Rabu, 25 Mei 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Meski Tak Ada Pembatasan, Pendapatan Pedagang Tetap Minim

Oleh Admin Hargo , dalam Ekonomi , pada Jumat, 8 April 2022 | 18:05 Tag: ,
  Pipit salah satu pedagang rempah di Pasar Sentral yang pendapatannya merosot, meski PPKM dan PSBB tak diberlakukan lagi. (Foto:Jamiah Bolota/untuk HARGO)

Hargo.co.id, GORONTALO – Muslim di Gorontalo sangat antusias menyambut Ramadan 1443 Hijriah. Hal ini tak lain karena Ramadan kali ini, pembatasan aktivitas warga tidak diperketat seperti tahun-tahun sebelumnya.

Dimana, kita ketahui bersama pada tahun 2020 dan 2021 silam, pemerintah menerbitkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Kebijakan itu diambil guna mengurai penyebaran Covid-19 di daerah. Disisi lain, keputusan pemerintah untuk membatasi ruang gerak warga berdampak pada lumpuhnya perekonomian warga yang berujung pada turunnya pendapatan warga.

Tak hanya saat PSBB dan PPKM diterapkan, pendapatan rakyat tetap mengalami goncangan meski pandemi telah diubah statusnya diubah menjadi endemi. Buktinya, pendapatan para pedagang saat ini menurun sangat drastis.

Seperti yang disampaikan Pipit (40), pedagang rempah di Pasar Sentral. Diungkapkan Pipit,      penghasilan yang biasanya per hari Rp 300 ribu menurun hingga Rp 200 ribu.

“Ketika PSBB dicabut penghasilan pun masih tetap menurun. Faktor penurunan penghasilan tersebut bukan hanya pada kurangnya pembeli, tapi naiknya harga bahan pokok. Harapan saya semoga keadaan bisa normal kembali agar penghasilan kami bisa seperti semula,” tutur Pipit.

Penyebab lain, lanjut Pipit, menjamurnya pasar dadakan di sejumlah titik di Kota Gorontalo. Hal itu, kata Pipit, adalah hal yang lumrah. Hanya saja, kata dia, alangkah baiknya bisa diarahkan pemerintah ke pasar.

Senada dengan Pipit, Udin (47) pedagang lainnya mengemukakan, pendapatannya tak kunjung membaik meski pemerintah tidak lagi memberlakukan pembatasan aktivitas masyarakat gegara pandemi. 

  “Penghasilan perhari sebelum PSBB dan PPKM memang Rp 5 Juta, itu masih penghasilan kotor, kalau penghasilan bersihnya Rp 300 Setelah PPKM tidak lagi diperketat, pendapatan saya tetap sama seperti saat PPKM diperketat, bahkan untuk menghasilkan Rp 100 cukup sulit,” ucap Udin. 

Tak hanya Udin dan Pipit, pedagang lainnya yakni Isra (37) juga mengaku pendapatannya tetap merosot meski tak ada lagi PPKM. “Pendapatan perhari sebelum PPKM itu bisa Rp15 Juta, bahkan sampai Rp 20 Juta, itu masih termasuk penghasilan kotor, kalau penghasilan bersihnya hanya Rp1 juta. Jumlah penghasilan itu tetap saja sama, ketika PPKM tidak diperketat,” tutur Isra. (***)

 

Penulis : Jamiah Bolota *

*) Penulis adalah mahasiswa magang dari UNG

(Visited 45 times, 1 visits today)

Komentar