Senin, 1 Maret 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Mengapa Orang Jepang Mudah Memutuskan Bunuh Diri?

Oleh Berita Hargo , dalam Kabar Dunia , pada Kamis, 23 Maret 2017 | 16:26 WITA Tag: , , ,
  


Hargo.co.id – GM JKT48 Operational Team (JOT) Jiro Inao, 48, yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri, menambah panjang daftar kasus bunuh diri di kalangan penduduk Jepang.

Sangking banyaknya kasus bunuh diri, pemerintah Negeri Sakura menjadikan itu sebagai isu nasional. Angkanya memang tidak main-main. Pada 2014 dirilis data kalau dalam sehari ada 70 orang Jepang yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Dari angka itu, sebagian besar adalah lelaki.

Jadi apa penyebabnya? Banyak. Wataru Nishida, psikolog dari Universitas Temple, Tokyo, Jepang, menyebutkan kalau Jepang memiliki tradisi selama berabad-abad untuk bunuh diri demi kebanggaan. Para samurai melakukannya, pun demikian para pilot saat berakhirnya Perang Dunia ke-2 pada 1945. Dan itu sepertinya menjadi alasan kultural mengapa Jepang lebih “mudah” memutuskan untuk bunuh diri.

Tak hanya itu, Nishida mengatakan, tidak ada sejarah agama yang kuat di Jepang juga menjadi pemicunya. ”Jepang tidak punya sejarah agama yang kuat. Jadi, bunuh diri di sini bukanlah dosa. Bahkan, beberapa melihatnya sebagai bentuk tanggung jawab,” kata Nishida.

BACA  Mengamuk, Umat Hindu di India Serbu Foto Tanpa Busana Rihanna

Belakangan, penyebab utama bunuh diri lebih berputar pada urusan perekonomian dan kehidupan sosial. ”Kesepian, masalah perekonomian, dan isolasi menjadi pemicu depresi dan bunuh diri,” sambungnya.

Celakanya, usia mereka yang bunuh diri pun semakin muda. Tidak hanya orang-orang tua yang merasa hidupnya menjadi beban keluarga. Ken Joseph dari Japan Helpline, lembaga sosial masyarakat, saat ini angka demografi kasus bunuh diri diisi anak muda. ”Bunuh diri menjadi pembunuh nomor satu lelaki usia 20-44 tahun di Jepang,” kata Joseph.

Dikatakan Joseph, para lelaki usia produktif itu memutuskan untuk tidak hidup lagi karena mereka sudah kehilangan harapan dan tidak bisa mencari bantuan. Angka bunuh diri di kalangan anak muda naik sejak krisis keuangan pada 1998. Kemudian, semakin melesat saat krisis keuangan jilid 2 pada 2008.

BACA  Koruptor Terbesar China Tewas Diberondong Regu Eksekutor

”Tidak banyak cara untuk menunjukkan kemarahan dan frustrasi di Jepang,” kata Nishida. ”Ini adalah lingkungan berorientasi peraturan. Anak muda dibentuk untuk memenuhi boks-boks kecil. Mereka tidak punya cara untuk menunjukkan perasaan sebenarnya. Jika mereka merasa mendapat tekanan dari bos dan depresi, sebagian besar merasa jalan satu-satunya adalah bunuh diri,” sambung Nishida. (BBC/tia)


Komentar