Jumat, 7 Oktober 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Macan Besar

Oleh Admin Hargo , dalam DI'SWAY , pada Sabtu, 13 November 2021 | 10:05 Tag: , , ,
  Macan Besar - DI'SWay

Oleh : Dahlan Iskan

KALAU saja, kala itu, menuruti kemauan sang istri, ia hanya jadi apa ya?

Ia pilih cerai. Atau istrinya yang justru memilih cerai. Sekian banyak tahun kemudian bintang Xi Jinping sudah berada di atas langit. Xi Jinping pun terpilih menjadi presiden Tiongkok.

Lalu, terpilih lagi.

Bahkan, akan terpilih lagi untuk kali ketiga, tahun depan.

Tanda-tandanya terlihat jelas dua hari lalu. Yakni di akhir sidang pleno Komite Pusat Partai Komunis Tiongkok.

Di forum itu ditetapkan: berkat kepemimpinan Xi Jinping, Tiongkok punya capaian yang harus dicatat dalam sejarah 100 tahun partai komunis. Hanya pernah dua orang yang layak masuk sejarah 100 tahun itu: Mao Zedong dan Deng Xiaoping. Kini menjadi tiga: Xi Jinping.

Mao adalah pendiri Partai Komunis Tiongkok. Panggilan kebanggaannya: Ketua Mao.

Deng Xiaoping adalah peletak dasar pembangunan ekonomi Tiongkok. Yang hasilnya menjadi seperti sekarang.

Xi Jinping?

Awalnya ia mengawini wanita Kanton: Ke Lingling (柯玲玲). Biasa juga dipanggil Ke Xiaoming (柯小明).

Lingling kelahiran Puning, satu kabupaten kecil di Provinsi Guangdong. Puning sendiri berada di pelosok. Sudah lebih dekat ke Provinsi Fujian. Hanya sepelempar batu dari Kota Shantou.

Perkawinan itu terjadi tahun 1979. Yakni, tidak lama setelah Xi Jinping lulus kuliah. Di Tsinghua University, Jinping mengambil jurusan teknik kimia. Itu universitas terbaik di Tiongkok.

Rupanya Jinping mengenal Lingling di kampus itu. Mereka datang dari budaya yang sangat berbeda: Lingling suku Kanton di selatan. Zaman itu wilayah selatan, khususnya Guangdong, jauh lebih kuat ekonominya.

Jinping suku Shanxi di utara. Jauh lebih miskin daripada Guangdong.

Ayah Lingling punya jabatan terhormat: duta besar Tiongkok di Inggris. Tiga tahun setelah perkawinan itu, Lingling mengajak Jinping hidup di Inggris. Jinping tidak mau. Lingling ngotot. Mereka cerai: belum punya anak.

Setelah perceraian itu, Jinping dapat pekerjaan: menjadi sekretaris pejabat daerah. Sang pejabat dulunya anak buah ayahnya.

Sejak sebelum mahasiswa, Jinping ingin terjun ke politik. Ayahnya memang orang penting: termasuk pendiri partai. Ia melamar untuk menjadi anggota partai itu. Ditolak. Melamar lagi. Ditolak lagi. Di lamaran kelima barulah Jinping diterima.

Sampai sekarang masih begitu. Untuk menjadi anggota partai, harus mendaftar. Lalu diseleksi. Setelah lulus pun harus mengikuti pendidikan partai. Pendidikan yang berjenjang.

Karier politik Jinping merambat dari bawah. Mula-mula menjadi wakil sekretaris partai tingkat kabupaten. Lalu, merambat naik. Lewat Kota Xiamen (Amoy) di Fujian. Ia jadi sekretaris partai di kota itu: lebih berkuasa daripada wali kotanya. Itu tahun 1987. Setelah lima tahun menduda.

Lalu, Jinping jadi sekretaris partai tingkat provinsi: Fujian. Lebih berkuasa daripada gubernur.

Tahun 1987 itulah Jinping mengawini Peng Liyuan –first lady Tiongkok sekarang. Dia penyanyi paling terkemuka di Tiongkok. Kelahiran Shandong.

