Kamis, 7 Juli 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Melihat Kondisi Hutan di Kawasan Paguyaman-Wonosari, Rusak Berat, Lima Desa Penyumbang Banjir Terbesar

Oleh Aslan , dalam Gorontalo Headline , pada Senin, 14 Mei 2018 | 12:00 Tag: , ,
  

Kerusakan hutan di Kabupaten Boalemo khususunya di wilayah Paguyaman dan Wonosari (Pawonsari) saat ini sudah cukup parah. Hal ini menjadi penyebab utama terjadinya banjir bandang di dua kecamatan itu.

Pantauan Gorontalo Post di lapangan, dari sekian banyak hutan yang gundul di Pawonsari, terdapat lima desa yang hutannya sudah rusak parah yakni di Bongo Nol, Batukramat, Mekarjaya, Cendrawasih, dan Desa Saripi. Di lima desa itu sama sekali tak ada lagi pepohonan yang berfungsi untuk mengikat air hujan serta mencegah terjadinya erosi yang berdampak banjir.

Malahan sebagian besar perbukitan diatas ketinggian 25 persen ditanami jagung yang menjadi penyebab erosi. Berbeda dengan hutan yang masuk dalam peta lahan HGU milik PG Gorontalo yang telah dirusak oknum tak bertanggungjawab sudah dihijaukan kembali dengan melakukan penanaman pohon karet.

Embung embung yang dibuat pabrik gula yang dulunya masih PT PG Rajawali III sudah rata tanah akibat tertimbun sedimen erosi dari bukit bukit yang sudah gundul tersebut. Padahal embung-embung itu dibuat untuk tempat penampungan cadangan air sebagai persiapan ketika terjadi musim kemarau yang berkepanjangan. Sehingga tanaman yang ada di sekitar embung tidak gersang bahkan mati.

Adapun yang menjadi dampak banjir beberapa waktu lalu yakni sejumlah infrastruktur rusak seperti jalan, jembatan ambruk, beberapa sekolah dan tempat ibadah di desa harapan yang rusak akibat dimasuki air bercampur lumpur serta ratusan rumah warga di desa harapan dan mekarjaya yang terendam banjir.

Suharji Solihin salah seorang warga Desa Harapan yang juga korban terkena dampak banjir ketika diwawancarai awak koran ini mengatakan, disaat banjir datang, rumahnya pasti terendam hingga setinggi 1 meter dan membuat aktivitasnya sehari-hari menjadi terganggu. Selain itu akses jalan dan jembatan juga rusak.

Solihin berharap agar pemerintah segera mengambil tindakan cepat untuk mengatasi banjir di desannya. “Pemerintah jangan hanya tinggal diam menyikapi persoalan ini dan bahkan hanya menjadi penonton saja ketika terjadi bencana di desa kami.

Tolong cari solusi dong misalnya dengan mengembalikan hutan yang sudah parah kerusakannya dan pada gundul semua,”kata solihin yang juga Ketua BPD Desa Harapan Ini. Begitu banyak kata Solihin cara yang perlu dilakukan pemerintah dalam penghijauan hutan yang rusak tersebut. Jika kendala anggaran yang menjadi alasan maka jalan satu-satunya pemerintah kata Suharji Solihin yakni manggaet investor dalam program penghijauan hutan tersebut.

Misalnya dengan melakukan penanaman karet yang potensinya luar biasa. Karena tamaman karet selain mencegah terjadinya erosi, juga bisa menyerap tenaga kerja hingga ribuan orang ketika sudah berproduksi. Senada juga dikatakan Kepala Desa Harapan Sarmon Redi yang berharap agar usulannya baik ke Pemda Boalemo maupun ke Balai Wilayah Sungai Sulawesi II (BWSS) Gorontalo untuk segera direalisasikan.

Usulan yang disampaikan lewat proposal tersebut berupa pelebaran sungai di wilayah Desa Harapan. Sebab setiap kali hujan deras turun selama dua jam saja. Maka sungai tersebut meluap dan dampaknya air merendam semua rumah dan fasilitas infrastruktur yang ada di sekitarnya.

