Jumat, 22 Januari 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



KUR Belum Prioritaskan Sektor Pertanian

Oleh Fajriansyach , dalam Ekonomi , pada Senin, 6 November 2017 | 12:33 WITA Tag: ,
  


Hargo.co.id GORONTALO – Realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga 31 Oktober 2017 telah mencapai Rp 282,2 Miliar. Porsi KUR untuk sektor perdagangan besar dan eceran masih yang paling mendominasi di Provinsi Gorontalo.

Data yang diperoleh Gorontalo Post dari Kantor Wilayah (Kanwil) Ditjen Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Gorontalo, KUR yang merupakan sharing dana dari APBN ini masih menempatkan sektor perdagangan besar dan eceran dengan realisasi paling besar, yakni mencapai Rp 174,5 Miliar pada posisi tanggal 31 Oktober 2017.

Sedangkan sektor pertanian, yang seharusnya menjadi andalan untuk meningkatkan produktivitas pertanian di Gorontalo, masih menempati posisi ke dua, yakni dengan realisasi sebesar Rp 45,5 Miliar. Sedangkan KUR sektor sektor perikanan, hanya menempati posisi ke enam dengan realisasi sebesar Rp 11,8 Miliar.

Tentu saja, realisasi KUR di Gorontalo masih saja bertolak belakang dengan harapan pemerintah dimana KUR pada tahun ini seharusnya diprioritaskan kepada para petani dan nelayan. Tapi, bukan berarti tidak diperhatikan, namun harapan pemerintah agar sektor perdagangan tidak menjadi prioritas. Di Gorontalo sendiri, sektor pertanian masih merupakan penyumbang terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Provinsi Gorontalo.

Salah seorang pengamat ekonomi, Ahmad Sapriyanto, menyebutkan fenomena tersebut tidaklah asing di negara ini, termasuk juga di Gorontalo. Pasalnya, masih banyak pelaku ekonomi di sektor pertanian yang belum bisa difasilitasi oleh penyalur KUR, “Rata-rata petani itu sulit dapat bankable (memenuhi syarat bank,red).

Ini ‘kan bicara kredit, walaupun sudah sharing dana dengan APBN atau istilahnya subsidi bunga, tapi disitu ‘kan ada uangnya bank. Biar pun sudah dijamin oleh lembaga penjamin, tapi bank juga tidak mau kerja capek-capek, terus ujung-ujungnya macet,” kata Ahmad.

Di Gorontalo sendiri, tambah mantan bankir ini, mayoritas petani merupakan petani penggarap. Mereka jelas tidak memiliki jaminan yang bisa dianggunkan ke bank. “Memang betul, namanya KUR adalah kredit tanpa anggunan.

Tapi, ceritanya, kalau ada anggunannya lebih bagus. Bank tambah yakin. Nah, bisa saja bank lebih memprioritaskan pemohon KUR yang ada anggunannya,” jelasnya. Selain itu, bedanya dengan debitur sektor perdagangan, prospeknya umumnya lebih jelas dari petani atau petani penggarap. “Disitu ada bukunya lagi (pembukuan,red). Nah, seharusnya petani diajari pembukuan juga,” timpal Ahmad.

Pengamat pertanian, Darmo Pulukadang, juga mengakui sulitnya akses petani dengan perbankan. Namun, ada satu solusi bagi petani, yang sama sekali tidak digarap pemerintah saat ini, “Jawaban bagi petani, apalagi petani penggarap, seharusnya pakai sistem resi gudang. Sebenarnya resi gudang bagus sekali dan pastinya diakomodir perbankan. Tapi sayangnya tidak jalan,” pungkasnya.(axl)


Komentar