Kamis, 21 Januari 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Mengintip Fenomena Kuburan di Pekarangan Rumah: Hidup Mati Tetap Bersama

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo Headline , pada Selasa, 30 Mei 2017 | 11:14 WITA Tag: , ,
  


Wujud Kedekatan dan Cinta Kasih Keluarga

ZIARAH kubur, menjadi tradisi bagi sebagian masyarakat menjelang Ramadan atau hari raya Idul Fitri. Selain membersihkan makam, kegiatan itu dilakukan untuk mendoakan arwah keluarga dan leluhur yang sudah meninggal.

Tradisi ziarah kubur menjelang Ramadan atau hari raya Idul Fitri juga dilakukan masyarakat Gorontalo. Uniknya, ziarah kubur di Gorontalo tak perlu melangkah jauh-jauh. Apalagi harus mendaki bukit.

Ya, pekuburan di Gorontalo terbilang unik. Bila di daerah lain lokasi kuburan berada cukup jauh dari pemukiman di Gorontalo justru sebaliknya.

Lokasi pekuburan berada dekat dengan pemukiman. Bahkan banyak pekuburan ditempatkan di halaman rumah. Ada yang berada di depan, samping maupun belakang rumah.

Fenomena pekuburan di pekarangan rumah sudah berlangsung sejak lama dan turun temurun di kalangan masyarakat. Bahkan hingga kini cukup mudah menjumpai pekuburan di pekarangan rumah.

BACA  Diduga Habis Nyabu, Pria di Gorontalo Diamankan Polisi

Selain di pekarangan rumah, ada pula sebagian masyarakat Gorontalo yang menyiapkan lokasi khusus untuk pemakaman keluarga. Awalnya lokasinya agak jauh dari pemukiman. Namun seiring perkembangan daerah Gorontalo, lokasi pemakaman keluarga tersebut, sebagian sudah berada di tengah pemukiman.

Pemilihan pekarangan untuk menguburkan sanak/famili yang meninggal bukan tanpa alasan. Sebagian besar masyarakat Gorontalo berpandangan dan percaya bila anggota keluarga yang meninggal masih bersama-sama dengan anggota keluarga lainnya yang masih hidup.

Dalam artian, meski secara fisik tak lagi bersama, secara emosional hubungan antara anggota keluarga yang sudah meninggal dan yang masih hidup sangat dekat.

Warga Desa Tabumela, Kecamatan Tilango, Kabupaten Gorontalo Husin Mopangga mengemukakan, mengubur jenazah keluarga yang meninggal di pekarangan rumah telah menjadi kebiasaan masyarakat Gorontalo turun temurun. Salah satu alasan karena ingin merasa dekat dengan keluarga yang telah meninggal.

BACA  Ini Reaksi Keluarga Habibie-Sidiki Usai Menyimak Pernyataan Adhan Dambea

“Mereka ingin merasa dekat dengan almarhum dan almarhumah meski memang tidak secara langsung,” ujar Guru di SDN Buhu, Kecamatan Tibawa Kabupaten Gorontalo itu.

Keberadaan pekuburan di pekarangan rumah menjadi fenomena umum yang dijumpai di berbagai wilayah di Gorontalo. (F.Natha/Gorontalo Post)

Selain merasa dekat, pemilihan pekarangan untuk menguburkan jenasah anggota keluarga yang meninggal juga didasari oleh bentuk kecintaan terhadap anggota keluarga. Baik yang masih hidup maupun yang dengan keluarga.

“Biar lebih dekat dengan kami keluarga. Sehingga sewaktu-waktu bisa dikunjungi dan dibersihkan,” kata Yusuf, warga Sipatana, Kota Gorontalo.

Hal senada disampaikan Aminah, warga Kelurahan Tuladenggi, Kecamatan Dungingi, Kota Gorontalo. Menurutnya, pemilihan pekarangan untuk menguburkan jenazah merupakan bentuk ikatan yang kuat anggota keluarga. Ikatan tersebut terbangun baik semasa hidup maupun setelah meninggal.

“Dengan di pekarangan rumah, anggota keluarga yang masih hidup akan lebih mudah untuk membersihkan/merawat makam almarhum/almarhumah. Termasuk senantiasa mendoakan arwah untuk almarhum/armarhumah yang sudah meninggal,” tutur ibu rumah tangga itu.

BACA  Instruksi Presiden, Gubernur Yang Pertama Divaksin

Sementara itu Anggota Dewan Adat Provinsi Gorontalo Yamin Husain mengemukakan, di tengah geliat pembangunan dewasa ini, pekarangan rumah masih menjadi pilihan utama sebagian besar masyarakat Gorontalo untuk menguburkan jenazah handai tolan dan sanak famili yang meninggal. Hal itu dipengaruhi oleh kebiasaan turun temurun di masyarakat Gorontalo yang berlangsung sejak lama.

“Masyarakat Gorontalo memanfaatkan pekarangan rumah sebagai tempat pekuburan pribadi/keluarga karena dianggap sebagai wujud kedekatan,” ujar Yamin Husain.

Artinya, lanjut Yamin Husain, bentuk sayang dan cinta kepada anggota keluarga agar lebih dekat dengan keluarga yang ditinggalkan.

“Pilihan pekarangan rumah sebagai tempat pemakaman juga sebagai bentuk mengabadikan peninggalan bangunan rumah leluhur,” ungkap Yamin Husain.

Laman: 1 2


Komentar