Yang paling parah tersebut adalah Sekolah SMK I Wonosari, jembatan putus,”terang Sarmon Redi. Ia juga berharap agar pemerintah segera mengembalikan fungsi hutan di bagian hulu yang sudah dibabat habis oleh oknum tidak bertanggungjawab. “Kasihan kami disini yang menjadi korban dampak perusakan hutan tersebut,”tandasnya.

Sementara itu menurut Pakar Lingkungan Dr Fitryane Lihawa, M.Si bencana banjir yang terjadi di Kabupaten Boalemo dan Provinsi Gorontalo umumnya dipengaruhi oleh perubahan penggunaan lahan/tutupan lahan di wilayah-wilayah daerah aliran sungai.

Data dari KLH tahun 2014 menunjukkan bahwa angka deforestasi di Provinsi Gorontalo adalah : Hutan Lindung 29,6 ha/tahun; Hutan Produksi Konversi 899,7 ha/tahun; Hutan Produksi Terbatas 56,6 ha/tahun. Dosen Fakultas matematika dan Ilmu pengetahuna alam UNG ini menjelaskan, jika ditinjau dari aspek keilmuwan, daerah Aliran Sungai (DAS) berfungsi untuk menampung, menyimpan dan mengalirkan air hujan hingga bermuara pada satu titik yaitu danau atau laut. Zona DAS terdiri bagian hulu, bagian tengah dan bagian hilir.

Bagian hulu merupakan zona penampung dan penyimpan air. Zona ini merupakan kawasan lindung yang tidak bisa dikonversi menjadi kawasan budidaya.
Zona tengah merupakan zona peralihan dan zona hilir merupakan zona budidaya.
Dalam DAS memiliki fungsi Hidroorologis dimana fungsi tersebut akan menjaga sistem dalam siklus air.

Jika zona hulu (yang merupakan kawasan lindung) dirusak, maka sistem siklus air akan rusak.
Air hujan yang jatuh ke permukaan tanah tidak akan meresap kedalam tanah (proses infiltrasi) dan akan langsung mengalir menjadi aliran permukaan.

“Jadi inilah yang menyebabkan banjir bandang dimusin hujan dan kekeringan di musim kemarau,”jelas Fitryane Lihawa. Lebih lanjut dikatakan Fitryane Lihawa, aliran permukaan yang sangat besar akan merusak permukaan tanah yang di laluinya (terjadi erosi).

Akibatnya lapisan tanah bagian atas (top soil) yang mengandung unsur hara akan hilang. Hal ini akan menyebabkan kemampuan tanah untuk memperoduksi biomassa menurun dan kesuburan tanah akan hilang.
Dalam jangka panjang produktivitas pertanian akan menurun.
Inilah fenomena yang mulai terjadi sekarang ini.

Masyarakat/petani cenderung mencari lahan baru untuk dibuka, karena lahan-lahan garapan dibagian hilir (kawasan budidaya) sudah tidak produktif lagi. Akhirnya mereka membuka lahan-lahan hutan yang masih subur untuk digarap menjadi lahan pertanian.

“Selama saya melakukan perjalanan di pelosok wilayah provinsi Gorontalo, sejauh mata memandang, yang terlihat adalah lahan gundul yang baru dibuka dengan cara dibakar untuk digarap menjadi lahan pertanian,”tambah Fitryane Lihawa. Pada umumnya dikatakan Fitryane Lihawa, lahan tersebut digarap untuk ditanami jagung. Padahal, lahan pertanian jagung merupakan penyumbang erosi terbesar.

Lain halnya dikatakan Ketua Himpunan Ilmu Tanah (HITI) Komda Gorontalo Nurdin Baderan S.P, M.Si, secara teoritis, proses erosi tanah terjadi baik secara alamiah (erosi geologi) maupun erosi yg dipercepat (akibat aktifitas manusia). Erosi alamiah terjadi karena perbedaan tinggi tempat, kemiringan lereng dan kerentanan tanah yang oleh karena curah hujan dengan intensitas tertentu terjadi erosi walaupun pada ekosistem hutan alami.

