Kamis, 15 April 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Menjaga Kesehatan Gigi Anak, Pentingnya Pengenalan Sejak Dini

Oleh Fajriansyach , dalam LifeStyle , pada Senin, 15 Mei 2017 | 08:32 WITA Tag: , ,
  


Hargo.co.id – Menjaga kesehatan gigi perlu ditanamkan sejak dini. Hal ini cukup berpengaruh pada tumbuh kembang anak.

Selain itu, si kecil perlu pembiasaan diri berinteraksi dengan dokter gigi agar tidak ada ketakutan psikologis di kemudian hari.

Phaksy Sukowati – Radar Surabaya

Seringkali anak-anak menyimpan rasa ketakutan yang berlebih saat berhadapan dengan penanganan dental atau gigi. Rasa sakit saat gigi tanggal ditambah paksaan orang tua untuk berobat, menambah tekanan psikis anak sehingga risih menjalani penanganan.

Dokter Spesialis Gigi Anak Rumah Sakit (RS) Adi Husada Undaan Wetan Surabaya drg. Yenny Kurniawati, Sp.KGA mengatakan, pengenalan permasalahan gigi anak-anak sebaiknya dilakukan mulai umur satu tahun.

BACA  Trend Busana Muslim Jelang Ramadan

Pasalnya, pada usia ini gigi anak sudah mulai tumbuh. “Gigi sulung atau gigi susu sudah tumbuh hampir merata,” ujar Yenny.

Caranya, orang tua bisa mengajak si anak untuk mengenal lingkungan dokter gigi. Mulai bertatap muka dengan dokter, perawat maupun suasana di dalam ruangan poli.

Anak-anak ini sendiri sifatnya lebih diajak untuk menjaga kesehatan gigi, atau pencegahan timbulnya gangguan di kemudian hari. Menurutnya, anak usia satu tahun juga dinilai sudah cukup matang dalam sisi motorik dan pemberian instruksi.

BACA  Usai Divaksin Covid-19, Ini 5 Hal yang Wajib Dilakukan Agar Tak Terinfeksi

Anak mulai diajarkan untuk membuka mulut tanpa ada paksaan. Selanjutnya, dokter akan memeriksa kondisi gigi secara berlahan kemudian dilakukan pembersihan mulut dan gigi.

Tidak perlu adanya tindakan yang menyakitkan gigi anak-anak. “Kalau tidak ada masalah, kita bersihkan saja dan kita bantu pencegahan agar tidak muncul gangguan kompleks gigi di kemudian hari,” jelasnya.

Lebih lanjut ia menerangkan, anak-anak bisa mulai diajari membuka mulut dengan rileks, serta dilakukan penanaman imajinasi tertentu. Tujuannya agar anak terbiasa memiliki kesadaran diri untuk merawat giginya.

“Kami harus komunikatif dan menyesuaikan imajinasi anak-anak. Misalnya, kalau nggak rajin gosok gigi, bisa keluar monster mulut (bakteri, Red) yang bikin gigi jadi bolong,” ujarnya.

BACA  7 Manfaat Ajaib Daun Pisang untuk Kesehatan

Yenny sendiri mengakui, mayoritas pasien yang datang untuk pengobatan atau pencabutan gigi berusia enam tahun ke atas. Artinya, masih banyak anak-anak datang pertama kali saat baru mengalami keluhan.

Pada usia tersebut memang merupakan masa transisi dari pergantian beberapa gigi sulung dengan gigi permanen.

“Kebanyakan untuk pencabutan gigi. Karena memang ada gigi yang bisa goyang dan lepas sendiri, ada yang perlu dilakukan pencabutan,” ujar alumnus Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga (Unair) itu.

Laman: 1 2


Komentar