Thursday, 29 July 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Menuju Kehidupan Normal, Inggris Cabut Kewajiban Masker dan Jaga Jarak

Oleh Tirta Gufrianto , dalam Kabar Dunia , pada Thursday, 8 July 2021 | 16:05 PM Tags: , ,
  Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson menegaskan bahwa lockdown tidak akan diperpanjang lagi. Lockdown akan berakhir sesuai jadwal, yaitu pada 19 Juli mendatang. (Dok. Detik)

Hargo.co.id, INGGRIS – Inggris segera normal kembali. Senin (5/7) Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson menegaskan bahwa lockdown tidak akan diperpanjang lagi. Lockdown akan berakhir sesuai jadwal, yaitu pada 19 Juli mendatang. Namun, keputusan final bakal dipaparkan pada 12 Juli setelah dilakukan peninjauan ulang atas situasi di lapangan.

”Jika kita tidak bisa membukanya dalam beberapa minggu ke depan, lalu kapan kita bisa melakukannya?” ujar Johnson dalam sesi konferensi pers seperti dikutip CNN.

Dia mengakui bahwa pandemi Covid-19 masih jauh dari kata berakhir. Pun demikian di Inggris. Saat ini angka penularan di negara yang dipimpin Ratu Elizabeth II itu memang masih merangkak naik. Johnson bahkan memperkirakan pada saat pencabutan lockdown, angka penularan harian berada di atas 50 ribu orang per hari. Namun, pemerintah meyakini bahwa vaksinasi bisa mengurangi pasien yang dirawat di rumah sakit dan angka kematian.

Saat ini 86 persen populasi penduduk dewasa di Inggris sudah menerima dosis pertama vaksin Covid-19. Lebih dari 63 persen sudah lengkap dua dosis. Di antara negara-negara besar, Inggris termasuk yang angka vaksinasinya tertinggi.

Beberapa pihak melabeli pencabutan lockdown itu dengan sebutan freedom day alias hari kebebasan. Sebab, penduduk tidak perlu lagi jaga jarak dan memakai masker. Kebijakan kerja dari rumah juga ditiadakan. Johnson menegaskan agar penduduk memiliki tanggung jawab pribadi untuk menjaga diri sendiri dan orang lain, tidak lagi bergantung pada kebijakan pemerintah.

Dalam paparannya kepada parlemen, menteri kesehatan Inggris juga memaparkan rencana jangka panjang agar penduduk hidup normal berdampingan dengan pandemi. Mulai 16 Agustus nanti, mereka yang sudah divaksin penuh tidak perlu melakukan isolasi jika kontak dengan orang yang positif. Itu berlaku bagi mereka yang berusia 18 tahun ke bawah. Program vaksin di Inggris belum sampai pada anak-anak dan remaja. Isolasi hanya berlaku bagi mereka yang terbukti positif tertular.

”Kita tidak bisa selamanya hidup di dunia di mana satu-satunya yang dipikirkan hanyalah tentang Covid-19,” ujar Javid, Selasa (6/7) seperti dikutip The Guardian. Masih ada penduduk yang memiliki masalah kesehatan lainnya. ”Ini saatnya untuk mengambil keuntungan dari perlindungan vaksin dan belajar hidup dengan virus,” tambahnya.

Sebelum Inggris, Amerika Serikat lebih dulu hidup ”normal” tanpa masker. Tapi, keputusan dua negara adidaya itu ditentang Badan Kesehatan Dunia (WHO). Pakar kedaruratan WHO Mike Ryan memperingatkan agar pemerintah negara tidak mencabut aturan pencegahan Covid-19 terlalu cepat. Negara yang melakukannya berisiko membayar mahal. Saat ini varian Delta yang berasal dari India masih menyebar dengan ganasnya. Sekitar 90 persen kasus di Inggris saat ini berasal dari varian Delta, sedangkan di AS baru mencapai 30 persen.

Dia memaparkan, di Benua Amerika masih ada satu juta kasus per pekan. Di Eropa sekitar setengah juta kasus per pekan. Penularan di Benua Afrika juga masih tinggi. ”Ini belum usai,” tegas Ryan seperti dikutip Al Jazeera.(jawapos/hargo)

 

 

 

*) Artikel ini telah tayang di JawaPos.com, dengan judul: “Menuju Kehidupan Normal, Inggris Cabut Kewajiban Masker dan Jaga Jarak“. Pada edisi Rabu, 07 Juli 2021.
(Visited 7 times, 1 visits today)

Komentar