Kamis, 7 Juli 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Merokok Jadi Juara Faktor Risiko Penyakit Kardiovaskular

Oleh Berita Hargo , dalam LifeStyle , pada Kamis, 23 Februari 2017 | 10:05 Tag: , ,
  

Hargo.co.id- Slogan “Merokok Membunuhmu” nampaknya belum bisa mengubah kebiasaan berbahaya ini di masyarakat. Terbukti dari lima faktor risiko penyakit kardiovaskular seperti Penyakit Jantung Koroner (PJK) dan stroke, merokok menjadi penyebab utama. Data ini terlihat dari riwayat pasien PJK yang datang ke Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita.

“Pasien di sini yang dipasang ring, rata-rata punya riwayat faktor risiko nomor satu itu perokok 60 persen. Kemudian adalah hipertensi, baru yang terakhir diabetes,” tegas Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, dr. Ade Meidian Ambari, SpJP, Rabu (22/2).

Karena itu pihaknya bersama Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta membentuk Tim Ketuk Pintu Layani dengan Hati yang langsung mengedukasi masyarakat soal bahayanya faktor risiko penyakit kardiovaskular. Tim ini akan mengumpulkan data klinis dan sosiologi. Ade yang juga merupakan Ketua Pelaksana Tim Pembekalan Muatan Kardiovaskular pada Tim Ketuk Pintu Layanan dengan Hati, mengatakan program ini baru bisa dilihat pengaruhnya dalam jangka panjang.

“Kita mau titipkan pada tim ini, mereka survei cari populasi dengan faktor risiko tinggi ke rumah-rumah. Kalau sudah ketemu faktor risikonya, kita obati dan cegah itu. Nanti puluhan tahun  baru kelihatan penurunan angkanya,” ungkap Ade.

Tim tersebut bekerjasama dengan Puskesmas, dokter umum, perawar dan bidan. Mereka berperan memberikan pembekalan seputar risiko penyakit kardiovaskular.

“Bagaimana menghitung risiko seseorang, apa sih faktor risikonya. Dan tantangannya juga faktor pendidikan. Misalnya membuat masyarakat mau berhenti merokok. Di Finlandia 90 persen sarjana dan bisa menurunkan angka penyakit jantung. Di Indonesia tingkat pendidikannya di bawah itu, tentu tidak mudah,” kata Ade.

Ade mengklaim program ini akan terus berkelanjutan. Pihaknya juga akan melakukan kesepakatan dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam waktu dekat. Masyarakat nantinya juga dapat bertanya langsung kepada tenaga medis seputar penyakit kardiovaskular dengan memanfaatkan teknologi internet.

“Dulu sebetulnya kita sudah ada program Jakarta Kardiovaskular Study tahun 90an di 3 kecamatan. Namun ini terhenti karena tak ada dana. Saat ini mau kita hidupkan lagi. Masyarakat bisa langsung konseling salah satunya soal rokok misalnya, untuk menurunkan faktor risiko penyakit kardiovaskular,” tegas Ade. (cr1/JPG/hg)

(Visited 3 times, 1 visits today)

Komentar