 WITA Tag: , ,
  


Bagi sebagian orang adalah hal yang mustahil jika ada manusia yang bisa bertahan hidup dalam empat hari, tanpa makan maupun minum. Apalagi kondisinya terjepit reruntuhan bagunan. Namun, mujizat bagi Sarpin Nusi (33). Ia mampu bertahan sejak gempa mengancurkan tempatnya bekerja.

Laporan Franco Dengo / Palu

Sore itu, Jumat (28/9) seperti biasa Saprin mengunci ruang kerjanya di kantor Mandala Finance cabang Palu, dan hendak pulang. Waktu sudah menjelang magrib. Sebelum pulang pria yang menjabat Branc Manager (BM) ini, masih menyempatkan diri berbincang dengan dua stafnya. Sesaat setelah itu ia bergegas keluar gedung. Saat mulai melangkah, tiba-tiba terjadi goncangan dahsyat. Mengetahui itu gempa, ia mempercepat langkahnya.

Tapi nahas, ia terlambat. Kantor Mandala Finance berlantai tiga itu tiba-tiba runtuh, sebelum ia berhasil keluar dari dalam gedung. “Brukkkk” begitu suara mengerikan yang ia dengar. Serasa kiamat. Dalam situasai sulit itu, ia berusaha menghindari beton yang runtuh. Kebutulan ia sudah berada di lantai dasar kantor.

BACA  Optimalkan Pencegahan Covid-19, Lurah Ini Kerahkan RT/RW

“Beruntung di lantai bawah ada semacam ring balok. Itu yang menopang beton-beton,”kisah Saprin Nusi, Selasa (2/10) kemarin. Ia terjepit dengan beton-beton gedung. Ruang geraknya hanya sekira 30 cm. Tidak bisa keluar.

Dibalik reruntuhan gedung itu, ia mendengar suara minta tolong. Ternyata itu sejawatnya, bernama Muhamad Rifai. Setahu dia, Muhamad Rifai ketika itu berada di lantai dua. Mereka sama-sama terkubur reruntuhan gedung. Tapi masih hidup. Malam itu, serasa sangat sepi. Menyeramkan.

BACA  Pemda Wajib Karantina Pasien Covid-19 Kategori OTG

Ia hanya berdoa, agar segera ada yang bisa menyelamatkannya. Hinggga pagi hari, Sabtu (29/10) barulah mulai ada tanda-tanda jika ia bersama beberapa rekanya yang terperangkap bisa segera diselamatkan.

Ia mendengar ada suara dibalik tembok-tembok yang menimpanya. Ia teriak minta tolong, dan sebisanya mengetuk-ngetuk besi di dekatnya agar berbunyi, agar ada relawan yang mendengar. Namun upaya itu sia-sia.

Hari itu tak ada relawan yang mengetahui keberadaanya, kecuali teman-temanya yang berhasil diselamatkan. “Saya dengar mereka sedang dievakuasi dan selamat,”katanya. Ia kemudian ditinggal. Sempat drop. Tapi ia tetap optimis masih akan hidup dan bisa diselamatkan.

Hingga Ahad (30/9),upaya mengetuk-ngetuk beton dan besi ia lakukan, lagi-lagi tidak ada yang mendengar. Sudah tiga hari ia terkubur beton-beton kantor tempatnya bekerja. Kondisi fisiknya sangat lemah.

BACA  Cegah Penyebaran Covid-19, Budayakan '3 M'

Sejak gempa bumi bermagnitudo 7,4 SR itu, ia tidak pernah makan, tidak pernah minum. Yang ia lakukan hanya berdoa, kemudian tidur, dan ketika bangun berdoa lagi, sambil tanganya mengetuk-ngetuk besi yang ada di dekatnya. “Saya tidur agar tidak haus dan lapar.

Kalau saya sadar, akan sangat terasa,”kata Saprin. Yang ada didekatnya hanyalah parfum. Ia hampir nekat meminum cairan parfum itu karena didera dehidrasi hebat. “Saya hanya mengoleskanya di bibir,”ucapnya.

Barulah pada hari Senin (1/10), ada orang yang berada disekitar gedung itu mendengar ketuk-ketukan besi dari dalam retuntuhan gedung. Orang itu ternyata orang tua bawahanya. Setelah dicek, ia bersuara dan meperkenalkan diri.

Laman: 1 2


Komentar