Jumat, 9 April 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Menelusuri Akses KM-43 Desa Tangga Barito, Berdiri Sejak Tahun 1980-an Belum Merdeka dari Infrastruktur

Oleh Aslan , dalam Gorontalo Headline , pada Selasa, 1 Mei 2018 | 11:50 WITA Tag: , , ,
  Tanjakan Fenomenal Kilometer 43, Di Desa Tangga Barito Kecamatan Dulupi, Boalemo. (F : Gusran Ismail/Gorontalo Post)


Desa Tangga Barito, Kecamatan Dulupi, Boalemo berada di tengah hutan. Mirip wilayah Pinogu di Bone Bolango. Bedanya, Pinogu berada di kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, sementara Desa Tangga Barito berada wilayah hutan eks penguasaan perusahaan HPH, PT Barito.

Gusran Ismail-Boalemo

Desa ini ada sudah sejak tahun 1980an, atau ketika PT Barito mulai mengelola hutan di wilayah itu. Akses jalan pun dirintis perusahaan penguasa hak pengusahaan hutan (HPH) itu. Kendati sudah lama berdiri, tapi desa dengan andalan produk pertanian ini, masih belum ‘merdeka’ seutuhnya. Akses jalan ke desa paling utara Boalemo ini, butuh perhatian pemerintah.

Ada tiga pintu masuk ke Desa Tangga Barito. Pertama, melalui Desa Tanah Putih, Kecamatan Dulupi. Akses ini yang lebih banyak dipilih, karena, lebih dekat dengan jalan Trans Sulawesi, dan separuh perjalanannya telah mulus. Kedua, melalui Desa Bualo, Kecamatan Paguyaman.

Akses yang terasa menantang, sejak lepas dari Jalur Trans Sulawesi Desa Huwongo, Kecamatan Paguyaman. Dan yang ketiga, melalui Desa Dimito, Kecamatan Wonosari. Melintasi jalur utara, yang juga cukup menantang.  Gorontalo Post, Senin (30/4) kemarin, menempuh akses yang ketiga, karena menghindari jalur memutar. Akses ini ada jalur yang cukup terkenal, yakni titik kilometer 43.

Desa Tangga Barito merupakan desa pelosok, yang memiliki luas wilayah besar.  Menjadi bagian dari wilayah Kecamatan Dulupi, Desa Tangga Barito memiliki lokasi yang cukup jauh dari induk Kecamatan. Jika induk Kecamatan Dulupi, yakni Desa Dulupi, berada di wilayah selatan Jalur Trans Sulawesi, dan merupakan desa pesisir, maka Desa Tangga Barito berada di wilayah utara. Lokasinya nun jauh di balik kokohnya deretan gunung gunung hijau yang masih terlihat subur.

Meskipun sebenarnya wilayah desa ini menjadi sasaran empuk para penebang liar dan penjarah hutan, namun secara umum, kondisi hutannya masih terbilang baik. Hanya saja untuk memastikan berapa lama kondisi baik ini bertahan, hanya tangan tangan manusia yang bisa menentukannya.  Jika ke desa Tangga Barito dengan melalui akses Trans Sulawesi di Desa Tanah Putih, Kecamatan Dulupi, maka harus melewati satu desa lagi, yakni Desa Tangga Jaya.

Sementara jika harus menempuhnya dari wilayah Kecamatan Paguyaman, melalui akses masuk Desa Huwongo, maka dua desa pelosok masih harus dilalui, Yakni Desa Bongo IV dan Desa Bualo Kecamatan Paguyaman, sebelum akhirnya masuk melalui Desa Tangga Jaya. Sementara dari akses masuk Kecamatan Wonosari, dari Desa Dimito, yang berjarak kurang lebih 20 kilometer dari pusat Kecamatan Wonosari, kita akan langsung masuk pada desa Tangga Barito.

