Senin, 25 Mei 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Masyarakat Itu SuperKreatif Mengakali Aturan yang Ambigu

Oleh Tirta Gufrianto , dalam Kabar Nusantara Ragam , pada Selasa, 19 Mei 2020 Tag: ,
  Suasana Jalan Jatibaru dekat Pasar Tanah Abang yang padat dan ramai meski masih masa pemberlakuan PSBB, Senin (18/5/2020). Foto: ANTARA/Livia Kristianti


Hargo.co.id, JAKARTA – Pengamat komunikasi politik Ari Junaedi memperkirakan tagar #IndonesiaTerserah merupakan sindiran. Pasalnya, di satu sisi angka penderita virus Corona (COVID-19) semakin tinggi, sementara di sisi lain masyarakat malah terkesan tidak peduli.

Kesan masyarakat tidak peduli terlihat dari semakin hiruk pikuknya pusat-pusat perbelanjaan menjelang lebaran. Padahal, aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) masih berlaku.

Seperti dilansir jpnn.com, “Tagar #IndonesiaTerserah saya kira bentuk sindiran kepada warga yang tidak peduli dengan bahaya penyebaran covid-19,” ujar Ari dalam pesan tertulis, Selasa (19/5).

Pembimbing program doktoral di pascasarjana Universitas Padjajaran ini juga memprediksi, tagar muncul karena berkali-kali imbauan disampaikan pemerintah, namun banyak masyarakat yang melanggarnya.

BACA  Pemudik Kembali Padati Perbatasan Atinggola

Hal tersebut menunjukkan belum ada kesadaran yang merata untuk mematuhi aturan protokol kesehatan. Warga diprediksi baru akan menyadari bahaya Covid-19, jika mengalami sendiri apa yang dikhawatirkan pemerintah.

“Masih sangat banyak yang tetap berkerumun di tempat publik, tidak memakai masker saat berada di luar rumah atau tetap memaksakan pergi ke luar kota tanpa alasan yang kuat. Itu bentuk-bentuk kebebalan yang tidak perlu,” ucapnya.

BACA  Pemudik Kembali Padati Perbatasan Atinggola

Ari kemudian menyarankan, masyarakat yang susah diatur diberi kewajiban kerja sosial di Wisma Atlet Kemayoran atau rumah sakit rujukan untuk penanganan covid.

Paling tidak, agar merasakan derita memakai baju hazmat berjam-jam dengan menahan haus, lapar dan buang air.

Langkah tersebut penting, karena menurut mantan staf ahli komunikasi di beberapa institusi ini, pemerintahan Jokowi selama ini sudah bekerja ekstra mengatasi persoalan pandemi covid-19. Namun, kerja keras itu akan mubazir ketika tidak diikuti dan dipatuhi masyarakat.

“Pemerintah juga seyogyanya menggunakan narasi-narasi yang tidak membingungkan warga atau ambigu. Jangan menggunakan narasi mudik dilarang tetapi transportasi dilonggarkan,” ucapnya.

BACA  Pemudik Kembali Padati Perbatasan Atinggola

Menurut Ari, pemerintah penting mengeluarkan kebijakan yang sesuai dengan pelaksanaan di lapangan.

“Ingat, masyarakat super kreatif mengakali aturan dan larangan yang bersifat abu-abu atau membingungkan. Jadi, narasi yang digunakan harus tegas tanpa makna ganda,” katanya.

Dosen di Universitas Indonesia ini optimistis, aturan dengan narasi yang tegas mencegah warga tidak menyepelekan covid-19.(gir/jpnn/hg)

 

 

 

 

*) Artikel ini telah diterbitkan oleh jpnn.com dengan judul yang sama. Pada edisi Selasa, 19 Mei 2020.
Mantap
Suka
Senang
Kaget
Sedih
Marah

Komentar