Sabtu, 2 Juli 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Masyarakat Gorontalo Harus Kurangi Penggunaan Sampah Plastik

Oleh Admin Hargo , dalam Podcast , pada Minggu, 15 Mei 2022 | 16:05 Tag: ,
  Wahid Wartabone saat menjadi tamu pada Femmy Udoki Podcast. (Foto: Istimewa/Tangkapan Layar)

Hargo.co.id, GORONTALO – Wahid Wartabone, mungkin belum banyak yang mengenalnya. Padahal, di usianya yang baru 20 tahun, Wahid Wartabone menjadi salah satu pemuda yang sering mengharukan nama Gorontalo dengan kepintaran yang dimilikinya.

Pemuda asal Gorontalo ini merupakan salah satu mahasiswa di Universitas Indonesia. Di kampus ternama itu, dirinya lulus melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). 

Sebagai mahasiswa, Wahid Wartabone bahkan pernah mengikuti program dari Zetizen untuk pergi ke New Zealand yang proses seleksinya lumayan sulit untuk diikuti.

Sebagai pemuda asli Gorontalo, Wahid Wartabone juga ingin membagikan pengalaman dan pengetahuannya tersebut kepada masyarakat Gorontalo. Hal tersebut disampaikannya saat diundang sebagai Nasumber dalam Femmy Udoki Podcast yang ditayangkan melalui kanal YouTube Femmy ristina pada 13 Mei 2022.

Dalam podcast tersebut, Wahid Wartabone membagikan pengetahuannya mengenai lingkungan yang sempat didapatkan dari pelatihan yang diikuti selama di bali yaitu mengenai cara untuk mengolah sampah yang baik dan benar, isu tentang perubahan iklim, serta penanaman terumbu karang.

“Sebetulnya kalau bicara soal sampah, yang paling sering dibahas itu adalah sampah plastik karena sampah plastik itu yang memang bermasalah dan berbahaya bagi lingkungan karena penguraiannya yang begitu lama bisa sampai berjuta-juta tahun” kata Wahid Wartabone.

Dirinya mengatakan, Sampah plastik ini berawal dari penggunaan plastik yang berlebihan sehingga menimbulkan terjadinya penumpukan sampah plastik. Menurutnya, yang harus dilakukan oleh masyarakat yaitu mengurangi penggunaan plastik.

“Sebenarnya yang perlu diselesaikan terlebih dahulu yaitu mengenai permasalahan penggunaan plastik yang berlebihan dari masyarakat, karena dengan penggunaan plastik yang sekali pakai dibuang sekali pakai dibuang sehingga menimbulkan penimbunan sampah plastik,” Katanya menjelaskan.

Dengan melihat keadaan sampah plastik yang ada di Gorontalo, Dirinya teringat tentang salah satu program yang disukai di daerah bogor, yaitu tentang penggunaan sampah plastik. Pemuda itu berharap masyarakat Gorontalo dapat meniru kebiasaan baik tersebut.

“Saya suka salah satu program di bogor, itu mereka melakukan kampanye melarang minimarket untuk menggunakan penggunaan plastik. Jadi masyarakat didorong untuk menggunakan Tas atau Totebag yang bisa pakai berulang kali. Mungkin menurut saya, salah inovasi atau kebijakan yang bisa diterapkan juga di Gorontalo sebagai upaya untuk mengurangi sampah plastik,” kata Wahid Wartabone.

Dengan berbekal pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya melalui program yang telah dia ikuti, Wahid Wartabone juga memiliki rencana untuk mengatasi permasalahan sampah yang ada di Gorontalo. Setidaknya, dengan membagikan pengetahuan tentang sampah plastik.

“Mungkin yang terbayang sejauh ini lebih ke menularkan pengetahuan atau menyebarkan pengetahuan yang saya punya ke teman-teman atau salah satu kebijakan yang harus ditegaskan yaitu dengan tetap tidak menyediakan plastik di Mini market yang ada,” Katanya.

Menurut Wahid Wartabone, Salah satu hal yang bisa menjadi solusi dalam mengurangi sampah plastik adalah dengan membudayakan kembali tradisi masyarakat Gorontalo yang biasanya menggunakan Daun sebagai pembungkus makanan.

“Padahal disisi lain ada semacam alternatif yang lebih unik di Gorontalo, karena biasanya masyarakat Gorontalo itu kalau membungkus nasi kuning atau kue-kue itu pakai daun dan itu sebetulnya lebih sehat kalau secara penelitian ilmiah dibandingkan dengan memakai styrofoam atau tas plastik,” katanya menjelaskan.

Menurut Wahid Wartabone, pengetahuan tentang cara mengurangi sampah plastik ini harus diketahui oleh semua kalangan. Tak hanya masyarakat, pemerintah maupun pihak terkait lainnya juga harus tegas dalam menangani masalah ini.

“Anak muda sekarang mayoritas yang ada di Indonesia atau di Gorontalo sebetulnya anak muda sekarang itu punya power untuk bicara, punya power juga untuk memberikan rekomendasi untuk pemerintah, tapi pertanyaanya adalah Apakah pemerintah mau mendengar aspirasi dari teman-teman pemuda ini? Jadi kalau misalnya ada saran-saran dari teman- teman anak muda yang dampaknya positif mungkin bisa untuk di pertimbangkan,” kata Wahid Wartabone. (***)

 

Penulis : Fasyila Aulia Londo

(Visited 88 times, 1 visits today)

Komentar