Hanya saja, jika masuk melalui alternatif ketiga ini, kita tidak akan melewati Kantor Desa Tangga Barito. Simpang tiga, di lokasi kilometer 26, akan mengharuskan kita memilih, apakah ke lajur kanan, menjajal tanjakan demi tanjakan menuju Kilometer 43, dan Dusun Moliliulo, atau memilih arah kiri, ke arah Kantor Desa Tangga Barito.

Dengan pertimbangan cuaca mendung, dan harus melewati beberapa anak sungai tanpa jembatan penghubung, Gorontalo Post langsung memilih lokasi jalur kiri. Karena dari informasi warga setempat, dari titik simpang tiga kilometer 26 tersebut, jarak ke kantor Desa masih menempuh kurang lebih 7 kilometer lagi ke arah selatan. Sementara ke arah Kilometer 43 masih harus 17 kilometer lagi pada arah berlawanan.

BACA  Saatnya Traffic Light di Gorontalo Dilengkapi Ruang Henti Khusus

Yang menarik adalah, soal penamaan kilometer pada wilayah-wilayah desa Tangga Barito ini. Jika diperhatikan, tidak ada satupun papan maupun beton kilometer yang terpancang pada masing masing titik kilometer yang tenar disebut sebut tersebut.  Yang ada hanyalah simbol alam dan akses. Misalnya simpang tiga, pohon besar, sungai kecil, dan tanjakan terjal.

Tetapi bagi masyarakat setempat, dan orang orang yang sering mengunjungi pelosok ini, pasti paham betul batas batas kilometer tersebut. Rupanya penamaan kilometer ini, sudah ada sejak tahun 1980-an. Kala itu, perusahaan pengolah hutan menguasai wilayah ini. Nama perusahaan itu kemudian disematkan pada nama desa, yakni PT Barito. Ketika ditelusuri lebih jauh, zero point atau titil nol kilometer dari rentetan kilometer menuju Tangga Barito, berada di Desa Lahumbo, Kecamatan Tilamuta.

Karena dulunya salah satu basis perusahaan Barito kala itu berada di desa tersebut. Jarak ini memang cukup masuk akal. mengingat, jarak antara Desa Lahumbo Kecamatan Tilamuta, dengan Desa Tanah Putih Kecamatan Dulupi yang menjadi akses utama ke Desa Tangga Barito, hanya dipisahkan oleh satu Desa saja, yakni Desa Pangi, Kecamatan Dulupi.
Desa Tangga Barito sendiri memiliki 11 dusun, dan semuanya adalah wilayah pelosok.

Sayangnya, tidak sempat diketahui pasti berapa jumlah penduduk desa ini. Dari simpang tiga kilometer 26, suasana hutan dan pegunungan mulai membentang. Sepanjang perjalanan, hanya suara burung dan hewan hutan yang terdengar mengiringi desingnya mesin sepeda motor yang terseok-seok pada kerikil dan lumpur pada hampir sepanjang jalan, dari simpang tiga tersebut.

Sesekali berpapasan dengan pengendara lainnya, baik pengemudi sepeda motor, pick up, maupun truck, serta pejalan kaki. Masuk ke wilayah ini, pick up menjadi satu satunya kendaraan yang difungsikan sebagai ‘taksi’ para warga setempat. Sesekali juga akan dijumpai tumpukan kayu, yang baru saja dibelah menggunakan mesin chainsaw. Atau saat kita istrahat sejenak, selain suara alam dan hewan liar hutan, samar samar, entah dari arah mana akan terdengar raung mesin chainsaw.

Rupanya memang aktifitas penebangan kayu masih saja berlangsung. Belum diketahui pasti apakah aktivitas itu masuk wilayah yang diperbolehkan, atau telah masuk wilayah terlarang untuk aktivitas penebangan kayu.

Sebelum melakukan perjalanan ini, ada beberapa kenalan yang sering ke lokasi Kilometer 43, sempat menganjurkan agar Gorontalo Post mengganti ban sepeda motor dengan ban trail, untuk meminimalisir kerepotan dan resiko saat berkendara. Sudah bisa dipastikan, sepeda motor dengan mesin matic tak bisa melintas di jalan ini.

