Senin, 3 Mei 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Mengenal Lebih Dekat Tradisi ‘Doa Aruwa’ di Gorontalo

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo Ragam , pada Kamis, 8 April 2021 | 22:05 WITA Tag:
  Suasana tradisi Doa Aruwa di Gorontalo ( Foto: Istimewa/Tangkapan layar/istimewa)


Hargo.co.id, GORONTALO – Bagi masyarakat Gorontalo tradisi aruwa atau akrab dikenal dengan Doa Aruwa sudah tidak asing lagi. Doa ini sering dilakukan oleh masyarakat untuk mengenang ataupun mendoakan anggota keluarga yang telah meninggal dunia. Berbeda dengan doa-doa pada umumnya, Doa Aruwa punya beberapa langkah yang harus dilakukan.

Doa Aruwa dimulai dengan menyiapkan sesajen seperti nasi merah, nasi kuning, satu sisir pisang, makanan khas seperti tiliaya, bajoe, air dan beberapa kue. Semua itu nantinya akan dimakan secara bersama setelah Doa Aruwa dilakukan.

Tradisi mendoakan orang yang sudah meninggal ataupun anggota keluarga lainnya yang disebut Aruwa, memang sudah menjadi sesuatu yang melekat bagi masyarakat Gorontalo. Tradisi ini bukan hanya sebatas tradisi biasa, tetapi punya makna yang sangat erat, khususnya dari segi spiritual dan agama.

Aruwa atau doa arwah dimulai dengan meletakkan makanan ataupun sesajen di atas meja atau di depan para tamu yang sudah diundang oleh keluarga yang sedang berduka. 

 Bapak H.Yamin Husain S.E saat ditemui wartawan untuk menceritakan secara singkat terkai tradisi Aruwa di Gorontalo ( Foto: Istimewa/Alwi Kakoe untuk Hargo)
Bapak H.Yamin Husain S.E saat ditemui wartawan untuk menceritakan secara singkat terkai tradisi Aruwa di Gorontalo ( Foto: Istimewa/Alwi Kakoe untuk Hargo)

Kemudian seorang imam atau Imam Da’a (Dalam Bahasa Gorontalo yakni pemuka agama), mulai membacakan doa dan memimpin doa arwah atau aruwa tersebut. Setelah doa telah dibacakan, maka seluruh makanan yang telah disajikan oleh keluarga yang sedang berduka akan dimakan secara bersama oleh seluruh anggota keluarga ataupun tamu yang sudah diundang.

Menurut H. Yamin Husain S.E salah seorang tokoh adat masyarakat di daerah Kecamatan Tapa, Bone Bolango menjelaskan, tradisi Doa Aruwa punya ciri khas ataupun makna tersendiri didalamnya. Dimana ada beberapa hal yang menjadi tanda duka cita bagi masyarakat Gorontalo itu sendiri.

“Tradisi doa aruwa diperingati pada hari-hari tertentu yakni di hari ke 3, 5, 7, 10, dan hari ke 20. Mereka yang hadir dalam doa tersebut mengenakan pakaian putih, yang menandakan bahwa masih suci dalam ingatan keluarga terhadap orang yang meninggal. Sedangkan, pada hari ke 30 dan 40, doa aruwa dilakukan dengan simbol pakaian warna biru langit. Artinya, sudah mulai menjauh dari ingatan keluarga, dan pada hari ke 100, 200 hingga hari ke 300, ditandai dengan pakaian warna hitam, yang artinya arwah yang sudah meninggal telah mulai diiklankan oleh keluarga, namun doa tetap terus dikirimkan oleh keluarga kepada yang meninggal,” jelasnya.

Selain simbol warna pakaian yang menjadi makna tersendiri dalam doa aruwa, tradisi doa aruwa juga dipercayai oleh masyarakat setempat dapat membawa keberkatan, ketenangan bagi keluarga yang sedang berduka.

“Tradisi doa arwah ini sendiri dipercaya masyarakat dapat membawa keberkahan dan ketenangan bagi keluarga yang sedang berduka, juga diharapkan melalui doa arwah ini, yang meninggal dunia dapat didoakan seluruh tamu yang pimpin oleh Pak Imam, agar mendapatkan tempat terbaik disisi Allah SWT,” terangnya.

Tradisi doa arwah ini sendiri telah menjadi sesuatu hal yang dijaga dengan erat di masyarakat, sebab pada doa arwah ini tersimpan makna yang cukup erat kaitannya dengan simbol ataupun suasana duka cita itu sendiri. Oleh karena itu, melalui tradisi Aruwa, diharapkan dapat senantiasa untuk terus mengirimkan doa bagi keluarga yang telah meninggal dunia. (alwi/ung/hargo)

BACA  Wagub Gorontalo: Rakerda Itu Perlu Untuk Refleksi Dan Evaluasi Kinerja Tahun Sebelumnya

Komentar