Senin, 23 Maret 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Langgar Kode Etik, Evi Ginting Diberhentikan dari Komisioner KPU

Oleh Berita Hargo , dalam Indonesia 99 Kata Kabar Nusantara KPU , pada Rabu, 18 Maret 2020 Tag:
  Ilustrasi. Diduga langgar Kode Etik, Evi Ginting diberhentikan dari komisioner KPU RI

Hargo.co.id, JAKARTA – Melalui surat nomor 317-PKE-DKPP/X/2019 Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) RI memberhentikan Evi Novida Ginting Manik sebagai komisioner KPU. Langkah itu diambil melalui sidang yang digelar pada Rabu (18/03/2020) oleh majelis hakim DKPP.

Informasi yang berhasil dihimpun, memeriksa dan memutus pada tingkat pertama dan terakhir Pengaduan Nomor 341-

P/L-DKPP/IX/2019 yang diregistrasi dengan Perkara Nomor 317-PKE-DKPP/X/2019, menjatuhkan putusan dugaan pelanggaran Kode Etik Penyelenggara Pemilu yang yang diajukan oleh Hendri Makaluasc.

BACA  Evi Ginting akan Gugat Putusan DKPP

Ini terkait dengan perolehan suara di Dapil Kalimantan Barat 6 untuk DPR RI untuk Partai Gerindra. Itu atas nama Hendri Makaluasc Caleg Nomor urut 1 dan Caleg lain atas nama Cok Hendri Ramapon, nomor urut 7, di sembilan belas desa.

Ada sebanyak 11 orang teradu pada laporan ini yang mana seluruhnya adalah anggota KPU RI dan Anggota KPU Kalimantan Barat. Hanya saja, melalui sidang DKPP, berhentikan Evi Novida Ginting Manik sebagai komisioner KPU RI sebagai Teradu VII.

BACA  Evi Ginting akan Gugat Putusan DKPP

Selain itu, juga menjatuhkan sanksi peringatan keras terakhir kepada Teradu I Arief Budiman, Teradu II Pramono Ubaid Tanthowi, Teradu IV Ilham Saputra, Teradu V Viryan, dan Teradu VI Hasyim Asy’ari masing-masing selaku Anggota KPU RI.

BACA  Evi Ginting akan Gugat Putusan DKPP

Menjatuhkan sanksi peringatan kepada Teradu VIII Ramdan, Teradu IX Erwin Irawan, Teradu X Mujiyo, dan Teradu XI Zainab masing-masing selaku Anggota KPU Provinsi Kalimantan Barat.

Surat putusan pemberhentian Evi Novida Ginting Manik telah beredar yang ditandatangani oleh Plt Ketua, Muhammad, masing-masing anggota yakni Alfitra Salam, Teguh Prasetyo dan Ida Budhiati. (red/hg)