Minggu, 22 November 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Menyusuri Desa Saritani, Sebuah “Kota yang Hilang

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo Metropolis , pada Selasa, 13 Maret 2018 | 13:44 WITA Tag: , ,
  


Hargo.co.id– Saritani, adalah nama sebuah desa di wilayah Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo. Desa terujung di bagian Barat Daya dari kecamatan yang dihuni lima suku. Desa Saritani, juga menjadi desa yang terjauh jangkauannya dari pusat kecamatan. Dari kantor camat, butuh waktu lebih dari satu jam untuk menjangkau desa ini.

Jaraknya memang hanya 30 kilometer dari titik Kantor Camat Wonosari, tetapi lebih dari separuh perjalanan, atau diperkirakan 16 kilometer, jalur yang harus ditempuh adalah medan berat, dengan tekstur jalur dipenuhi becek.

Belum lagi topografi pegunungan yang membuat pengemudi yang melintasi jalur ini, utamanya yang baru pertama kali, harus konsisten pada gear 1 jika tidak ingin terpeleset.Sekedar diketahui, pusat pemerintahan kecamatan Wonosari berada di Desa Bongo II. Dari desa ini, masih harus melewati dua desa lagi, yaitu Desa Suka Mulya, dan Desa Pangeya, barulah bisa sampai di Desa Saritani.

Desa Saritani sendiri merupakan pemekaran dari Desa Pangeya yang pada tahun 2003 resmi berdiri secara definitif. Jika anda bertanya kepada orang orang, utamanya warga Kabupaten Boalemo soal Desa Saritani, maka sebagian besar akan menjawab bahwa desa tersebut adalah desa pelosok dengan akses menantang dan tentang bukit penyesalan.

Belum banyak yang tahu, jika desa ini menyimpan sejumlah fakta unik. Sabtu siang (10/3), teriknya matahari dan kepulan debu mengiringi perjalanan awak koran ini ke Desa Saritani. Sebelumnya sempat beredar postingan via facebook yang mengeluhkan akses ke Saritani yang disinyalir mulai terbengkalai dari perhatian pemerintah.

Ternyata benar. Sepanjang perjalanan, akan ditemukan banyak kubangan lumpur dan becek pada badan jalan. Padahal, jalan tersebut menjadi satu satunya penghubung antara Saritani dengan desa desa lainnya di Kecamatan Wonosari.

Ada satu hal langka yang akan ditemui sepanjang perjalanan, dan jarang kita temui saat menyusuri akses pelosok lainnya, yaitu kepingan-kepingan kecil karet ban mobil yang terkelupas saat melintasi jalan. Entah karena beban kendaraan yang terlalu berat atau tekstur jalannya yang terlalu kasar.

BACA  Perempuan dan Anak di Gorontalo Terima Bantuan dari Kementerian PPPA

Akses yang buruk, mulai menghampar saat kita memasuki wilayah Desa Pangeya. Dari sini pula, akan mulai menemui serpihan serpihan karet yang berasal dari ban mobil yang terkelupas.Jika mau hitung hitungan ekonomi, buat apa mengorbankan ban mobil utamanya truk, yang harganya menghampiri Rp 1 juta per buah, hanya untuk menuju akses pelosok seperti Desa Saritani?

Sementara jika melihat banyaknya serpihan karet ban dan bentuknya, diyakini tidak hanya berasal dari satu atau dua mobil saja, tetapi lebih, entah berapa. Hamparan pegunungan yang notabene telah beralih peran sebagai lahan jagung, menjadi pemandangan selama menyusuri jalur sambil menikmati guncangan pada kendaraan.

Wilayah desa Pangeya dengan Desa Saritani sendiri, dibatasi oleh sebuah spot yang cukup fenomenal di internal masyarakat Boalemo. Namanya “Bukit Penyesalan”. Sebuah tanjakan sepanjang kurang lebih 2 kilometer. Konon, siapa pun yang berada di punggung bukit akan menyesal, antara pulang dan meneruskan perjalanan. Tentu karena resiko bahaya yang menanti.

Tetapi sejak tahun 2014, akses bukit penyesalan sudah dipangkas kemiringannya. Saat itu Boalemo masih dipimpin mantan Bupati Rum Pagau. Akses yang baru di bukit penyesalan ini dibuat melingkari lewat sisi utara akses yang lama. Meskipun kemiringannya berkurang sekitar 15 sampai 20 meter, namun sensasi “penyesalannya” masih sedikit terasa. Karena kondisi jalur yang masih sangat kasar.

Dari sini kita mulai memasuki wilayah desa Saritani. Lalu apa yang menarik dari desa ini ? Jika aksesnya saja sangat memprihatinkan ? Dan mengapa cukup banyak kendaraan, besar dan kecil yang datang ke desa pelosok ini? Pertanyaan ini akan terjawab sendiri saat kita memasuki pusat desa.

