Sabtu, 17 April 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Mantan Sekjen PBB Meminta Facebook untuk Bentuk Tim Atasi Kebencian terhadap Rohingya

Oleh Aslan , dalam Headline Kabar Dunia , pada Sabtu, 5 Mei 2018 | 10:39 WITA Tag: , , ,
  Kofi Annan (Foto: AFP)


FRANCISCO, Hargo.co.id – Mantan Sekjen PBB Kofi Annan mengusulkan kepada Facebook untuk membentuk tim yang bertugas menanggulangi dengan cepat maraknya ujaran kebencian di Myanmar.

Merebaknya kekerasan terhadap Muslim Rohingya di Negara Bagian Rakhine, salah satunya terjadi karena maraknya ujaran kebencian di Facebook. Usulan Annan itu disampaikan kepada para staf Facebook setelah Chief Product Officer Chris Cox memintanya memberi masukan terkait konflik di Myanmar.

BACA  China Minta WHO Selidiki Asal-usul COVID-19 di Negara Lain

Menurut pria yang memimpin komisi PBB untuk krisis Myanmar itu, Facebook harus mempertimbangkan kondisi masyarakat yang mudah terhasut oleh pesan-pesan bernada kebencian terhadap suatu kelompok. Facebook bisa mengambil peran dengan mengontrol penggunaan bahasa yang diunggah pemilik akun.

Pakar HAM asal Amerika Serikat yang menyelidiki kemungkinan adanya pembersihan etnis Rohingya di Myanmar mengatakan, Facebook memainkan peran dalam menyebarkan ujaran kebencian. Hampir 700.000 Muslim Rohingya mengungsi ke Bangladesh sejak kekerasan pecah pada Agustus tahun lalu.

BACA  Pemerintah Resmi Tetapkan Mudik Lebaran 2021 Ditiadakan

Hal senada disampaikan Annan, media sosial bahkan membuat krisis di Myanmar menjadi lebih buruk.

“Jika memang itu masalahnya, apakah ada titik temu ketika tindakan pencegahan bisa diambil untuk menghentikan penyebaran pesan? Ini adalah masalah yang mungkin perlu dipikirkan,” kata Annan, dikutip dari Reuters.

Pertanyaan itu ditanggapi Cox, “Itu sesuatu yang kami anggap serius.”

BACA  ‘Wisata Jalan Pelangi’, Destinasi di Sekitar Makam Pahlawan Nani Wartabone  

Saat ini Facebook memiliki lebih dari 7.500 karyawan bertugas memantau posting-an yang melanggar aturan perusahaan. Namun kendalanya, di beberapa negara Facebook membutuhkan orang yang memahami kondisi sosial setempat, termasuk Myanmar. (inews/hargo)

Editor : Anton Suhartono


Komentar