Senin, 21 Juni 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Lengkap Sudah Penderitaan Petani Bawang Merah

Oleh Aslan , dalam Ekonomi , pada Jumat, 8 September 2017 | 13:00 WITA Tag: ,
  RUSAK: Petani di Sekoto, Badas menunjukkan brambang yang diserang hama (6/9). (M FIKRI ZULFIKAR - RadarKediri/JawaPos.com)


Hargo.co.id – Setelah mereka terancam gagal panen akibat serangan hama kaper dan ulat, pada saat bersamaan harga komoditas yang biasa disebut brambang itu sedang murah-murahnya.

Dan masih ada lagi yang membuat petani menderita. Umbi bawang merah ternyata juga mendapat serangan hama yang oleh petani disebut gerandong. Hama itu langsung menyerang umbi. Dan baru ketahuan ketika dipanen. Umbi bawang merah menjadi busuk.

Seperti yang terlihat di lahan bawang merah di Desa Sekoto, Kecamatan Badas. Beberapa wanita terlihat memanen bawang merah di lahan milik Anang Susanto, kepala Dusun Sekoto, Rabu (6/9). Ketika umbi-umbi bawang merah diangkat dari dalam tanah, banyak sekali yang busuk dan berair.

BACA  Nikmati Promo Swimming Pool Deals di Aston Gorontalo & Villas Sampai 15 Juni 2021

“Ternyata hamanya tidak hanya kaper dan ulat saja. Setelah bawang merah dipanen ternyata busuk akibat hama gerandong,” terang Asiyah, salah seorang pekerja di lahan Anang.

Lahan milik Anang sebenarnya sudah terlihat tak normal. Sebagian lahannya gundul. Hanya sedikit bawang merah yang hidup. Itupun sudah bercampur dengan rumput. Tapi para pekerja tetap memaksakan melakukan panen.

“Karena rusak jadi malas perawatan. Jadi banyak rumputnya ini,” terang Asiyah.

Asiyah menerangkan keadaan ini memang awalnya rusak akibat serangan hama kaper yang menelurkan ulat. Lantas ulat pun memakan daun bawang tersebut hingga rusak. Ternyata umbinya juga mendapat serangan hama yang menjadikannya busuk, kecoklatan, dan berair.

BACA  Terus Menguat, Rupiah Berpeluang ke Level 14.200 Hari Ini

Asiyah menerangkan bahwa lahan yang mereka panen itu merupakan lahan pulihan  (hasil pemulihan, Red). Dia mengatakan lahan tersebut awalnya memang sudah rusak akibat hama ulat. Namun oleh buruh taninya disiasati dengan diberi insektisida lebih sering untuk membunuh hamanya. Walaupun begitu hasilnya tetap tidak bisa maksimal.

Dari lahan seluas banon 500, setara dengan 7.000 meter persegi, tanaman yang bisa dipulihkan hanya seluas banon 125 saja. Karena hal itu, berdampak pula dengan hasil panenan yang kemarin dilakukan para buruh petani. Bila normal, dari lahan itu bisa menghasilkan bawang merah hingga 10 ton. Karena rusak akhirnya hanya bisa menghasilkan 800 kg bawang merah saja. “Sudah jelas Pak Kasun rugi Mas pada panenan ini,” terang perempuan bercaping itu.

BACA  Pasca Lebaran, Harga Ayam Pedaging Mulai Turun 

Padahal, di sisi lain harga bawang merah sedang jelek. Sedang murah-murahnya. Dari petani harga per kilogramnya hanya Rp 8 ribu saja. Padahal empat bulan lalu harga bawang merah di tingkat petani bisa mencapai Rp 35 ribu per kilo.

“Pas bawang merah rusak-rusaknya, harganya juga pas murah-murahnya,” keluh Asiyah.

(rk/fiz/die/JPR/hg)


Komentar