Selasa, 25 Januari 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Luar Biasa! Kakak Beradik Asal Indonesia Yang Meraih Emas Olimpiade Matematika di Korsel

Oleh Aslan , dalam Headline Kabar Nusantara , pada Sabtu, 4 Agustus 2018 | 10:10 AM Tag: , , ,
  

“Saya paling banyak dapat kenalan dari Tiongkok karena mereka juga sudah sering ikut lomba. Kalau Shin Shi banyak kenalan dari peserta sesama Indonesia dan Taiwan,” ucap perempuan berusia 11 tahun itu.
Sukses meraih medali emas berkali-kali di WMI, Kiko mengungkapkan kuncinya karena banyak mempelajari soal untuk grade SMP. Sehingga dia tidak hanya menguasai materi yang sesuai dengan level sekolahnya. Selama ini, Kiko tak memiliki banyak waktu untuk persiapan WMI 2018. Sebelumnya waktunya banyak terpusat pada olimpiade matematika di Bulgaria.

Hanya sempat belajar satu atau dua hari sebelum berangkat ke Korsel. Meski setiap tahun sibuk dengan berbagai lomba matematika, Kiko mengatakan tak ada rasa jenuh. Alasannya karena setiap lomba diadakan di tempat yang berbeda. Itu membuatnya memiliki beragam pengalaman menjelajah tempat baru.

Tinggal satu rumah hingga satu sekolah, ternyata bukan berarti kakak beradik ini memiliki cara belajar yang sama. Keduanya memiliki karakter berbeda. Kiko lebih menyukai ketenangan, dia senang belajar sendiri sambil bersantai di kamar. Sedangkan adiknya lebih aktif, dia suka belajar sambil bernyanyi atau berjalan ke sana kemari.

“Tapi saya sering kasih saran dan bantu juga. Saya suruh dia serius dalam belajar biar fokus. Kalau sekarang sudah mendingan,” ujarnya tertawa. Sementara itu, sang adik membalas pernyataan kakaknya. Shin Shi menuturkan, lebih sering akrab dengan kakak bukan saat belajar bersama. Namun karena bermain bersama.

“Kalau belajar paling suka di kamar sambil ditemani Mama dan Papa,” sebutnya sambil tersenyum. Bocah berusia 9 tahun itu mengatakan, tak pernah merasa terpaksa untuk ikut lomba. Selama ini, motivasi ikut lomba justru karena melihat figur Kiko.

Shin Shi mengaku senang melihat kakaknya berprestasi. “Tidak ada yang paksa, memang mau seperti Cece (Kiko),” imbuhnya. Selain itu, salah satu motivasi mengikuti lomba karena tak ingin melewatkan kesempatan liburan di luar negeri. Seperti sang kakak yang sudah bisa keliling ke berbagai negara hasil dari mengikuti lomba matematika.

Selain matematika, Shin Shi mengisi waktu luang dengan bermain piano, melukis, dan renang. Belum lagi kakak beradik ini sibuk dengan aktivitas les bahasa Inggris. Menurut sang ayah, Rudy Susanta, kedua anaknya tetap membutuhkan seni dan olahraga di luar dari bidang pelajaran utama.

Cara tersebut membuat pemikiran putrinya seimbang dan tidak stres akibat belajar terus- menerus. “Tapi saya malah ingin coba lomba sains nanti. Sekarang masih mau persiapan diri banyak latihan biar bisa ikut lomba sains,” ungkap Shin Shi dengan polos dan menggemaskan.
Setelah pulang dari Korea Selatan, kini Noriko memiliki setumpuk agenda perlombaan yang menanti. Ada berbagai kegiatan yang berlangsung selama Agustus hingga November. Kali ini, Kiko akan fokus pada perlombaan yang diadakan kalangan perguruan tinggi.

Misalnya, Pekan Matematika Nasional di Universitas Brawijaya Malang hingga Olimpiade Matematika Vektor Nasional (OMVN) di Universitas Negeri Malang. Seluruhnya berjalan sekitar Agustus dan September. “Mengincar lomba di universitas, biar namanya juga mulai dikenal di dunia kampus,” ucap Rudy.

Sebelumnya, Kiko pernah meraih Juara I OMVN Malang, Juara I Prisma Makassar, dan Juara I Astramatika Samarinda. “Kalau untuk lomba internasional, paling dekat November ada lomba AMO (American Mathematics Olympiad) di Malaysia. Noriko terpilih mewakili Indonesia,” tuturnya.

Sementara Shin Shi, mungkin akan fokus dalam pembinaan. Dia memang baru mengikuti lomba sekitar dua tahun terakhir. Kali pertama dia mencoba saat duduk di bangku kelas 2 SD. Rudy merasa sebuah tantangan juga untuk dia dan sekolah agar Shin Shi mampu bersaing dengan kompetitor dari luar negeri.

“Akhirnya kami coba bina, setelah satu tahun ternyata mulai terlihat bisa bersaing. Dari situ saya menyimpulkan bahwa kunci suksesnya adalah pembinaan dini,” katanya. Rudy turut senang karena beberapa sekolah lain juga mulai menjadi wadah untuk lomba matematika. Sehingga banyak siswa yang mampu mendapat pembinaan lagi.

Dia berharap, pemerintah daerah juga dapat memberi perhatian kepada siswa-siswa yang berprestasi di bidang olimpiade. Misalnya memberi bantuan dengan cara mendatangkan sumber daya manusia atau guru terbaik. Pengajar yang bisa memberikan pembinaan untuk olimpiade bertaraf internasional.

“Semoga ada banyak berdatangan guru terbaik yang bisa membina anak-anak. Saat ini masalahnya juga kekurangan SDM (sumber daya manusia). Semoga bisa terbantu dari pemerintah daerah dengan memberi insentif untuk para guru. Terutama mereka yang bisa menjadi pembina pada kompetisi level internasional,” pungkasnya. (rom/k16/hg)

Sumber : Jpnn.com

(Visited 6 times, 1 visits today)

Laman: 1 2


Komentar