Jumat, 30 Oktober 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Mengenal Kandidat PM Belanda yang Berdarah Indonesia

Oleh Berita Hargo , dalam Kabar Dunia , pada Kamis, 16 Maret 2017 | 16:30 WITA Tag: ,
  


Hargo.co.id – Geert Wilders menjadi sosok yang paling banyak menarik perhatian dalam pemilu Belanda kali ini. Kegemarannya menulis komentar politik di Twitter membuatnya dijuluki Donald Trump-nya Belanda oleh media. Seperti Trump, dia suka memantik kontroversi. Terutama yang berkaitan dengan Islam.

’’Belanda bukan milik semua orang. Apakah Anda mendengar apa yang saya katakan? Belanda hanya milik rakyat Belanda,’’ kata Wilders dalam debat pemungkasnya dengan Perdana Menteri (PM) Mark Rutte pada Selasa malam (14/3). Selama ini, politikus 53 tahun tersebut memang dikenal suka asal berbicara. Tidak hanya anti-Islam, beberapa komentar pendiri Partij voor de Vrijheid (PVV) itu juga rasis.

Kesan rasis tersebut membuat Wilders memanen cibiran. Lizzy van Leeuwen, antropolog Belanda, menyebut pria berambut pirang itu tidak tahu diri. Sebab, dia bukanlah Belanda darah murni. Ada darah Indonesia di dalam dirinya dari garis keturunan sang ibu.

BACA  Debat Capres AS: Badut Trump dan Biden yang Tidak Cerdas

Sang ibu lahir di Sukabumi. Sang nenek, Johanna, berdarah campuran Belanda-Indonesia. Dia menikah dengan Johan Ording, aristokrat Belanda di Indonesia pada masa penjajahan. Mereka kembali ke Belanda pada 1935 bersama dengan tentara-tentara KNIL asal Maluku yang dianggap berkhianat kepada Indonesia. Karena itu, saat menyebut Belanda hanya milik orang-orang Belanda murni, Wilders sebenarnya tidak termasuk.

Di sisi lain, janji-janji kampanye Wilders tersebut menyejukkan hati Joost. Pria 60 tahun yang tinggal di Kota Almere itu mengaku sudah jenuh dengan kehidupan majemuk di kotanya. ’’Terlalu banyak pendatang di sini. Mereka terlalu gampang masuk ke sini,’’ ungkapnya. Pedagang yang setiap hari berjualan di pasar tersebut mengaku khawatir kaum pendatang itu mengaburkan identitas penduduk Almere sebagai warga Belanda.

BACA  Begini Reaksi Kim Jong Un Mendengar Donald Trump Kena COVID-19

Seperti Joost, sebagian besar penduduk Almere pun merindukan Belanda yang Wilders janjikan. Yakni, Belanda yang menolak masuknya para pendatang. Belanda yang eksklusif. Bahkan Belanda yang tidak menjadi bagian dari Uni Eropa (UE). Ya, jika dia sukses menjadi PM, bungsu empat bersaudara tersebut bakal membawa Belanda keluar dari UE lewat program Nexit alias Netherlands Exit.

Wilders memang kontroversial. Permusuhannya dengan Islam justru membuat adik Paul itu populer sekaligus panen ancaman. Di dalam keluarga besar pun, paham Wilders tersebut ditentang.

’’Ibu jelas tidak memberikan suaranya untuk adik saya itu dalam pemilu kali ini. Dia (Wilders, Red) membahayakan dirinya sendiri,’’ ucap Paul dalam wawancara dengan media lokal.
Wilders yang dibesarkan dalam keluarga Katolik lebih senang menyebut dirinya agnostik. Tapi, dia menyebut umat Nasrani sebagai sekutunya.

BACA  Singapura Umumkan Nol Kasus Penularan Covid-19 Lokal untuk Pertama Kali

Pada masa mudanya, dia sempat belajar tentang Yahudi di Israel. Meski sempat mengenal beberapa keyakinan, Wilders memilih tidak menganut agama tertentu dan bermusuhan dengan Islam. Dia bahkan menyamakan Alquran dengan Mein Kampf, otobiografi Adolf Hitler.

’’Wilders lebih idealistis ketimbang Trump. Dia punya banyak ide koheren yang layak jadi panutan. Sayang, semua itu dia kemas dalam paham ekstrem seperti ultranasionalis, xenophobia, dan Islamophobia,’’ kata Sarah de Lange, pengamat dari University of Amsterdam.(BBC/dutchnews/theguardian/hep/c23/any/tia)


Komentar