Setelah kurang lebih 5 sampai 6 kilometer dari puncak penyesalan, maka jalur Aspal akan menyapa. Dari sinilah perubahan drastis tampilan suasana akan terlihat.Sebut saja, usaha-usaha toko milik warga, perbengkelan yang lengkap dengan pusat penjualan onderdil kendaraan, hingga usaha pencucian mobil, terhampar diantara hamparan sawah-sawah subur. Rumah rumah milik warga di sini, juga tidak kalah desain dengan rumah-rumah di perkotaan.

BACA  Penerapan Protokol Kesehatan di PDAM Kabgor Cukup Ketat

Bahkan boleh dikata, ada beberapa rumah mewah yang berdiri megah dengan pagar dan gapura. Kesannya seperti menemukan “Kota yang Hilang”.Semakin mendekati kantor Desa, suasana akan semakin terasa bersahabat. Ada sekolah, Puskesmas dan yang tidak kalah apik, adalah kantor desa Saritani yang memiliki alun-alun mini sekaligus lapangan volly ball.

Dari tampilannya saja, kesan bahwa ini adalah desa mandiri yang sejahtera mulai muncul. Pantas jika banyak kendaraan yang rela mengorbankan ban mobil untuk bisa menjangkau desa ini. Sekretaris Desa Saritani, Wahyudin Akase, menyambut kedatangan awak koran ini di ruangannya. Orangnya terlihat enerjik.

Mungkin karena usianya yang juga masih muda. Baru dua bulan terakhir Wahyudin menjabat posisi orang kedua sekaligus kepala administrator di Desa Saritani. “Di sini juga ada pasar tradisional mingguan yang selalu membludak setiap hari rabu. Pengunjungnya ada yang berasal dari desa sekitar, bahkan ada yang dari luar daerah,” kata Wahyudin.

Fakta unik lagi yang dituturkan Wahyudin, adalah terkait rumah-rumah megah milik warga setempat. “Orang sini, kalau dapa doi, langsung kase bae rumah, alasan mereka supaya desa menjadi indah dan orang tidak akan anggap enteng,” ujarnya. Boleh juga motivasinya. Sebuah landasan primordialisme yang membangun.

Karena desa saritani adalah desa terujung, yang lokasinya berjauhan dan terpencil dari desa desa lainnya, maka aktivitas ekonomi warga Saritani juga terpusat di desa itu sendiri. Pantas saja jika aura ekonominya sangat terlihat. Di desa Saritani sendiri terdapat enam pengusaha jagung yang sangat peduli dengan perekonomian desa.

“Jika kita kalkulasi, dalam enam bulan saja ada sekitar Rp 6 Miliar perputaran uang di Desa Saritani, dari berbagai aktivitas ekonomi seperti pasar, pertanian dan usaha lainnya,” terang Wahyudin. Luar biasa dan semakin kuat alasan mengapa pemilik mobil rela merusak ban mobil mereka untuk menuju desa ini.

BACA  Terjaring Operasi Yustisi, Warga Diminta Patuh Protokol Kesehatan

Sebuah desa pelosok yang sangat terpencil dengan perputaran uang kurang lebih Rp 6 Miliar per enam bulan, berarti rata rata dalam setahun ada Rp 12 miliar uang yang berputar di Desa Saritani. “Tetapi itu bukan berarti kami tidak menginginkan terbukanya akses, bahkan sebaliknya, sudah hampir parau suara kami meneriakkan perbaikan akses,” ujarnya.

Fakta unik lainnya seputar Saritani, bahwa desa ini memiliki jumlah penduduk yang lumayan banyak, dengan luas wilayah yang juga lumayan besar. “Jumlah penduduk Saritani yang tercatat sampai saat ini adalah 4.925 jiwa atau 1347 KK. Di dalamnya ada warga transmigran dari jawa dan warga lokal. Itu baru yang tercatat, karena banyak juga yang datang, pulang-pergi di desa ini. Sementara luas wilayah, Saritani adalah 120.000 kilometer bujur sangkar.

Dengan luasan itu, Desa Saritani saat ini memiliki 25 Dusun,” terangnya.Waw.,,!! Inilah desa dengan jumlah dusun terbanyak di Provinsi Gorontalo. Sebenarnya, sejak 2013 silam, desa saritani rencananya akan dimekarkan. Di sini ada sebuah desa administratif, yakni desa Persiapan Tamilo, namun setahun terakhir, desa persiapan Tamilo kembali hening sehingga Saritani kembali mengambil alih seutuhnya wilayah dan administrasi desa persiapan Tamilo.

Namun sampai saat ini, belum ada tanda tanda apakah desa persiapan Tamilo akan bisa definitif sehingga rentang kendali di Saritani akan lebih terjangkau.”Kita menunggu saja kinerja dan kebijakan lebih lanjut dari pemerintah daerah, soal pemekaran desa ini,” kata Wahyudin.

Seperti diketahui, wilayah Desa Saritani juga merupakan salah satu ruang masuk menuju kawasan hutan Nantu sehingga potensial dikembangkan sebagai lokasi pariwisata. “Tetapi kebutuhan mendesak kami saat ini adalah perbaikan akses,” tandas Wahyudin.(Gip/hg)


Komentar