Jumat, 30 Oktober 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Menlu Bertemu PBB Bahas Rohingya, Ini Hasil Pertemuannya

Oleh Aslan , dalam Kabar Dunia , pada Minggu, 3 September 2017 | 05:00 WITA Tag: ,
  


Hargo.co.id – Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Priansari Marsudi mengaku sudah bertemu dengan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Antonuo Guterres, terkait masalah etnis Rohingya, yang mendapat perlakuian keji yang diduga dilakukan oleh tentara Myanmar.

Retno mengaku, pertemuan tersebut pada Jumat (1/8) malam. Dalam pembicaraan itu Guterres mengapreasiasi Indonesia lantaran berperan dalam membantu etnis Rohingya tersebut.

Dalam pertemuan tersebut, juga dihasilkan bahwa PBB dan pemerintah Indonesia sekapat menyampaikan keprihatinannya dalam kasus etnis Rohingnya tersebut. “Sampaikan keprihatinan dengan situasi kemanusiaan saat ini,” katanya.

Selain itu, Retno juga menyampaikan seruan untuk menghentikan kekerasan terhadap etnis Rohingya tersebut. “Semua kekerasan harus dihentikan, proteksi harus diberikan kepada semua umat,” pungkasnya.

BACA  Badai Alex Mengamuk, Renggut Dua Nyawa, 20 Orang Hilang

Sekadar informasi, bentrokan Rohingya menjadi eskalasi terbaru dari kekerasan yang telah melanda Rakhine sejak Oktober lalu. Saat itu, militer Myanmar menuding Rohingya menyerang pos keamanan di perbatasan di Rakhine sehingga menewaskan sekitar sembilan polisi.

Dalam operasi balasan atas serangan tersebut, aparat keamanan Myanmar diduga menyiksa hingga membunuh warga Rohingya secara membabi-buta hingga menewaskan sedikitnya 80 orang dan memaksa sekitar 87 ribu Rohingya mengungsi ke luar Myanmar.

BACA  Menhan Austria Ungkap soal Rencana Prabowo Borong 15 Eurofighter

Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa juga telah memberi kesimpulan bahwa militer Myanmar melakukan penyiksaan hingga pemerkosaan terhadap warga Rohingya di sana.

Situasi di Rakhine kembali memburuk sekitar awal Agustus ketika tentara kembali memulai operasi yang mengakibatkan ketegangan bergeser ke kota Rathetaung, di mana masyarakat Buddha dan Rohingya tinggal berdampingan.

(cr2/JPC/hg)


Komentar