Senin, 25 Januari 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Mengenai Kasasi Rusli, Begini Pendapat Para Praktisi Hukum

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo , pada Rabu, 3 Agustus 2016 | 12:54 WITA Tag: ,
  


Hargo.co.id GORONTALO – Sementara itu beredarnya kabar status putusan kasasi Rusli Habibie yakni Tolak Perbaikan menimbulkan beragam persepsi. Di media sosial beredar pendapat bila status putusan tersebut kedudukannya sama dengan putusan lepas (onslag van recht vervolging). Yaitu putusan yang menyatakan Rusli Habibie bersalah secara administrative, tetapi pidananya hilang.

Kendati begitu lain halnya dengan pendapat para praktisi hukum. Ketua Korwil Perhimpunan Advokad Indonesia (PERADI) Gorontalo pimpinan Otto Hasibuan, Dr.Arie Duke Widagdo,SH.,MH menjelaskan, putusan MA tolak perbaik mengandung arti majelis kasasi menolak permohonan kasasi pemohon dengan beberapa perbaikan atas putusan banding maupun putusan tingkat pertama.

BACA  Kena Razia Keramaian, Sejumlah Rumah Makan Ditutup

“Maka boleh jadi hakim MA memutus kurang dari putusan banding atau bisa juga lebih dari putusan banding, atau bisa jadi memperbaiki putusan banding dan merujuk pada putusan tingkat pertama. Ini administrasi pengadilan di kepaniteraan MA,” ujarnya Arie Duke.

Hal senada juga disampaikan Ketua DPC PERADI Gorontalo pimpinan Jenifer Gersang, Ismail Pelu,SH. Menurut pengacara kondang ini, tolak perbaikan mengandung arti melihat kembali putusan perbaikan baik di tingkat banding.

Sehingga besar kemungkinan perbaikan di putusan Pengadilan Tinggi (PT) ditolak dan kembali mengacu pada putusan di Pengadilan tingkat pertama. “Secara Yuridis itu dipakai di perkara pidana dan perdata. Untuk memastikannya seharusnya tunggu saja salinan putusan,” ujar Ismail Pelu.

BACA  Gubernur Resmikan Jembatan Molintogupo

Terpisah, Ketua Kongres Advokad Indonesia (KAI) Gorontalo Ismail Melu,SH.,MH menjelaskan, putusan tolak perbaikan merupakan putusan yang sifatnya mengadili sendiri. Dan itu sangat wajar dipakai di tingkat MA. “Istilah itu jarang ditemukan yang pasti kalau ada maka kita lihat dulu apa isi diktum putusan,” pungkasnya.

Sementara itu, Gubernur Rusli Habibie tampak terpengaruh dengan beredarnya putusan kasusi kasus yang melilitnya itu di media sosial. Aktivitasnya justeru berlangsung normal. Selasa (2/8) kemarin, pada pagi hari ia nemerima tamu dari kantor Pajak Gorontalo terkait dengan rencana sosialisasi Tax Amnesty, selanjutnya menutup kegiatan Diklat guru di Grand Q Hotel Gorontalo.

BACA  Pemerintah Suplai Bantuan untuk Pekerja Pariwisata di Gorontalo

Sore hari, Rusli Habibie menghadiri undangan silaturahmi dengan masyarakat Desa Yosonegoro, Kabupaten Gorontalo. Tadi malam, Rusli juga menghadiri kegiatan halal bi halal di Kecamatan Kabila, Bone Bolango

. Dalam beberapa arahanya, Rusli tak sama sekali menyinggung kasus yang melilitnya. Ia justeru memaparkan tentang program Pemprov Gorontalo yang telah dilukakanya, seperti pendidikan gratis, keseharan gratis, berhasil membangun pembangkit listrik, pembangunan Gorontalo Outer Ring Road, hingga bandara dan bantuan pemerintah.(csr/tr-49/tro)


Komentar