Awalnya sempat mengabaikan saran itu, sebab beberapa jalan ekstrim di Boalemo seperti tanjangan penyesalan di Wonosari, serta akses Desa Lito Paguyaman Pantai yang licin dan banyak kubangan lumpur, sejauh ini bisa dilalui. Tanpa harus ganti ban. Tapi rupanya, tanjangan penyesalan di Desa Saritani, Wonosari dan akses Desa Lito tidak ada apa apanya, dibanding akses kilometer 43.

BACA  Penting Mengubah Pola Pikir dan Budaya Kerja ASN

Sebelum menjangkau akses ini, ada beberapa tanjakan dan turunan ringan serta tiga anak sungai yang harus dilewati. Sebenarnya untuk ukuran normal, tanjakan cukup ringan’. Karena selain kondisi jalan yang berupa kerikil kasar, dan lumpur, juga panjang tanjakannya yang rata rata menghampiri 1 kilometer dan berkelok. Tetapi sekali lagi tidak ada apa apanya jika dibanding tanjakan kilometer 43.

Hal unik sempat terpantau saat melintasi akses ini. Pada satu titik puncak sebuah tanjakan. Gorontalo Post berjumpa dengan seorang pengendara sepeda motor. Sedari jauh dia memang telah memperhatikan upaya koran ini dengan sepeda motor tertatih mencoba mencapai puncak.

Rupanya pengendara tadi masih sangat muda. Bahkan terbilang anak anak. Dari jenis sepeda motor yang ditungganginya, jelas adalah jenis bebek standar, namun telah dimodifikasi khas medan berat.

“Kenapa pake motor bagini om,?” Ujarnya setelah kami sedikit basa basi. Ia heran, koran ini nekat menanjak dengan ban sepeda motor standar. Sementara sepeda motornya memiliki ban plus-plus. Ban motornya dililitkan rantai besi secara melintang, hingga mengikat berurutan pada sepanjang permukaan roda ban. Jadilah seperti fungsi Ban Trail.

Rupanya anak tadi adalah seorang ojek yang khusus mengangkut jagung dari kebun para petani menggunakan sepeda motor. Bianyanya 5 sampai 10 ribu per koli. Bergantung jarak dan medan yang ditempuh. Dalam satu rute, Ikbal, nama anak ini mengaku bisa mengangkut dua sampai tiga koli jagung yang masih bertongkol, dari kebun ke rumah pemilik jagung.

Sebenarnya, sepanjang perjalanan hingga kilometer 43, tercatat ada total tiga tanjakan yang sangat menantang, yakni tanjakan kilometer 32. Tanjakan ini memilki kemiringan cukup terjal, akses berlumpur, dan berkelok. Panjangnya diperkirakan lebih dari 1 kilometer. Selanjutnya adalah tanjakan pada kilometer 37, dan inilah tanjakan yang paling menantang. Karena panjangnya kurang lebih sekitar 3 kilometer.

Aksesnya juga berat dan berkelok. Barulah beberapa saat kita akan disapa tanjakan fenomenal ‘Tanjakan Kilometer 43’. Sebelum mencoba menjajalnya, koran ini berhenti sejenak dan memandang terjalnya tanjakan ini. Jika diperkirakan, panjagnya sekitar 1,5 kilometer.

Lebih singkat dibanding dengan tanjakan kilometer 37. Tetapi tingkat kemiringannya yang membuat nyali sedikit ciut. Belum lagi jalur yang sedikit sempit, dan jurang yang menganga di bagian selatan tanjakan ini. Kondisi aksesnya sudah sangat rusak. Lumayan berat.

Tetapi sepertinya jenis sepeda motor bebek standar, dengan joki amatiran tidak memungkinkan untuk menjajalnya sampai ke puncak tanjakan. Itu setelah ban sepeda motor tertanam pada kubangan lumpur setinggi knalpot, ditengah tanjakan, hingga membuat nyali benar benar ciut.

