Kamis, 7 Juli 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Mahasiswa Poligon Unjuk Ragam Kreasi

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo , pada Sabtu, 10 Desember 2016 | 10:04 Tag: ,
  

TARUNA REMAJA, Hargo.co.id - Menggeluti disiplin ilmu teknik permesinan dan pengelasan, sepertinya para mahasiswa Politeknik Gorontalo tidak ingin diam saja memanfaatkan Pekan Raya Gorontalo (PRG).

Mereka ikut memajang aneka kreativitas mereka dengan memajang aneka mesin yang mereka kreasikan dari barang bekas.

Sirajudin Haluti, Dozen praktikum yang sempat dikonfirmasi Gorontalo Post Jumat (9/12) menuturkan, beberapa alat yang dipajang tersebut merupakan karya mandiri para mahasiswa binaannya.

“Kalau alat pemotong dan pengupas nanas dibuat Rival Daud, alat plat tahu dibuat Ahmad Sunge, jam dinding dibuat Rion Djafar, lampu tidur, dikreasikan oleh Jemris Saurullah dan beberapa alat lainnya yang kami pajang,” ujarnya.

Sirajudin memastikan, semua hasil kreasi yang mereka pajang tersebut berasal dari barang bekas yang dikelola menjadi barang-barang siap pakai.

” Bahkan beberapa dari produksi anak-anak Politeknik Gorontalo cukup menbanggakan, seperti buatan Buyung Lakoro,berupa mesin pengering ikan asin dan teri yang pernah mendapatkan peringkat pertama pada ajang nasional yang diselenggaraka di jakarta pada tahun 2015 silam,” jelasnya.

Bahkan kata Sirajudin, sejak tahun 2008 hinga sekarang sudah banyak dari buatan tangan anak-anak Politeknik Gorontalo yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat.

Beberapa jenis alat lainnya telah di produksi antara lain pengering jagung dan ikan teri,pencacah plastik, pengiris singkong dan daging,pengering ikan asin dan teri,pembuat biotanol,pengayak pasir,serta pencacah jerami yang dapat bermanfaat bagi proses pertanian dan perikanan.

Selain memproduksi barang sendiri Politeknik Gorontalo juga bekerja sama dengan beberapa perusaan diantaranya PT.Dempo Surabaya, PT Pindad Bandung, PT Klarien Jakarta, PT Iki Makassar,dan PT Iki Bitung serta PT Tri Jaya Tangguh yang ada di Kabupaten Gorontalo.

“Sebetulnya banyak kreasi yang bisa diproduksi, hanya saja kami terkendala dengan persoalan klasik, yaitu waktu dan dana, disamping juga belum adanya lapangan atau fasilitas khusus untuk produksi peralatan tersebut, ini tidak hanya menjadin kendala bagi mahasiswa, namun juga menjadi kendala tersendiri bagi dosen-dosen praktikum.” tandasnya. (tr-56/hargo)

(Visited 1 times, 1 visits today)

Komentar