Jumat, 9 April 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Kursi Rotan Sepi Peminat

Oleh Berita Hargo , dalam Ekonomi , pada Jumat, 13 Januari 2017 | 18:04 WITA Tag:
  


GORONTALO, Hargo.co.id – Kerajinan kursi rotan di Kota Gorontalo yang dulunya menjadi usaha menjanjikan bagi sebagian pengrajin di daerah, sekarang semakin sepi peminatnya.

Rince Musa, pengusaha kursi rotan sekaligus pemilik toko Mitra Utama yang ditemui Gorontalo Post, Selasa (10/1) menuturkan, saat ini penjualan kursi modern yang biasa dikenal dengan sofa atau kursi sudut, untuk Kota Gorontalo semakin banyak, sehingga kursi rotan semakin minim peminat.

Ia merasa kalah bersaing dengan barang dan model yang ditawarkan produk-produk modern saat ini, sehingga berdampak dengan menurunnya pendapatan dan produksi kursi rotan.

” Kami memproduksi kursi rotan sudah sejak tahun 1987-an, dan sempat merasakan betul perbedaan penjualan saat ini dan dulu,” ujarnya.

Menurutnya, biasanya pendapatan yang diperoleh dari hasil produksi hingga penjualan mencapai Rp 40-45 juta per bulan, sekarang ia hanya bisa mendapatkan penghasilan paling tinggi Rp 5 juta saja perbulannya.

BACA  UMKM Sulit Dapat Modal, OJK: Itu Hanya Persoalan Komunikasi

Dia menjelaskan, hingga sekarang masih ada yang berminat untuk membeli kerajianan kursi rotan, namun hanya orang dari wilayah jauh, seperti Paguyaman, Boalemo, Suwawa, dan beberapa desa lain yang di wilayah Gorontalo.

Pembelian pun biasanya dilakukan menjelang lebaran saja, untuk hari-hari biasa jarang sekali ada peminat yang membeli kerajinan kursi rotan tersebut.

Rince mengatakan, untuk harga kursi rotan yang dijualnya ada beberapa jenis. Mulai dari kursi rotan sudut Biola satu set dihargai Rp 2 juta 500 ribu, untuk satu setnya terdapat satu kursi panjang, dua kursi kecil dan satu meja.

Begitu pula dengan kursi rotan tipe 321 yang di hargai Rp 3 juta 700 ribu. Kursi Jini Oh jini begitu nama yang diberikan oleh Rince yang dijual dengan harga Rp 1 juta 500 ribu, dengan beragam warna dan desain.

BACA  Kepiting Bakau Gorontalo Tembus Pasar Singapura

Harga ini sudah tergolong murah, jika dibandingkan harga bahan pokoknya yang semakin susah untuk didapatkan, walaupun ada pasti harganya tidak murah.

“Dulu kami bisa mendapatkan rotan dengan harga Rp 1.000 per batangnya, sekarang rotan yang kami beli dari pemasok dijual dengan harga Rp 12 ribu per batangnya, sehingga berdampak dengan berkurangnya produksi kerajinan kursi rotan yang kami jual,” ujarnya.

Untuk pasokan rotan sendiri mereka mendapatkannya dari wilayah Tapa dan Suwawa Kabupaten Bone Bolango.

Harapannya,kedepan Pemerintah Kota Gorontalo bisa membantu dalam mempromosikan kerajinan kursi rotan yang merupakan salah satu kerajinan khas Gorontalo, agar lebih dikenal dan bisa bersaing dengan kursi modern lainnya.

BACA  Mudik Dilarang, Menparekraf Beberkan 3 Strategi Peluang untuk Pelaku Usaha

Sarah, selaku ibu rumah tangga yang tinggal di Jalan Palma mengatakan, sebenarnya kursi rotan dapat bersaing dengan kursi modern terbaru lainnya.

Itu bisa saja jika pengusaha kursi rotan mempunyai inovasi, kreatifitas serta mempedulikan keinginan pelanggan, dengan mengubah desain kursi mereka sesuai dengan tren yang ada sekarang.

“Agar bisa menarik minat pembeli, para pengusaha harus dapat menyesuaikan keinginan pembeli dengan tren dan motif yang ada saat ini. Selain kreatifitas yang dituangkan, juga tidak lupa menjaga kualitas barang produksi tersebut dengan memberikan kain yang bermotif lebih modern dan menarik,” tambah ibu 2 anak tersebut.(tr-56/hargo)


Komentar