Sementara erosi dipercepat terjadi akibat kegiatan manusia yang menggunakan lahan melampaui daya dukungnya tanpa penerapan teknik konservasi tanah dan air. Kasus erosi tanah, tanah longsor dan kejadian banjir di wilayah Boalemo diakui Nurdin, umumnya terjadi karena Fungsi lindung kawasan hutan sudah terganggu sehingga proses hidroorologisnya juga terganggu.

Selain itu beberapa daerah tangkapan air (DTA) di hulu DAS Paguyaman sudah beralih fungsi ke lahan pertanian, sehingga ketika hujan turun dengan intensitas tinggi air tidak mampu diinfiltrasikan ke dalam tanah tetapi menjadi aliran permukaan (run off) dari lahan ke alur2, kemudian ke saluran dan akhirnya bertemu semua air tersebut di sungai menyebabkan air sungai meluap.

Selanjutnya kegiatan bertani di lahan dengan kemiringan lereng > 25% tanpa penerapan usaha tani konservasi menjadi penyebab terjadinya erosi dan tanah longsor. Laporan Balitbangpedalda Provinsi Gorontalo (2005) menujukkan bahwa erosi tanah yang terbentuk dari areal pertanaman jagung sebanyak 1.398 ton/ha/tahun (~1.400 ton/ha/tahun).

“Jadi tanah-tanah di wilayah perbukitan dan pegunungan Boalemo umumnya adalah Entisol, Inceptisol dan Alfisol yang memiliki solum tanah dangkal (< 1 m) dan rentan terhadap erosi. Sehingga jika hutannya dibabat habis pohonnya hingga menjadi gundul maka secara otomatis terjadi erosi yang mengakibatkan banjir.”kunci pria yang juga Dosen Ilmu Tanah UNG dan
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Pertanian Universitas Brawijaya Malang ini.

Kepala BPBD Irwan Dai ketika dikonfirmasi mengatakan, terkait permasalahn banjir di Pawonsari Pemda telah mengambil langkah-langkah untuk mencarikan solusi diantaranya, untuk hal yang mendesak, pihaknya telah melaksanakan penggalian embung yang menjadi tuntutan warga untuk digali kembali.

Sebab embung tersebut sudah tertutup akibat adanya sedimen yang hanyut dari hulu setiap kali hujan turun. “Jadi dengan digalinya kembali embung itu maka setidaknya bisa menahan sementara air dari alur-alur kecil yang menuju ke bagian hilir dan yang menjadi penyumbang banjir khususnya di desa Harapan dan Mekar Jaya.

“Semoga dengan digalinya kembali embung tersebut bisa meminimalisir banjir,”harap Irwan Dai. Lebih lanjut dikatakan Irwan Dai, solusi lain Pemda Boalemo berencana melakukan pelebaran beberapa titik sungai di wonosari guna mencegah terjadinya luapan air. Karena sungai kecil dan sempit menurut Irwan Dai tidak bisa menampung derasnya air dari hulu ketika datang hujan lebat. “Insya Allah untuk pelebaran sungai ini akan dianggarkan dalam APBD-P 2018.

Anggarannya sudah diusulkan semoga segera terealisasi,”harap Irwan Dai. Ketika disinggung soal solusi lain jangka panjang dalam hal pencegahan banjir. Misalnya dengan mereboisasi atau menghijaukan kembali hutan yang sudah terlanjur gundul dan rusak melalui penanaman tanaman keras seperti karet dan tanaman lainnya yang dapat mencegah erosi.

Pihaknya diakui Irwan Dai juga akan menganggarkan itu. “Ya bisa dimungkinkan juga nanti menggaet investor dalam program penghijauan hutan gundul tersebut agar lebih maksimal lagi. Intinya untuk saat ini hal yang mendesak dulu yang prioritas kami lakukan dalam pencegahan banjir di Pawonsari. Untuk program selanjutnya itu nanti kita lihat,”tutup Irwan Dai.

(roy/hargo)

(Visited 9 times, 1 visits today)

Komentar