Peng Liyuan terkenal dengan lagu-lagu khusus: perjuangan dan cinta tanah air.

Dia sering menyanyi di acara-acara militer. Pakai baju militer. Saking hebatnya Peng Liyuan sampai mendapat pangkat brigadir jenderal.

Pasangan itu punya anak satu. Wanita. Kuliah di Harvard, Boston, Amerika Serikat. Mestinya sudah agak lama tamat.

Di era kepresidenan Xi Jinping inilah Tiongkok mencapai tahap negara super power. Pun ketika dihambat dua tantangan besar: perang dagang dengan Amerika Serikat dan Covid-19.

Di era Jinping pula kemiskinan hilang di Tiongkok –tentu semua presiden, sejak Deng Xiaoping, punya andil di dalamnya.

Hongkong yang hampir lepas, juga berhasil dicegah: lewat keotoriterannya.

Selama di jabatannya, korupsi dihabisi habis-habisan. Sudah 1 juta pejabat yang ditindak terkait korupsi. Ia tidak peduli: macan diberangus, kutu dibungkus. Selama Xi Jinping jadi presiden, istilah ”macan” dan ”kutu” memang populer. Semua takut ke macan yang lebih besar: Xi Jinping.

Dunia juga menghargai Jinping dari segi keseriusannya mengurangi polusi. Dulu langit Hongkong pun sampai kelabu: dapat kiriman polusi dari Guangdong. Kini langit Hongkong kembali biru.

Kalaupun ada yang belum tercapai di sana tinggallah satu: Taiwan belum berhasil kembali ke pangkuan ibu pertiwi.

Mungkin di periode ketiganya nanti.

Tanda-tanda Jinping akan menjabat kali ketiga mulai terlihat tahun 2018. Yakni, saat parlemen di sana mencabut ketentuan lama: Presiden hanya bisa menjabat dua periode. Sejak itulah santer apa makna di balik pencabutan itu. Dua hari lalu makna tersebut menjadi jelas. Tapi, resminya memang baru akan diputuskan dalam kongres Partai Komunis tahun depan.

Itu kalau tidak ada kejadian dadakan. Siapa tahu semua macan dan kutu di sana mendadak berubah menjadi celeng. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Artikel Berjudul PDI Jazuli.

Fadil Wira Dwi B.
Masyaallah, Luar biasa tirakatnya, puasa tiap hari!!! Dunia timur, kekuatan-kesehatan itu dibangun dengan tirakat/puasa, dunia barat kekuatan/kesehatan dibangun dgn pemenuhan gizi dst. Kita saat ini banyak berkiblat ke dunia barat, padahal dunia barat sendirii sdh mulai aware pada “kebijaksanaan” ketimuran…

Aryo Mbediun
Saat2 gini ini, terbaik u mbahas celeng. Celeng kalau bisa nahwu shorof punya kecenderungan membangun negeri. Demikian ringkasan 2 tulisan kemarin dan hari ini.

Mbah Mars
Tidak puasa hanya 6 hari. Saya menghitung hari2 yg diharamkan berpuasa. Dua hari raya, tiga hari tasyrik. Yg satu hari itu hari apa ya? Saya menduga ini: tanggal 30 Sya’ban. Hari ini sering menjadi hari Syak (ragu2). Hari Syak adalah hari saat orang2 ragu mengenai permulaan bulan Ramadhan sebab hilal tidak terlihat. Saat itu tdk ada kejelasan apakah sudah masuk Ramadhan atau belum. Mayoritas ulama hanya memakruhkan berpuasa di hari Syak ini. Bukan mengharamkannya. Mayoritas ulama juga melarang puasa terus setiap hari di luar 6 hari tersebut.