Ditambah mendung yang semakin menghiasi alam, serta khawatir akan terjadi kerusakan serius pada sepeda motor, membuat koran ini, menyudahi petualangan cukup di punggung tanjakan. Menyerah. Ban trail saja tidak cukup, jika tidak disertai kemampuan ‘profesional’ dan keberanian untuk menjajal tanjakan ini. Pada tanjakan inilah, akan terlihat, sekam sekam padi berserakan hingga menimbulkan pertanyaan tersendiri.

BACA  Dua Tokoh Nasional Putra Gorontalo Akan Dianugrahi Gelar Adat

Rupanya, setiap mobil dengan rute Dusun Moliliulo, dipersyaratkan untuk membawa sekam padi, fungsinya sebagai alat bantu saat melintasi tanjakan kilometer 43 ini. Jika sewaktu waktu ban mobil tertanam, maka sekam itu di taburkan pada kubangan lumpur agar ban menjadi lebih mudah menggelinding kembali. Dari kilometer 43 ini, jarak ke dusun Moliliulo tinggal 10 kilometer lagi, namun masih harus menyeberangi satu sungai besar dan menggunakan jasa perahu warga setempat.

Dalam perjalanan pulang, koran ini sempat mewawancarai seorang warga sambil istrahat sejenak. Seorang ibu bernama Hasna Biladali (34) bersama anaknya Astika Adam (15) . Hasna tinggal kurang lebih 7 kilometer sebelum tanjakan 43. Rumahnya seperti rumah kebanyakan, berdinding papan.

Hasna memiliki usaha warung kecil yang kerap disinggahi para pengendara yang melintas. Sudah 10 tahun terakhir Hasna tinggal di Dusun 5 Desa Tangga Barito. Dahulu Hasna adalah warga Kecamatan Botumoito. Tuntutan ekonomi membuatnya dan suami memilih pindah ke tempatnya saat ini, dengan membuka lahan dan bertani.

“Tanaman rutin adalah jagung, kami juga menanam kelapa, cingke, dengan coklat (kakao,red),” ujar Hasna dengan dialeg khas. Meskipun jarang ke lokasi kilometer 43, tetapi karena usahanya warungnya banyak disinggahi para pengendara, Hasna menjadi banyak tau soal kilometer 43 dan dusun Moliliulo.

“Kendala utama kami adalah jembatan. Banyak sungai kecil yang tidak memiliki jembatan, jadi kalau hujan turun, sungai kecil itu menjadi deras airnya dan tidak bisa dilalui,” ujarnya. Selain itu, kebutuhan utama warga setempat, kata Hasna adalah Masjid dan sekolah. Sebenarnya di Kilometer 26 ada Masjid dan sekolah. Demikian pula di Dusun Moliliulo. Tetapi dari tempat tinggal Hasna, butuh lebih dari satu jam berjalan kaki untuk mencapai dua lokasi tersebut.

Akses yang sulit itu, kata Hasna membuat harga komoditas pertanian menjadi murah, atau jika harga mahal, para petani dikenai biaya transportasi yang cukup tinggi. “Dari tempat ini saja, sewa angkut jagung bisa seperti sewa angkut manusia, kalau pake pick up bisa Rp 35 ribu per orang. Kalau barang 200 kilo, sewanya Rp 35 ribu,” jelasnya.

Kebutuhan lain adalah pasar tradisional. Biasanya kata Hasna, ia dan penduduk setempat harus menempuh puluhan kilometer untuk belanja kebutuhan di pasar Desa Bongo I Kecamatan Wonosari. “Satu minggu (sepekan) satu kali torang (Kami) ke pasar,” tandasnya. Desa Tangga Barito, dan akses ‘kilometer’ yang menghubungkan antar dusun, menjadi potret nyata wilayah ini masih belum ‘merdeka’ dari infrastruktur publik, yang banyak dikampanyekan pemerintah saat ini. Padahal, potensi Desa Tangga Barito, tak kalah dengan desa lainya, pertanian dan perkebunan serta hasil hutan sangat menjanjikan. Sayang semuanya terbentur dengan sulitnya akses transportasi. (gip)


Komentar