Sabtu, 11 Juli 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



‘Mo Luhuta Pitara’ dan Tradisi Tumbilotohe

Oleh Aslan , dalam Gorontalo Headline , pada Senin, 11 Juni 2018 | 17:00 WITA Tag: ,
  


GORONTALO, Hargo.co.id – Gorontalo patut berbangga, karena memiliki tradisi unik jelang Idul Fitri, yakni tumbilotohe. Makna dari tradisi ini tak sekadar malam pasang lampu, namun membantu masyarakat Gorontalo ke masjid beribada di hari-hari terakhir ramadan dan menunaikan zakat fitrah. Zaman dulu, lampu di pasang di teras rumah.

Jumlah lampu sesuai dengan jumlah penghuni rumah, yang menjadi petanda jumlah jiwa wajib zakat ftirah. Bagi masyarakat Gorontalo, tradisi ini juga dikenal dengan Mo Luhuta Pitara atau Mo He’Upa Pitara yang sama-sama memiliki pengertian membayar zakat fitra pada malam tumbilatohe.

Tokoh agama yang juga Qadi Kota Gorontalo Kh. Abdul Rasyid Kamaru menjelaskan, kata ‘Moluhuta Pitara’ dalam bahasa Gorontalo artinya adalah tradisi atau kebiasaan membayar zakat dengan memegang dan mencium beras. Ada pula yang membahasakan dengan ‘Mo He’upa Pitara’, yakni kebiasaan membayar zakat bagi warga Gorontalo saat bulan Ramadan dengan mencium beras ketika saat memberikan zakat fitrah kepada sang penerima zakat.

BACA  Realokasi Beasiswa Kembali Dipertanyakan, Gubernur : Itu Instruksi Pemerintah Pusat

Menurut Kh. Abdul Rasyid Kamaru, maksud dari memegang dan mencuim beras tersebut karena beras adalah makanan pokok yang dikonsumsi oleh pemberi zakat, dengan tujuan untuk supaya orang tersebut memperoleh barokah dari membayar zakat tersebut.

Lebih lanjut Kh. Abdul Rasyid Kamaru, kebiasaan masyarakat Gorontalo harus membayar zakat pada malam tanggal 27 Ramadan atau saat malam tradisi tumbilotohe, karena bisa saja pada malam itu setiap orang ingin mendapatkan keberkahan dari malam lailatul qadar.

“Akan tetapi tradisi ini bukan hanya suatu anjuran agama yang harus di laksanakan, bisa juga membayar zakat itu dengan nilai uang yang kita gunakan sehari-hari tanpa harus menggunakan beras”, jelas KH. Abdul Rasyid Kamaru.

BACA  Baksos NKRI Peduli Rambah Sembilan Kecamatan

Hanya saja, dalam beberapa tahun terakhir, tradisi tumbilotohe dinilai mulai bergeser dari kebiasaan awal. Sebelumnya, tumbilotohe hanya dipasang di depan rumah dengan menggunakan lampu tradisional atau lampu padamala, jumlah lampu minimal jumlah jiwa yang ada di dalam rumah. Lampu ini juga berfungsi sebagai penerang bagi masyarakat yang hendak ke masjid untuk tarawih atau untuk membayar zakat fitrah.

Seiring perkembang zaman, tumbilotohe juga makin moderen. Bukan lagi lampu padamala, atau lampu botol dengan bahan bakar minyak tanah. Tapi kini sudah menggunakan lampu hias listrik warna-warni. Bukan pula hanya di letakkan di depan rumah, tapi untuk menerangi jalan-jalan teretentu, lapangan dan tempat-tempat yang menjadi pusat perayaan tumbilotohe.

Tradisi ini juga sudah dikemas dalam bentuk festival. Memang jika dilihat dengan mata, sangat menarik, apalagi ada kelap-kelip lampu dengan jumlah banyak dalam satu lokasi.

BACA  SH Dicopot, Yakop Musa Ditunjuk Plh. Sekda Boalemo

“Makna dari tumbilotohe dizaman dahulu adalah untuk menerangi masjid dan menyambut para pengumpul zakat fitrah dirumah masyarakat, karena hanya dengan jumlah lampu yang dipasang adalah pemilik rumah menandakan berapa orang penghuni rumah yang wajib memberikan zakat fitrah,” ungkap AW Lihu selaku Bate Limboto.

Memang kata AW Lihu, perkembangan zaman yang semakin canggih tentunya juga berimbas pada tumbilotohe yang sekarang lebih banyak dan semarak dengan lampu listrik warna warni, “Tetapi tentunya kita juga jangan meninggalkan budaya dan tradisi yang sudah ada sejak dahulu dan seharusnya lebih dilestarikan budaya tumbilotohe dengan lampu botol dan bukan lampu dari listrik,” tandas AW Lihu. (gp/hg)


Komentar