Kamis, 8 April 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Lokasi Demplot Tilongkabila Jadi Lahan Percontohan Pengembangan Cabe di Gorontalo

Oleh Zulkifli Polimengo , dalam Advertorial Gorontalo , pada Jumat, 6 November 2020 | 17:05 WITA Tag:
  Jajaran Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo bersama Rusli Habibie dan Plt. Bupati Bone Bolango, saat melakukan panen perdana cabe di lahan demplot Dinas Pertanian yang berada di Desa Butu, Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango Jumat (6/11/2020). (Foto: Istimewa)


Hargo.co.id, GORONTALO – Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo melakukan panen perdana cabe di lahan demplot Dinas Pertanian yang berada di Desa Butu Kecamatan Tilongkabila Kabupaten Bone Bolango, Jumat (6/11/2020).

Menurut Kepala Dinas Provinsi Gorontalo Muljady Mario, lahan percontohan pengembangan cabe ini menerapkan berbagai teknologi yang mendukung pertumbuhan cabe.

“Areal percontohan ini kita mengaplikasikan berbagai macam teknologi. Ada teknologi bagaimana pengendalian penyakit yang ramah lingkungan, kemudian pemupukan baik organik maupun unorganik, kemudian juga teknik-teknik budidaya,” jelas Muljady.

Muljady mengharapkan lahan ini nantinya bisa menjadi lokasi pembelajaran baik untuk para petani maupun penyuluh.

BACA  Kendaraan PCR Mobile, Solusi Pemprov Gorontalo Percepat Penanganan Covid-19

“Harapannya nanti ini bisa menjadi areal percontohan yang didatangi oleh petani-petani kita, termasuk penyuluh untuk mereka belajar, kemudian apa yang ada dari sini bisa di replikasi di wilayah kerja atau wilayah usaha mereka,” harap Muljady.

Di tempat yang sama hadir juga Rusli Habibie. Rusli yang hadir meninjau langsung panen cabe malita mengungkapkan, saat ini Provinsi Gorontalo masih mengandalkan pasokan dari luar Gorontalo. Dengan adanya pengembangan lahan tidur untuk penanaman cabe ini, diharapkan bisa membuat Gorontalo tidak lagi melakukan pasokan dari luar daerah, melainkan bisa memasok cabe ke luar daerah.

BACA  Tunjang Kinerja Petugas DI, Bidang SDA Dinas PUPR Prov. Gorontalo Terapkan e-PAKSI

“Karena kenapa? Sumber daya alam kita ini masih cukup, banyak lahan yang hanya menganggur, banyak lahan tidur. Apalagi sekarang cabe harganya cukup tinggi, jadi cukup menggiurkan bagi petani. Makannya kita tawarkan jika ada masyarakat untuk membentuk kelompok, kita akan bantu,” ungkap Rusli.

Rusli mencontohkan, keterlibatan masyarakat nanti polanya seperti penggarap yang selalu hanya menanam singkong, singkong dan singkong lagi, maka akan coba dialihkan ke cabe. Apalagi sekarang lagi masa pandemi, dimana lebih banyak masyarakat yang kehilangan penghasilan akibat tidak bekerja.

“Saat ini banyak masyarakat yang tidak ada pekerjaan maka kita alihkan bercocok tanam. Nanti cara menanamnya dan bibitnya semua akan didamping oleh Dinas Pertanian. Ini juga sejalan dengan program pak presiden tentang petani milenial. Dari pada kaum milenial hanya duduk nongkrong tidak jelas, mending kita buat lebih produktif,” tambahnya.

BACA  Sebanyak 54 KK di Kabgor Terima Bantuan Mahyani BPSP

Demplot cabe yang di panen ini terdiri dari 7 petak di lahan seluas 3 ha dengan jumlah pohon sekitar 8 ribu pohon cabe, dengan masa penanaman yang berbeda. Varietas yang digunakan cabe malita yang merupakan varietas lokal. Cabe ini bisa bertahan panen terus hingga jangka waktu dua tahun jika dirawat dengan baik.(zul/adv/hargo)


Komentar