Kamis, 13 Mei 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Menpar Arief Yahya Sarankan Aceh Ikuti Standar GMTI

Oleh Fajriansyach , dalam Kabar Nusantara , pada Selasa, 20 September 2016 | 12:39 WITA Tag: , ,
  


Wonderful Indonesia
Hargo.co.id BANDA ACEH – Lalu langkah teknis apa yang harus dijalankan Aceh? Untuk mewujudkan mimpi menjadi destinasi wisata halal kelas dunia? Yang bisa mendownload devisa yang besar? Menyerap tenaga kerja dan mengikis angka pengangguran? Dan menaikkan PDB? “Jika ingin menjadi pemain dunia, gunakan standar global,” saran Menpar Arief Yahya di Rakor Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Aceh di Hotel Hermes, Banda Aceh, 19 September 2016 itu.

Teknisnya? Ikuti standar yang sudah dibuat secara universal oleh GMTI – Global Moslem Travel Index. Seperti halnya, Kemenpar selalu mengkalibrasi dengan standar World Tour and Travel Index (WTTI) yang dibuat oleh World Economic Forum (WEF) dengan 14 pilar itu.

“Standar global itu bisa membandingkan posisi kita, berada di mana? Diantara Negara-negara rival, seperti Malaysia, Singapore, Thailand, Turki, UAE, yang sukses dengan destinasi halalnya. Kelemahan dan kelebihan kita ada di mana? Kita bisa menentukan dengan cepat titik mana yang urgent disentuh? Dan bisa memenangkan pertarungan,” kata Arief Yahya yang menyebutkan saat ini Indonesia masih terbawah di antara negara-negara di atas.

BACA  Febri: Muka KPK Diselamatkan Mereka yang Tak Lulus TWK!

Arief Yahya mengungkapkan salah satu kelemahan, dan mungkin sekaligus kelebihan Aceh adalah halal itu sendiri.

Karena merasa semua makanan sudah dijamin 1000 persen halal? Prosesnya juga halal? Tempat dan fasilitasnya sudah otomatis halal? Maka stakeholder pariwisata di Aceh merasa sudah tidak perlu lagi mengurus sertifikat halal.

BACA  Puluhan Pegawai KPK Tak Lolos Tes Wawasan Kebangsaan, Novel Baswedan Bilang Begini

Toh semuanya sudah halal? “Nah ini yang salah kaprah! Meskipun sudah jelas-jelas halal, tetap dibutuhkan sertifikat halal tersebut, yang dikeluarkan oleh lembaga yang diakui global,” kata Arief Yahya.

Yang disertifikat itu, lanjut dia, juga bukan hanya makanan dan minuman saja. Tetapi “muslem friendly amenities”, seperti hotel, resto, café, dan semua yang terkait dengan wisman.

Dari 3A –Atraksi, Akses, Amenitas–, atraksi Aceh sangat kuat. Aceh lengkap dengan wisata alam (bahari, gunung, danau), wisata budaya (heritage, kuliner, seni dan budaya), dan wisata man made. Akses dan Amenitas, yang masih harus dikembangkan lagi,” kata dia.

Arief Yahya menyebut cara yang paling mudah dan cepat untuk memenangkan persaingan adalah benchmarking. Tidak asal membandingkan kasus demi kasus, yang hanya berujung pada polemik dan debat kusir.

BACA  Diduga Alami Blackout, KRI Nanggala-402 Terjebak di Lubuk Sedalam 700 Meter

Tetapi menggunakan standar global yang biasanya dilombakan setiap tahaunnya. “Quick win-nya, Aceh harus bisa memenangkan persaingan itu. Aceh harus bisa merebut award sebagai The World’s Best Halal Cultural Destination 2016, yang tahun lalu berhasil dimenangkan Lombok,” kata dia.

Apa tujuan paling fundamental dari pemenangan award internasional? Menpar Arief Yahya menyebut 3C. Pertama, Calibration, untuk menyesuaikan kualitas layanan yang dimiliki dengan standar dunia.

Apakah yang sudah dijalankan itu sudah memenuhi kriteria dan level dunia? Kedua, Confidence, award itu akan menaikkan confidence level atau membuat Aceh semakin pede dengan status juara dunia wisata halal.

Laman: 1 2


Komentar