Jumat, 20 Mei 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Menpar Arief Yahya Berkalibrasi ke World Economic Forum

Oleh Berita Hargo , dalam Kabar Nusantara , pada Kamis, 22 September 2016 | 12:49 Tag: , ,
  

Wonderful Indonesia
Hargo.co.id GENEVA – Apa kita sudah baik pariwisatanya? Sebaik apa? Tetangga sebelah bisa lebih baik, lalu di mana ketidakbaikan pariwisata kita? Harus darimana membetulkannya? Pertanyaan-pertanyaan itu betul-betul berkecamuk di benak Menpar Arief Yahya.

Karena itulah dia datang ke markas World Economic Forum (WEF) di Geneva, Swiss untuk mendapatkan potret pariwisata Indonesia yang paling standard di level global, dengan ukuran-ukuran dunia dan melalui metode ukur yang paling dipercaya oleh lembaga internasional.

Istilah Arief Yahya adalah kalibrasi. Memotret keadaan yang sesungguhnya, dengan alat ukur, bahan ukur, satuan ukur, kriteria yang diakui atau standar dunia oleh lembaga yang kredibel dan dijadikan acuan internasional. WEF setiap dua tahun sekali mengeluarkan TTCI, Tour and Travel Competitiveness Index, dengan 14 pilar dan 92 indikator yang dihitung dan dirilis setiap 2 tahun sekali.

“Kalau kita ingin memenangkan persaingan global, maka sejak awal harus menggunakan standar global. Kalau ingin juara dunia, ya harus berani terbuka dan siap dibandingkan dengan semua negara yang sudah menggunakan ukuran dunia. Kita harus out word looking, melihat apa yang dilakukan dan sedang terjadi di luar sana. Biar tidak merasa paling jago di kandang sendiri,” ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya mengawali pertemuan dengan tim TTC-WEF itu.

Arief Yahya menyadari, target kunjungan 2019 dengan 20 juta itu bukan sulap bukan sihir. Dari penghasil devisa USD 10M menjadi USD 20M. Itu angka paling fantastic yang dipatok Presiden Joko Widodo, dan tidak ada pilihan kecuali harus dicapai dengan cara-cara professional.

“Hasil yang luar biasa, tidak bisa dicapai dengan cara-cara biasa! Hasil yang luar biasa, harus ditempuh dengan cara yang tidak biasa. Karena itu, sejak awal kami sudah mengadopsi 14 pilar WEF itu untuk memotret destinasi wisata Indonesia, termasuk 10 Bali Baru atau 10 top prioritas itu,” katanya.

Justin Wood, Head of Asia Pacific Region/Executive Board Member of WEF cukup terkesan dengan presentasi data dan angka Menpar itu.

Dia didampingi oleh timnya, Thierry Geiger, Associate Director, Economist, Global Benchmarking Network, Global Competitivesess and Risk WEF, Roberto Crotti, Quantitative Economist and Manager with the Global Competitiveness and Risk WEF, Oliver Hess, Community Specialist, Asia Pacific WEF.

Justin pun mengapresiasi semangat Menpar Arief Yahya yang menyebut target double di 2019 itu. Proyeksi yang mungkin dianggapnya superoptimis, bahkan kelewat pede untuk Indonesia yang selama ini tidak pernah menempatkan sector Pariwisata sebagai core economy. “Bagaimana caranya? Lima tahun itu bukan waktu yang panjang?” Tanya Justin Wood dengan nada “tidak percaya” dengan target itu.

Mulai dari CEO commitment, atau keseriusan Presiden Joko Widodo, menempatkan pariwisata sebagai sector prioritas, Melihat tren minyak dan gas bumi, batu bara dan minyak kelapa sawit terus menurun, baik karena harga dunia maupun angka produksinya.

“Pariwisata diproyeksikan menjadi penghasil devisa terbesar di 2019. Karena itu adalah janji presiden, maka tugas kami untuk merealisasikan dengan segala daya upaya,” kata Arief Yahya.

Dari sisi marketing, Menpar pun menggunakan semua big name dan punya reputasi global. Seperti Ogilvy sebagai konsultan PR-ing. Google, TripAdvisor, Baido, C-Trip, Xinhua, CCTV, CNN International, Discovery Channel, National Geography, Aljazeera, NHK, CNBC, Astro, dan semua media tempat perusahaan tour and travel terbesar dunia mempromosikan paket-paketnya.

“Semua yang terbaik, yang credible, yang punya international network, kami ambil. Termasuk TTCI-WEF yang menjadi barometer dan referensi para investor,” kata dia.

Dari kelembagaan dan regulasi, Menpar Arief menjelaskan salah satu pilar International Openess, yang sudah dilakukan Pemerintah RI. Yakni Bebas Visa Kunjungan (BVK) dari 15 negara, naik 45 negara, lalu 90 negara dan sekarang 169 negara sudah bebas berkunjung ke Indonesia tanpa mengurus Visa terlebih dahulu.

Juga soal Cabotage untuk cruise atau kapal pesiar berbendera asing boleh menaik turunkan penumpang di 5 pelabuhan di Indonesia. Satu lagi, peraturan CAIT di yacht atau perahu pesiar.

Selama ini, untuk izin yacht masuk ke perairan Indonesia harus melalui mekanisme izin yang lamanya tiga minggu. Aturan itu sudah disederhanakan, tinggal 3 jam. Dan, Kemenpar terus mendorong hingga menyamai Singapore, yang cukup dengan 1 jam saja.

Sedangkan, dari sisi destinasi, Menpar menjelaskan soal 10 Bali baru itu. Tanah Sullivan, Community Specialist Asia Pacific Business Engagement WEF menanyakan soal 10 Bali Baru itu. Menpar pun mengurut dari ujung utara barat sampai ke utara timur.

Danau Toba Sumatera Utara, Tanjung Kelayang Belitung, Tanjung Lesung Banten, Kepulauan Seribu Jakarta, Borobudur Jawa Tengah, Bromo Tengger Semeru Jawa Timur, Mandalika Lombok NTT, Komodo Labuan Bajo, NTT, Wakatobi Sultra, dan Morotai Maluku Utara.

(Visited 1 times, 1 visits today)

Laman: 1 2


Komentar