Selasa, 13 April 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Lapak Dagangan di Tepi Jalan, Picu Kemacetan 

Oleh Fajriansyach , dalam Metropolis , pada Sabtu, 14 Juli 2018 | 08:00 WITA Tag: ,
  


Hargo.co.id, GORONTALO – Mungkin memang ini bukan penyebab utama kemacetan diKota Gorontalo. Namun jika dilihat lebih seksama, hadirnya sejumlah lapak di tepi jalan, juga menjadi salah satu penyebab kemacetan.

Bisa dilihat pada sejumlah jalan di Kota Gorontalo. Ketika ada lapak yang menggunakan sempadan jalan, maka pasti terjadi kemacetan. Selain karena menambah sempit ruang gerak pengguna jalan, hadirnya lapak di tepi jalan juga mengundang kendaraan akan parkir.

Walhasil, semakin banyak kendaraan yang parkir untuk berbelanja di lapak tersebut, kemacetan kian terjadi. Parahnya lagi, parkir terjadi pada sisi kiri dan kanan jalan, sehingga nyaris tak ada lagi jalan untuk melintas.

Ini juga disinyalir melanggar Peraturan Daerah (Perda) Nomor 02 Tahun 2018 Mengenai Ketertiban Umum.

BACA  Ingin Tahu Cara Mengganti Sepatu Kuda? Baca di Sini

Pantauan Hargo.co.id (Gorontalo Post Grup) Jumat (13/07/2018), para pedagang liar dadakan tersebut berada di tepi jalan kawasan Kalan Palma, Jalan Yos Sudarso menuju Tangga 2000, Jalan Brigjen Piola Isa, Jalan Aloe Saboe, Jalan Rusli Datau dan Jalan M Thayeb Gobel.

Sebagian besar lapak dagangan dibangun di atas saluran air atau drainase. Padahal, dalam aturan jelas menyatakan dilarang keras mendirikan bangunan diatas atau sekitar saluran air.

Saat diwawancarai, Masli Nento salah satu pedagang yang ada di Jalan Palma mengatakan, dirinya mulai berjualan di pinggiran jalan belum lama sekitar hampir setahun. Ia mengaku hanya ikut-ikutan saja berjualan dengan pedagang lainnya.

BACA  Pohon Tumbang Menimpa Satu Unit Mobil, Kondisinya Rusak Parah

“Karena saya lihat jualan teman-teman lainnya ramai dengan pembeli, maka saya ikut-ikutan berjualan di depan rumah”, ungkap Masli.

Menurutnya, ia sadar bahwa berjualan di bahu jalan atau diatas saluran memang dilarang. Namun karena tidak tahu harus berjualan di mana, sehingga dalam pikirannya lebih baik menjual di depan rumah, lebih gampang dan banyak orang singgah membeli terutama pada sore hari.

Terkait dengan adanya edaran larangan dari pemerintah Kota untuk tidak boleh berjualan di bahu jalan dan di atas saluran air, dirinya akan segera menaatinya. Namun satu hal yang menjadi harapannya yakni aturan tersebut harus diberlakukan kepada semua orang, jangan ada tebang pilih kepada para pedagang lainnya, jelas Masli.

BACA  Terlibat Kasus Narkoba, Oknum Polisi Ini Dipecat dan Pidana 9 Tahun

Sementara itu, Ismail Tanini salah satu pengendara motor ikut berkomentar terkait hal ini, dimana sebagai pengguna jalan, ia merasa terganggu dengan adanya aktifitas para pedagang tradisional terutama penjual ikan dan sayur.

“Memang satu sisi, para pedagang itu memudahkan warga untuk mendapatkan bahan pokok untuk memasak, namun di sisi lain pula akibat dari para pembeli yang menggunakan kenderaan bermotor untuk berhenti sehingga menyebabkan kemacetan, terutama mobil”, jelas Ismail.

Tidak hanya itu, bagi Ismail, para pedagang ini turut juga mempengaruhi keindahan Kota Gorontalo, seharusnya Pemerintah Kota segera menindaklanjuti masalah ini.

Laman: 1 2


Komentar