Selasa, 27 Oktober 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Kurang Regenerasi, Alat Musik Tradisional Terancam Punah

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo , pada Senin, 27 Maret 2017 | 00:12 WITA Tag: , , ,
  


Limboto, Hargo.o.id – Kurangnya minat generasi muda dalam mepelajari pembuatan alat musik tradisional Gorontalo, menyebabkan sejumlah alat musik khas Gorontalo terancam punah, hal ini seperti diutarakan Umar Husain (40), warga Desa Talumelito yang juga selaku pemerhati budaya dan perajin alat musik Rebana, Gambus dan Marwas.

Ditemui dikediamannya di Dusun 4, Desa Talumelito, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo,Jumat (24/03), Bapak 2 orang anak, yang sejak kecil menggeluti alat musik tradisional ini mengungkapkan, untuk saat ini para perajin alat musik tradisional di daerah ini, masih bisa dihitung dengan jari. Itupun para perajinnya, rata-rata usianya sudah lanjut.

” Saat ini para perajin alat musik seperti ini, sudah jarang, dan kalau ada, rata-rata perajinnya masih didominasi oleh orang-orang tua. Sehingganya saya bersama rekan-rekan lainnya berusaha untuk tetap melestarikan alat musik tradisional ini.” Ujar Umar

BACA  Gubernur Harap Musyawarah IV KADIN Lahirkan Pengurus yang Eksis

Umar menjelaskan, sejak keil dirinya sudah tertarik dan mulai memainkan beberapa alat musik tradisional, kemudian pada tahun 2000 dirinya mulai membuat alat musik yang hanya untuk digunakan seca

Sejumlah alat musik tradisional hasil produksi masyarakat Desa Talumelito.

ra pribadi, dan pada tahun 2002, barulah alat musik produksinya mulai dikenal oleh masyarakat, dan mulai dipasarkan hingga keluar Daerah Gorontalo.

” Pada tahun 2000, alat musik ini pernah hilang dari permukaan, sehingga melihat kondisi itulah kemudian saya mulai membuat alat musik, hingga akhirnya banyak yang mulai memesan beberapa jenis alat musik.” jelasnya.

BACA  Perilaku Warga, Pengaruhi Angka Kesembuhan Pasien Covid-19

Diakui Umar, dalam memproduksi satu alat musik tradisional dibutuhkan keahlian khusus, terutama dalam menentukan jenis suara yang dihasilkan oleh alat musik tersebut. Selain itu bahan-bahan yang dibutuhkan, harus menggunakan bahan pilihan. Seperti halnya dalam mebuat Rebana, Gambus dan marwas. Ketiga alat musik ini menggunakan bahan utama yaitu batang pohon Nangka pilihan, sedangkan untuk kulit Rebana diambil dari kulit kambing pilihan pula.

Sementara itu, menyangkut harga dari setiap jenis alat musik ini, lebih banyak ditentukan oleh jenis suara dan ukurannya. Untuk harga alat musik Rebana dipatok dengan harga antara 1,5 hingga 4 juta rupiah, sedangkaan untuk alat musik Gambus, harganya bisa mencapai 2 juta rupiah, sementara alat musik Marwas dipatok dengan harga 250 ribu rupiah.

BACA  Cegah Munculnya Klaster Baru, TPS Jangan Gunakan Pendekatan Lama

Sedangkan untuk pemasarannya, pria yang tergabung dalam sanggar Woli Ponelo ini menjelaskan, untuk saat ini pihaknya lebih banyak memproduksi alat musik ini berdasarkan pesanan. Dan ternyata para pemesan, bukan saja berasal dari daerah Gorontalo, melainkan sudah merambah ke beberapa daerah lainnya, bahkan hingga menembus ke Negara Prancis.

Diakui Umar, untuk saat ini, kendala yang dihadapinya adalah kurangnya alat-alat produksi yang digunakan oleh para perajin. Sehingganya ia berharap adanya sentuhan bantuan dari pemerintah daerah. Selain itu dirinya juga berharap, untuk kedepan akan lahir generasi-generasi penerus untuk melestarikan unsur-unsur kebudayaan didaerah ini. (rvg/hargo)


Komentar