Rabu, 23 Juni 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Mengintip Fenomena Kuburan di Pekarangan Rumah: Hidup Mati Tetap Bersama

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo Headline , pada Selasa, 30 Mei 2017 | 11:14 WITA Tag: , ,
  


Dahulu para orang tua mempertimbangkan pekarangan rumah sebagai pemakaman. Salah satu tujuannya agar generasi kedepan lebih mengingat dan menjaga jerih payah rumah yang dibuat para leluhur. Selain itu mereka tak menginginkan sisa peninggalan rumah yang dibuat hanya sebatas dihargai dengan materi.

Sehingga suatu ketika generasi berikutnya sangat mempertimbangkan rumah leluhur untuk dijual atau direnovasi.

BACA  Ketua BPK RI Minta Pemda di Indonesia Timur Belajar Pengelolaan Keuangan Dari Gorontalo

“Jadi dulu orang tua mau pertahankan rumahnya supaya kedepan cucunya itu bisa hargai sisa bangunan mereka. Nah mereka minta dikuburkan di pekarangan rumah supaya rumah tidak jual atau direnovasi. Ini bukan masalah uang tapi sejarah dan kisah rumah itu yang dianggap harus dipertahankan,” ujar Yamin.

Di sisi lain, pekarangan memiliki nilai penting bagi masyarakat Gorontalo. Pekarangan merupakan ruang interaksi antara anggota keluarga maupun kerabat serta tetangga.

BACA  Rp 5 Miliar Dana PEN di Kabupaten Gorontalo untuk ‘Sirkuit Sang Profesor’

Tradisi ‘mencari kutu’ yang dilakukan masyarakat Gorontalo beberapa waktu lalu, kerap dilaksanakan di halaman/pekarangan rumah. Dengan saling berbagi cerita, canda tawa, kaum perempuan berbaris sambil mengurai helai demi helai rambut.

Pekarangan rumah juga memiliki arti tanggung jawab dan kemandirian. Karena itu masyarakat Gorontalo memanfaatkan pekarangan untuk menanami dengan tumbuhan yang bermanfaat. Utamanya tanaman-tanaman yang berfungsi obat dan kosmetik alami.

BACA  Dreambox, Tempat Nongkrong Kekinian Berkonsep Mengenang Impian

Seperti alawahu (kunyit,red), timbualo (lengkuas). Menanam adalah usaha untuk tidak bergantung pada komoditas lain yang tak menentu harganya. Menanam adalah cara untuk bertanggungjawab pada kebutuhan diri sendiri, pada anggota keluarga, pada tetangga yang membutuhkan.(tr-45/csr/hargo)

Laman: 1 2


Komentar