Sabtu, 17 April 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Lima Tahun Kuliah Ternyata Ijazah ‘Ilegal’

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo Headline , pada Kamis, 9 Maret 2017 | 11:18 WITA Tag: , ,
  


LIMBOTO Hargo.co.id – Salah seorang alumni Universitas Gorontalo (UG), Abdullah Said tak habis pikir. Ijazahnya yang ia raih setelah kuliah selama lima tahun di UG ternyata tak berfungsi.

Lulusan jurusan administrasi niaga ini mengatakan, ijazahnya termasuk ilegal karena tidak terdaftar di Forlap Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Akibatnya, ia tidak bisa mendaftar kerja disejumlah tempat.

Termasuk saat melamar CPNS pada tahun 2014, berkas ijazahnya ditolak. Kendati begitu, ia tidak mempersoalkan saat dinyatakan gugur berkas CPNS. Ia baru menyadari ternyata ijazahanya tidak bisa digunakan setelah melamar kerja di salah satu perusahaan MNC Grup.

BACA  Hamzah Sidik Laporkan Mantan Karo Hukum Pemprov Gorontalo ke Polisi

Verifikasi ijazah yang dilakukan perusahaan tersebut menyebutkan jika ijazanya asli namun tidak terdaftar di DIKTI. “Saya seperti beli ijazah atau ijazah saya ini saya peroleh dengan cara instan. Padahal saya kuliah. Teman-teman angkatan saya ada. Saya kuliah lima tahun,”kata Abdullah Said.

Kepada koran ini Abdullah Said mengatakan, ia merupakan angkatan pertama Universitas Gorontalo pada tahun 2001 lalu. Ia pertama mendaftar pada jurusan kesehatan masyarakat.

Namun pada semester ke dua memutuskan pindah ke jurusan administrasi negara. “Pak Sarifudin Bano yang sekarang anggota dewan (DPRD Kabupaten Gorontalo) itu seangkatan dengan saya,”ujarnya.

BACA  Nelson Pomalingo Masuk Nominasi 100 Tokoh Peduli Lingkungan Versi Majalah Tempo

Saat pindah jurusan, ia mendapatkan nomor stambuk 2122001. Nomor stambuk itu juga tertera pada ijazah yang ia terima setelah diwisuda. Ijazah nomor 007/20202/FSI_UG/2006 itu ditandatangani rektor UG saat itu, Dr.Amir Tjoneng dan Dekan Fakultas Ilmu Sosial Robby Hunawa.

Menariknya, pada transkrip nilai justeru tertera nomor stambuk 2122002, berbeda dengan nomor stambuk yang tertera di ijazah. “Saya heran nama saya tidak muncul. Tapi yang seangkatan dengan saya ada semua,”ungkapnya. Lebih lanjut Abdullah Said mengatakan,pada 11 Mei 2016 ia melakukan legalisir ijazah di kampus.

Saat itu, rektor UG Dr. Ibrahim Ahmad menandatangani legalisir yang ia ajukan dengan nomor legalisir 018/UG/VI/2016. “Berarti ijazah saya asli. Karena dilegalisir,”tandasnya. Ia mengaku kaget, saat pihak MNC TV menyatakan jika ijazahnya tidak terdaftar di DIKTI.

BACA  Kerja Sama Pengembangan SDM Pemprov Gorontalo Dengan ATMI Solo Diperpanjang

Saat itu juga ia baru menyadari, jika ternyata sejak tahun 2006, ternyata ijazahnya tidak berfungsi. “10 tahun saya cari kerja selalu ditolak, ternyata kendalanya ijazah.

Saya pernah melamar jadi pendamping desa, hasil tes mendapat peringkat pertama tapi kandas, karena ijazah,”katanya. Ia lantas melakukan klarifikasi ke kampus pada tanggal 23 Februari 2017.Hanya saja ia mendapati jawaban yang kurang memuaskan, sebab setelah dicek ijazahnya memang tidak terdaftar di Dikti.

Laman: 1 2


Komentar