Denny Herbert
Hebat Pesantren ini.. bukan hanya belajar ilmu pengetahuan tapi belajar kehidupan… Berani sengsara.. tidak takut menderita…  Pelajaran ini yg tidak dipunyai institusi belajar umumnya.  Hal itu juga yg mampu melawan cara hidup hedonism, materialism, hidup pamer di sosmed dll… Sebenarnya hidup itu murah yg mahal biaya pamernya.. Sebagai non Muslim, ingin belajar dari ustad ini.. orangnya down to earth tapi berwawasan sampai ke bulan. Salut.. belajar untuk maju dan membawa kemajuan selalu…

Hariyanto
Sudah biasa NU itu PDIP atau partai apapun, karena itulah PKB itu tidak akan pernah bisa besar. Bahkan seandainya NU jadi partai seperti dulupun, tetap saja warga NU akan menyebar ke semua partai. Persis seperti umat Islam yang sepertinya tidak akan mungkin bersatu dalam satu partai, entah suatu saat nanti, menjelang kiamat tiba, baru ada saat persatuan yang singkat, menjelang semuanya kembali, entah kapan, tapi pasti akan tiba.

SukaBaca
Sy menggaris bawahi kata “tirakat”, berani sengsara dan tidak takut menderita. Hal itu mungkin yang perlu ditanamkan dalam setiap orang karena apa yang menjadikanmu saat ini adalah hasil dari saat sebelumnya…

Tunk B
Gus Baha, Gus Jazuli, Gus Aguk, Ust Somad dll yang lahir dari tradisi NU saya rasa tidak ada gesekan yang berarti, karena berjalan dan menekuni bidang-bidang yang berbeda. Gus Baha ahli ilmu kuno (Ahli Fiqh dan Tafsir) dan tidak ada yang meragukan kedalaman ilmunya, yang saya rasa Gus Jazuli juga tidak bisa menggapainya. Sedangkan Gus Jazuli punya kelebihan, dalam bidang politik dan kaderisasi modern yang tidak bisa dijangkau oleh Gus Baha. Sedangkan Gus Aguk, selama beliau kuliah, kegiatannya lebih condong ke sastra (novel, puisi dan teater).\

Komentator Spesialis
Siapa ustadz yang paling banyak followernya di Youtube? Diatas 2 juta follower ada Ustadz Abdul Somad, Ustadz Khalid Riza Basalamah dan Ustadz Hanan Attaki. Ustadz Adi Hidayat dan Gus Baha saya tidak bisa cek berapa followernya. Tentu banyak. Berikutnya diatas 1 juta follower ada Ustadz Syafiq Riza Basalamah. Dan ternyata da’i kondang seperti ustadz Yusuf Masyur dan A’a Gym masih dibawah 1 juta. Untuk channel, tertinggi masih dipegang oleh Yufid TV channel dengan follower diatas 3 juta.

selawe Disway
Kalau menurut saya ini bukan pesantren, sekolah umum dengan tambahan ilmu-ilmu agama Islam. Sekolah dengan siswa wajib asrama (walaupun pesantren juga demikian, tp ada makna khusus)

Ahmad Zuhri
Minggu kmrn terima raport PTS anak..  Shorof, MTK, IPA nilai nya kurang, tapi saya biasa aja dan maklum.. karena anak nya mmg dominan otak kanan.. Sempat minta maaf karena nilainya masih ada yg jelek, saya hanya bilang masih ada kesempatan waktu Semester an.. Toh saya jg ga menuntut harus bagus semua nilainya, karena saya yakin setiap anak punya kelebihan masing2..

Disway Reader
Belajar ke Iran takut menjadi Syi’ah, ke Saudi takut jadi Wahabi, ke Mesir takut Liberal….makanya banyak yang ke Hadramaut Yaman.

Dulu banyak pahlawan nasional dari Sumbar. Mayoritas mereka berjuang tidak angkat senjata. Tapi menggunakan “senjata pena”. Benarkah semangat kepahlawanan itu kini telah luntur? Benarkah Sumbar sudah tidak pancasilais? Dahlan Iskan membahas hal itu dengan Gubernur Mahyeldi Ansharullah di Energi Disway Podcast berikut ini.   

(Visited 24 times, 1 visits today)

Komentar