Kamis, 26 November 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



KPK Ikut Garap 10 Kasus Korupsi di Gorontalo

Oleh Fajriansyach , dalam Gorontalo Headline , pada Jumat, 6 Juli 2018 | 12:00 WITA Tag: , ,
  


Hargo.co.id, GORONTALO – Penuntasan kasus tindak pidana korupsi (tipikor) di Gorontalo mendapat perhatian Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Lembaga antirasuah itu ikut turun tangan menangani kasus-kasus korupsi di Gorontalo. Langkah tersebut dilakukan KPK bersama Kejaksaan Tinggi (Kejati) Gorontalo.

Informasi yang dirangkum, ada 10 kasus korupsi yang mendapat pengawalan sekaligus pendampingan (supervisi) KPK. 10 kasus tersebut termasuk dalam 49 kasus korupsi yang ditangani Kejati Gorontalo.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah dalam keterangan tertulis menyampaikan, 10 kasus korupsi yang mendapat supervisi KPK diperoleh dari koordinasi Tim Koordinasi dan Supervisi Penindakan (Korsupdak) KPK bersama Kejati Gorontalo. Koordinasi itu dilangsungkan pada Rabu (4/7) di Kejati Gorontalo.

“Ada 49 perkara yang dibahas Korpsudak KPK dan Kejati Gorontalo. Perkara tersebut merupakan perkara yang ditangani oleh Kejati Gorontalo sejak 2015 hingga 2017,” ujar Febri Diansyah.

BACA  Paralayang Bakal Lengkapi Sektor Pariwisata Gorontalo di Batudaa Pantai

Menurut Febri, koordinasi antara KPK dan Kejati Gorontalo bertujuan memperbarui data penanganan perkara. Khususnya perkara korupsi yang ditangani Kejati Gorontalo.

“KPK akan melakukan supervisi terhadap 10 kasus korupsi yang dinilai penanganan perkaranya berlarut-larut. 10 kasus tersebut menjadi perhatian KPK karena menjadi perhatian masyarakat setempat,” urai pria kelahiran 1983 itu.

Menurut Febri, masih ada kendala yang dihadapi Kejati Gorontalo dalam menuntaskan 10 perkara korupsi. Yakni berkaitan perhitungan kerugian keuangan negara, sehingga membutuhkan dukungan ahli.

“KPK akan memfasilitasi dukungan teknis terkait kendala dalam perhitungan kerugian keuangan negara. Hal ini merupakan bagian dari pelaksanaan tugas Koordinasi dan Supervisi sebagaimana amanat UU 30 Tahun 2002,” kata alumnus Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.

Sementara itu Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati)G orontalo Firdaus Dawilmar mengakui bila pihaknya turut melibatkan KPK dalam penangangan kasus korupsi di daerah ini.

BACA  Imam Besar FPI Rizieq Shihab Tiba di Indonesia

Menurut Firdaus, pada Rabu (4/7), tim KPK yang beranggotakan enam orang mendatangi Kejati Gorontalo dalam rangka berkoordinasi penuntasan kasus korupsi. Kedatangan tim KPK tersebut menindaklanjuti SPDP (Surat Perintah Dimulainya Penyidikan) perkara, yang sebelumnya dilayangkan oleh Kejati Gorontalo KPK belum lama ini.

“Dengan dikirimnya SPDP tersebut, maka KPK punya hak melakukan supervisi atas penyelesaian kasus korupsi yang sedang ditangani Kejati Gorontalo,” ungkap Firdaus. Menuruf Firdaus, dalam supervisi dibahas mengenai permasalahan dan kendala yang diahdapi. Seperti kenapa terlalu lama kasusnya, apa kendalanya?

“Disupervisi seperti itu karena jika Kejati memang tidak bisa menyelesaikannya, maka akan diselesaikan oleh KPK,” terangnya. Adapun langkah KPK menyelesaikan yakni dengan cara mengirim ataupun membantu apa yang diperlukan oleh Kejati Gorontalo.

BACA  Usai Uji Klinik, Vaksin Covid-19 Segera Didistribusi ke Gorontalo

“KPK akan mengirim tim teknis atau ahli jika memang diperlukan oleh Kejati Gorontalo,” tambahnya. Tak hanya itu, kalaupun kendala penanganan kasus itu karena lambatnya hasil perhitungan kerugian negara dari BPK dan BPKP, KPK yang akan langsung mengkomunikasikannya dengan pihak terkait.

“Jadi untuk penanganan kasus korupsi di Kejati, kami langsung mengirimkan SPDP ke KPK, sehingga KPK punya hak untuk melakukan koordinasi dan supervisi,” tambahnya. Selain itu menurut Firdaus, KPK juga menawarkan tim pencari aliran dana khusus dari KPK jika memang diperlukan oleh Kejati Gorontalo.

“KPK juga akan melakukan kontrol saat persidangan, dengan mengirim tim khusus saat persidangan dimulai,” ujarnya. Langkah ini menurut Firdaus, diharapkan bisa segera menyelesaikan kasus yang ada di Kejati Gorontalo. (kumparan/detik/yds/gp/hg)


Komentar