Selasa, 15 Juni 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Marah-marah, Pasien Korban Gempa Tinggalkan RSAS

Oleh Berita Hargo , dalam Headline Metropolis , pada Rabu, 17 Oktober 2018 | 03:00 WITA Tag:
  


Hargo.co.id, GORONTALO – Salah satu keluarga pasien korban gempa dan tsunami Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), protes pelayanan Rumah Sakit Aloe Saboe (RSAS) Kota Gorontalo, kemarin, Selasa (16/10). Mereka kecewa karena pihak RSAS dinilai tebang pilih dalam memberikan pelayanan.

Menurut penuturan keluarga pasien, sebelumnya untuk menempati ruang rawat inap kelas satu, pihak keluarga pasien harus booking terlebih dahulu lantaran saat itu ruang rawat inap dalam keadaan penuh. Kemarin, keluarga pasien sempat mengecek ada satu ruangan yang kosong. Namun  langsung ditempati pasien baru.

“Kami ini sudah dua hari antri menunggu ruangan kosong, tapi tiba-tiba langsung ada pasien baru yang masuk,” ungkap Roni, keluarga pasien.

BACA  Ban Pecah, Pengemudi Mobil Seruduk Pengendara Sepeda Motor di GORR

Dia pun sempat melakukan protes kepada pihak RSAS, namun ternyata pasien tersebut sudah mengantri sekitar sepekan lamanya. Akan tetapi, petugas di bagian UGD menyatakan bahwa pasien tersebut baru saja masuk.

“Hal ini sangat tidak adil buat kami. Kasian keluarga kami ini korban gempa dari Palu,” kata Roni sembari bergegas ke luar dari RSAS. (Baca selengkapnya di Gorontalo Post edisi Rabu, 17 Oktober 2018)

BACA  Warga Datahu Kebanjiran Saat Rayakan Lebaran Ketupat 

Terpisah, Wakil Direktur Bidang Pelayanan RSAS Medy Sarita mengungkapkan, awalnya pasien asal Palu tersebut didiagnosa dokter ahli mengidap penyakit paru.

Sementara, harusnya untuk pasien mengidap penyakit paru ada ruang inap khusus, alias ruang isolasi. Namun pihak keluarga pasien dari Palu ini enggan menginap di ruangan tersebut hingga meminta agar pasien tersebut ditempatkan di ruang kelas satu.

“Pihak keluarga berkehendak nginap di ruang kelas satu. Hanya saja keluarga pasien tidak sabaran untuk memasuki ruangan tersebut. Toh pelayanan di isolasi tetap kami optimalkan sama halnya dengan pasien lainnya,” ungkap Medy.

BACA  Jual Trihexyphenidyl, Seorang Pria di Bone Bolango Diringkus Polisi

Medy juga membantah adanya tebang pilih pada pelayanan RSAS.

“Tidak ada pelayanan tebang pilih disini, bahkan pasien tersebut sudah kami fasilitasi ke VIP namun keluarga pasien tetap menolak dan ingin masuk ke ruang kelas satu. Semua pasien kita layani secara seksama. Terkait pasien yang katanya sudah mendahuluinya masuk kelas satu itu, pasien tersebut memang merupakan pasien kelas satu yang tengah rawat jalan lantaran pasien itu kerap melakukan transfusi darah. Mungkin emosi sudah memuncak hingga memaksakan pulang,” tandas Medy.(naz/gp/hg)


Komentar