Friday, 24 September 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Lestarikan Budaya, Anak-anak Randangan Lihai Menari Kuda Lumping

Oleh Admin Hargo , dalam Headline Ragam , pada Friday, 23 July 2021 | 17:05 PM Tags: , ,
  Anak-anak di Kecamatan Randangan yang sedang menunjukkan kebolehannya dalam menari Kuda Lumping guna melestarikan budaya tradisional setempat (Rita Setiawati/HARGO)

Hargo.co.id, GORONTALO – Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, membuat anak-anak zaman sekarang jarang mengenal budaya tradisional. Anak-anak zaman sekarang lebih suka bermain game online dibandingkan memainkan permainan tradisional maupun mengenal budaya tradisional.

Padahal, memperkenalkan budaya tradisional kepada anak zaman sekarang sangatlah penting dan perlu dilakukan sedini mungkin agar bisa menumbuhkan kesadaran dalam dirinya agar lebih mencintai bangsa dan negaranya. Mengenalkan budaya ini juga bisa membuat anak lebih menghargai keberagaman budaya yang ada di sekitarnya.

Sama seperti halnya dengan upaya pelestarian beberapa budaya tradisional yang ada di Desa Manunggal Karya, Kecamatan Randangan, Pohuwato.

Desa Manunggal Karya merupakan desa Eks Transmigrasi UPT Marisa 1 yang masyarakatnya terdiri dari berbagai macam suku, bahasa dan agama, serta berasal dari berbagai daerah yaitu etnis Jawa, Bali, Madura, NTB, Minahasa dan warga Gorontalo sendiri. Berdasarkan beberapa suku yang ada di desa tersebut, tentu saja masyarakat itu membawa kesenian tradisional dari daerah asal untuk di lestarikan dan dipertahankan di tanah Gorontalo tercinta.

Kesenian tari Kuda Lumping bukan hanya bisa dilakukan oleh laki-laki saja, namun remaja wanita juga bisa melakukannya. (Rita Setiawati/HARGO)

Budaya tradisional yang saat ini mulai diperkenalkan adalah kesenian Tari Kuda Lumping. Seni tari ini dimainkan dengan properti berupa kuda tiruan, yang terbuat dari anyaman bambu dengan dihiasi rambut tiruan dari tali plastik serta diiringi oleh musik gamelan. Kesenian ini juga bisa dimainkan oleh berbagai macam kalangan mulai dari anak-anak, remaja bahkan dewasa.

Kepala Paguyuban Seni Tari Kuda Lumping Rukun Turonggo Mudo, Sunaryanto menuturkan, sejak kedatangan warga transmigrasi pada 1985, mereka mendirikan kesenian tradisional Kuda Lumping. Itu berdiri hingga sekarang sebagai media hiburan untuk masyarakat dan mengorganisasikan anak-anak muda yang ada di pemukiman transmigrasi itu sendiri.

Kepada wartawan Hargo.co.id, Sunaryanto mengaku, jika penari Kuda Lumping sekarang ini bukan hanya anak-anak dan remaja dari Suku Jawa saja. Melainkan dari etnis Gorontalo juga tertarik untuk menjajal kesenian tradisional ini.

“Dalam Seni Tari Kuda Lumping Rukun Turonggo Mudo ini sendiri, anggota yang tergabung mulai dari anak-anak usia 10 tahun sampai 70 tahun,” katanya.

Upaya yang dilakukan paguyuban ini dalam menarik minat anak-anak untuk melestarikan tarian kuda lumping sendiri adalah dengan rutin melakukan pertemuan dan latihan. Dengan adanya musik gamelan merdu yang terdengar serta diingiringi tarian yang lihai, tentu saja membuat masyarakat termasuk anak-anak tertarik untuk bergabung dalam kesenian tradisional ini.

Salah satu anak yang mengikuti kesenian ini adalah Alfarez B. Pratama (12) ketika ditanya alasan mengapa mau melestarikan budaya ini jawabannya adalah “Ya karena keren. Alfa suka kesenian ini dari umur 5 tahun bahkan jika ada pementasan pasti selalu menonton,” katanya.

Anak-anak yang ingin bergabung cukup lapor kepada pengurus, setelah itu akan didaftarkan dalam organisasi kemudian akan ditanya apakah dia mau ikut latihan apa. Karena seni tari kuda lumping ini banyak macamnya seperti pegon, trill, senggrang dan masih banyak lagi. Sehingga anak-anak diberikan kesempatan untuk memilih hendak ikut apa.

Untuk satu kali tampil, penari Kuda Lumping beserta anggota penabuh gamelan melaksanakan latihan 3 kali dalam satu bulan sehingga tak heran jika dalam setiap penampilan mereka terlihat sangat lihai. (*)

Penulis: Rita Setiawati
(Visited 200 times, 1 visits today)

Komentar